Laporan forensik singkat tiba satu jam kemudian, tepat saat tim kepolisian dan rekan kerjaku, Naomi Haguro, menyelesaiakan sesi wawancara awal.
Satu-satunya kabar buruk di tengah situasi ini adalah keberadaan pamanku: Inspektur Hiro Hajime.
Pria itu ternyata juga dikerahkan kemari, berdiri gagah bersama beberapa anak buahnya yang sudah bersiap dengan borgol di tangan, melangkah menuju jajaran staf dapur yang baru saja selesai memberi keterangan.
Dan, seperti biasa, telunjuk bodohnya langsung beraksi.
Tanpa dasar, ia menuduh koki yang wajahnya dianggap ‘mencurigakan’ sebagai dalang pembunuhan, lalu memerintahkan anak buahnya untuk bertindak. Memekik penuh kemenangan.
“Fufufu… firasatku tidak akan pernah meleset!” Pria itu mendengus bangga, kepercayaan dirinya membubung tinggi hingga menembus langit Tokyo. “Yang meracuni Kanzaki Ren—putri pemilik tunggal hotel bintang lima ini—adalah Anda, bukan?!”
Kaca-kaca jendela sampai bergetar ketika air liurnya muncrat kemana-mana.
Ia menggertak. “Mengakulah!”
Koki yang dituduh tentu saja panik setengah mati.
“T—Tu… Tunggu dulu!” Serunya dengan jantung berdegup kencang. “Atas dasar apa Anda begitu yakin kalau saya pelakunya?!”
Hiro Hajime tertawa lepas, terpingkal-pingkal seolah baru mendengar lelucon segar.
Instingku sudah menebak, setelah ini ia pasti akan mengeluarkan pernyataan paling konyol yang pernah ada.
Aku pura-pura tidak dengar.
“Semua penjahat yang tertangkap…” Ujarnya sok tahu, “… Pasti akan membela diri dengan kalimat yang sama.”
Ia menatap korbannya dengan raut puas saat koki itu mulai gemetar ketakutan. “Borgol dia!”
Sang koki pun menjerit. “To—Tolong aku! Siapa saja!”
“Bukan dia pelakunya, Hajime-san. Jangan asal menuduh orang,” Aku memotong seraya melangkah maju, menyibak barisan petugas yang menghalangi jalan, menatap lurus si paman nyentrik.
Di sebelahku, Naomi Haguro sudah menelan ludah, menghembuskan napas lega yang tadi ia tahan. Menyerahkan penanganan situasi sepenuhnya padaku.
Inspektur Hajime kaget sekaligus kegirangan ketika melihat keberadaanku. Tanpa ragu, ia merangkul leherku dengan erat. “Wah, Uzura-kun!” Serunya.
Rasa jijik merayapi tenggorokanku.
Namun, memberontak atau memicu keributan dengannya saat ini hanya akan menambah masalah baru: Aku membiarkannya.