“Wo--Woi, Togashi-kun… Katakan sesuatu supaya mereka semakin pada anak SMP sepertimu. Sepertinya mereka tidak percaya begitu saja bahwa ini adalah kasus pembunuhan,” bisik Naomi Haguro, pelan.
Ia tampak gelisah melihatku hanya diam membisu, berkeliling mengeksplorasi tempat kejadian perkara secara mandiri sementara beberapa pasang mata di ruangan itu menatapku dengan selidik. Keluarga korban, yang masih terguncang atas kematian Ren, perlahan-lahan mulai mengarahkan tuduhan dalam benak yang belum mampu berpikir normal.
Aku mengembuskan napas pendek.
Mau tak mau, aku harus meyakinkan orang-orang bahwa aku bukan bocah remaja yang sedang membual. Melangkah menghampiri tiga pria yang tadinya duduk di meja nomor sepuluh.
Menatap mereka tanpa berkedip, aku langsung bertanya, “Kalian bertiga…” Suaraku kutahan. “… Apakah percaya padaku bahwa ini adalah kasus pembunuhan?”
Kanzaki Kotoko, saudaranya, dan Dokter Takagi saling pandang dalam keheningan.
Beberapa detik berlalu sebelum Kotoko-san membetulkan letak kacamatanya. Mengaku.
“Keluarga Kanzaki memang kerap mendapatkan ancaman dari rival-rival bisnis. Namun, sejauh yang kuketahui, tak pernah ada musuh yang nekat bertindak sejauh ini—merencanakan pembunuhan terhadap seorang pewaris utama. Ini terlalu berlebihan.”
“Jadi…” Aku memiringkan kepala, “… kau mau menyimpulkan bahwa ini murni musibah?”
Kotoko-san menunduk sejenak, menimbang ucapan. “Secara pribadi…”
“… Aku memang sempat mencurigai ini adalah sesuatu yang disengaja. Namun, tanpa bukti yang kuat, tidak mungkin aku asal menunjuk orang, bukan?”
Aku memotong. “Jika aku membuktikan padamu bahwa ini memang pembunuhan berencana…”
“… Apakah kau akan percaya padaku, Kotoko-san?”
Hening.
Pria berambut pirang dengan iris mata biru di sebelah Kotoko-san akhirnya menyahut. “Kami akan percaya.” Katanya.
“Jika ini memang aksi keji yang merenggut nyawa adik kami, kami akan menyerahkan seluruh informasi yang dibutuhkan untuk penyelidikan ini, Anak Muda—”
“—Togashi Uzura.” Namaku kusebut.
“Baiklah, Togashi-kun. Kami akan menggantungkan harapan kami kepadamu.”
Hanya Dokter Takagi yang belum angkat bicara.
Pria berjas putih itu masih sibuk menyeka air mata dari wajahnya yang sembab. Ketika mendongak, tatapannya menyiratkan rasa frustrasi yang amat sangat. Bibirnya bergetar ketika ia mulai berujar. “Aku bukan dokter ahli forensik.” Lelaki tersebut mengaku.
“Jika kau berhasil mengungkap siapa yang merencanakan kematian kejam ini, aku akan sangat berterima kasih padamu, Togashi-kun. Kau akan mendapatkan penghormatan besar dariku.”
Aku membalas datar. “Aku tidak butuh penghormatan,”
“Selama kalian bertiga dapat diajak bekerja sama dengan baik, aku akan menganggap itu adalah penghormatan yang cukup dan sepadan untuk diriku—tidak banyak orang yang mau memercayakan tugas seperti ini kepada seorang bocah SMP begitu saja, bukan?”
Dokter Takagi sempat tergelak. “Ka—Kau… Bocah SMP?!”
“Tentu saja.” Jawabku singkat. “Jika aku sudah cukup dewasa dan memiliki pengaruh, aku tidak mungkin mengajak detektif bodoh ini kemari hanya untuk diberikan akses TKP darinya.”
Suara itu didengar oleh Naomi. “He—Hei, Togashi-kun!”
“Lupakan saja.”
Aku menjentikkan jari. Menarik perhatian tiga pria yang berada paling dekat dengan korban sebelum ia ambruk.
Jemariku menunjuk meja nomor sepuluh yang kini sedang diamankan. Bertanya.
“Dari tempat kalian bertiga makan malam tadi…” Nada bicaraku serius. “… Apakah kalian melihat ada sesuatu yang aneh?”
Ketiganya serempak menoleh ke meja tersebut. Kondisinya masih sama seperti saat tragedi meletus: beberapa kursi sedikit terdorong keluar saat kedua saudara Ren panik berdiri, gelas-gelas minuman yang telah kosong, serta piring perak mengkilap yang bersih, hanya menyisakan bekas bumbu.
Satu menit berlalu dalam kesenyapan. Ketiga pria berpendidikan tinggi itu gagal menangkap teka-teki yang kulemparkan. Menggelengkan kepala.
“T… Ti--Tidak,” sahut saudara Kotoko-san dengan nada kecewa pada diri sendiri. “Kami tidak melihat hal aneh apa pun di sana.”
Aku menahan keinginan untuk menepuk jidat. Tak menyangka bahwa logika sederhana seperti ini saja mereka bisa melewatkannya. Maka aku melanjutkan.