Gadis itu sejenak gemetar bahunya, untuk suatu alasan terlihat seperti ketakutan saat aku berbicara. Namun, karena mungkin gadis itu sudah mulai terbiasa dengan sikapku, ia akhirnya menjawab dengan senyuman tipis.
"Ah, benar juga~! Aku lupa, deh...~!"
Sungguh suatu sikap ceroboh yang segera mengundang jepretan beberapa ponsel dalam satu detik sekaligus. Terunggah ke berbagai platform media sosial, viral seketika. Judulnya: 'Pelayan Bidadari Yang Ceroboh di Hotel Shangri-La'.
Aku bertanya heran.
"Apa yang kau lakukan dengan seragam itu? Katamu kau kerja di sebuah café dekat sini?"
Fei Xiang menjelaskan dengan Bahasa jepang fashih meski kenegaraannya adalah Tiangkok.
"Awalnya memang begitu, sih... Tetapi salah satu temanku di café hari ini tiba-tiba memintaku menggantikan shift-nya di hotel Shangri-La karena ia sedang ada urusan...--akhirnya aku kemari dan bertemu denganmu~!"
Aku tidak tahu itu alasan yang sungguhan atau dibuat- buat. Namun karena sudah terlalu malas untuk memverifikasi hal tersebut, aku kembali fokus ke hidangan Foie Gras-ku yang sudah mau habis. Mengabaikan gadis yang berdiri di sebelah.
Hanya saja, beberapa tamu yang hadir di restoran itu tidak bisa menahan rasa penasarannya untuk menghampiri si gadis China. Bangkit dari kursi, membungkuk hormat pada pelayan baru yang umurnya masih SMP itu.
"Selamat malam, Onee-san! Sepertinya anda pelayan baru di restoran kami...? Jika berkenan, siapa nama anda?"
Yang pertama kali mengajukan diri justru adalah seorang bocah kecil seusia SD yang mengenakan setelan jas hitam rapi. Rambutnya pirang dengan bola mata biru—mungkin blasteran dari eropa. Dua pengawal dengan pistol yang samar-samar kuidentifikasi dibalik jas berdiri tegap di belakangnya, ikut membungkuk saat si bocah membungkuk.
Fei Xiang yang tidak menyangka dirinya akan diperlakukan demikian oleh salah satu tamu jadi salah tingkah. Menjawab patah-patah.
"Er... Sebenarnya, saya bukan pelayan disini, lho? Saya hanya menggantikan teman saya, Chia, yang kebetulan hari ini ada keperluan dan meminta bantuan saya..."
Lalu menyadari sesuatu.
"Um... Maaf... Apa maksud anda dengan mengatakan 'restoran kami'?",
Si bocah lelaki memiringkan wajahnya.
"Oh, kau tidak tahu?",
Fei Xiang menggeleng.
"Aku adalah Kanzaki Ren. Pewaris utama hotel Shangri-La beberapa bulan lalu."
Meledak sudah semua tamu yang ada di restoran malam itu.
Terperanjat hebat.
"Ka—Kanzaki Ren?!",
"Anak dari keluarga besar konglomerat itu?!!",
"Yang benar?!!",
Lalu kini gantian si bocah yang dikepung orang-orang. Disalam-salami secara bergantian. Sementara dua pengawal yang tadi berada di belakangnya tidak mampu menghalau. Kesulitan.
"Kanzaki-kun, bolehkah kami minta nomor ponselmu?!",
"Kami undang juga makan malam di tempat lain!!",
"Perusahaan kami memiliki tawaran kontrak bisnis yang di masa depan pasti akan menguntungkan anda!!",
Melihat perubahan itu Fei Xiang hanya tertawa kecil, mundur dari kerumunan yang semakin ramai—pengunjung yang berada di lantai bawah ternyata ikut mengetahui apa yang sedang terjadi, memutuskan bergabung setelah menaiki lift di sebelah selatan bangunan.
Kini si bocah kewalahan menghadapi puluhan tamu yang mengerubungi dirnya.
Akan tetapi yang menghampiri gadis tersebut masih ada.
Kini seorang lelaki muda tampan dengan sebuah kamera tergantung di dadanya memperkenalkan diri, membungkuk hormat pada Fei. Berkata.
"Perkenalkan, nona. Saya Kanzaki Kotoko, fotografer sekaligus pimpinan promosi dan iklan asosiasi bisnis keluarga Kanzaki. Jika nona bersedia, apakah nona mau bergabung dengan kami untuk menjadi model utama bisnis keluarga Kanzaki?"
Sikapnya sangat santun sekali.
Suaranya juga lembut dan tidak memaksa.
Mungkin Fei akan terpesona dengannya.
Aku mendadak menghentikan Gerakan pisau di tangan.
Mengernyitkan dahi.
Kanzaki...
...Kotoko?
Jangan bilang... lelaki ini adalah kakak dari bocah pewaris utama disana?
Membungkuk hormat sambil menurunkan nampan perak yang dibawanya, Fei Xiang menolak dengan anggun yang dipaksakan.
"Mo... Mohon maaf...! Tetapi nampaknya gadis seperti saya tidak akan cocok untuk menjadi model bisnis keluarga anda, Kotoko-san...!",
Aku sebenarnya agak kaget mendengar jawabannya yang seperti itu.
Fei, kau butuh uang banyak untuk segera hidup mandiri, bukan?
Model bisnis perusahaan itu bayarannya tinggi, tahu.
"Ah, jadi begitu... Ya...?"
Lelaki bernama Kotoko menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Tidak ingin memaksakan kehendaknya, mengeluarkan selembar kartu nama mengkilap biru yang berisi nomor telepon, nama lengkap dan lokasi perkantoran yang ia tinggali.
Berkata.
"Jika memang itu keputusan nona, saya tidak akan melanjutkan penawaran saya lebih jauh... Hanya saja, apabila nona berubah pikiran, kami akan dengan senang hati menerima nona tanpa audisi sedikitpun."