Hanya butuh satu hari untuk membuat si gadis China kembali ceria, masuk kelas dengan senyum lebar memikat. Bergaul bersama teman-temannya yang kian hari kian membeludak. Bertingkah layaknya gadis biasa.
Untuk saat ini, gadis itu tinggal bersama Yamazaki Umi di rumahnya yang cukup besar. Akan tetapi, ia sendiri mengaku akan mencoba mencari apartemen sendiri di waktu yang akan datang, mulai bekerja di salah satu café dekat pusat kota yang mau menerimanya, ingin hidup lebih mandiri.
Yah… Memang tidak heran, sih…
Semua bisnis pasti butuh modal iklan dan maskot yang memiliki daya pikat tinggi seperti Fei.
Bahkan jika gadis SMP sepertinya diterima menjadi salah satu pegawai di hotel bintang lima Shangri-La Tokyo, aku tidak akan kaget.
Sambil dikerubungi anak-anak di depan pintu masuk kelas, diam-diam Fei Xiang melirik kepadaku yang melamun menatap langit diluar jendela. Duduk paling pojok belakang, dipapar langsung oleh cahaya matahari pagi yang hangat.
Ia melihatku cukup lama—entah apa yang ia pikirkan. Hendak melangkah mendekat—tetapi tiba-tiba berhenti. Tertegun sendiri seolah mengingat sesuatu yang buruk. Kenangan pahit dimana aku mengusirnya dengan keras karena baru saja mengganggu.
Kau menggangguku, tahu?—Sebuah kalimat yang tajam terdengar lagi di telinganya. Berdengung kencang.
Demi mengingat kenangan itu, Fei Xiang tidak jadi menghampiri, berbalik badan pelan-pelan sambil ditatap banyak orang yang bingung apa gerangan yang baru saja dilakukannya, kemudian tersenyum tipis penuh misteri diantara anak rambut hitam indah, bergumam lirih yang hanya ia sendiri yang dengar.
“Terima kasih banyak…”
“… Togashi-kun”
Mengetahui si gadis China sudah menjauh, kembali ke bangkunya, aku menghela nafas pelan, bersyukur di hati dalam diam, menyiapkan buku materi yang hendak dipakai saat pelajaran, menatap lurus ke depan—dengan datar tentunya. Berujar pelan.
“Baguslah…”
“…Dengan begini… Aku tidak akan kerepotan lagi…”
***
Kurasa baru saja pulang sekolah ponselku berdering kencang melalui suatu nada yang tidak asing. Nada yang sangat berisik, tentunya. Mengerti jelas siapa yang sedang menelepon, aku sengaja tidak mengangkatnya hingga tiga kali berturut-turut, menjambak rambut sendiri, menyesal mengapa dahulu aku sempat membuat perjanjian dengan si detektif gadungan itu, berbicara ketus sambil menjawab panggilan.
“Hoi, aku baru saja selesai sekolah, bodoh”
Tetapi bodohnya aku karena lupa menyadari bahwa lelaki di seberang telepon ini sudah kebal dengan yang namanya umpatan, tidak lagi memiliki harga diri dan rasa malu di hadapanku, merengek-rengek.
“… Togashi-kun… Huhuhu… Tolong aku… Aku butuh bantuanmu sekarang…!”
Aku menghela nafas pelan.
“Apakah kau tidak mendengar apa yang baru saja kukatakan?”
Lelaki di seberang yang bernama Naomi Haguro menyahut.
“Aku mendengar, Togashi-kun… Tapi…--“
“—Tidak ada ‘tapi-tapian’—sampai jumpa kembali…”
“Tunggu! Jangan salah paham, Togashi-kun! Kali ini aku tidak datang membawa masalah—Sungguh!”
Aku menyelidik. Sama sekali tidak percaya.