Restoran mewah Hotel Shangri-La Tokyo malam itu begitu senyap, hingga denting sendok yang bertabrakan dengan piring atau seruan samar Inspektur Hajime di sudut ruangan dapat terdengar dengan sangat jelas.
Dari jendela kaca raksasa di lantai atas ini, gemerlap lampu lalu lintas Kota Tokyo tampak bagai hamparan kristal cair yang merayap di kegelapan. Di atas kami, pendar lampu gantung kekuningan memayungi ruangan dengan kesan megah yang ironis—mengingat sesosok mayat baru saja diangkut keluar dari sana.
Aku menyipitkan mata, menatap layar ponsel yang menyala di atas meja berbaki kain putih.
“Hmmm… Alergen Kanzaki Ren… Cuma kacang?” Gumamku dingin. “Sangat generik untuk sebuah drama pembunuhan.”
Naomi Haguro, detektif swasta berambut pirang yang duduk di depanku, mengangguk berkali-kali sampai helai rambutnya meliuk-liuk.
“Te—Tepat seperti dugaanmu, Togashi-kun.” Ungkapnya. “Kasus ini memang pembunuhan berencana.”
“Kanzaki Ren menderita anafilaksis berat. Tidak mungkin reaksi mematikan itu muncul mendadak dari hidangan Prancis yang dari awal sudah diwanti-wanti bebas kacang—pasti… Pasti ada yang menyusupkannya ke sana, bukan?”
“Jadi kau berpikir seseorang akan menyelipkan ekstrak kacang ke piringnya di tengah keramaian?” Tanyaku dengan nada skeptis.
Naomi mendadak ragu dengan teorinya sendiri.
Ia menggaruk pipi, menyeringai canggung. “M… Mungkin saja, kan?” Katanya asal.
“Atau pura-pura menabrak pelayan?”
Aku tak menjawab.
Tanganku terangkat. “Berikan rekaman CCTV-nya padaku.”
Naomi merogoh saku jasnya yang rapi, menyodorkan ponsel setelah membuka kuncinya.
Layar bening mengulang video berdurasi sepuluh menit. Mulai dari saat pelayan berseragam klimis mengantar hidangan ke meja nomor 10, hingga detik-detik Kanzaki Ren mendadak tersedak, memegangi lehernya, terbatuk hebat, dan roboh tanpa nyawa.
Aku memutar video itu sekali. Dua kali. Tiga kali.
Hingga dahiku mengernyit dalam.
“Ini aneh…” Komentarku pelan.
Tak ada pergerakan mencurigakan. Tidak ada tangan misterius yang melintas. Tidak ada pelayan yang tersandung. Bahkan tak seorang pun mendekati meja nomor 10 saat Ren sedang berbincang dengan Fei Xiang di tengah ruangan. Hidangan itu utuh dan steril.
Dokter Takagi, Kanzaki Kotoko, Kanzaki Satou—semuanya berada dalam jangkauan kamera dan tak ada dari mereka yang menyentuh piring tersebut.
Naomi mendesak dengan mata berbinar penasaran. “Ba… Bagaimana, Togashi-kun?” Tanya lelaki tersebut.
“Kau menemukan petunjuk rahasia?”
Aku membisu.
Di novel-novel misteri atau film detektif kelas dua, pelaku biasanya menggunakan trik rumit: racun yang dioleskan pada ujung rokok, gas sianida yang disembunyikan dalam gelembung sabun, atau racun kontak yang berpindah lewat jabat tangan. Namun, meja nomor 10 benar-benar bersih. Pelaku bergerak sangat rapi, seolah-olah ia tahu persis di mana sudut mati kamera pengawas berada—atau lebih ekstrem lagi…
… Ia memang sama sekali tidak menyentuh makanan itu.
“Tidak ada,” Cetusku seraya menghempaskan punggung ke sandaran kursi empuk yang dingin.
“Dari video yang kulihat… Sama sekali tidak ada tanda-tanda seseorang berusaha menyelipkan sesuatu pada makanan Ren.”
Naomi menangkupkan kedua tangan di depan dada, memasang gestur bertengger ala Sherlock Holmes yang tampak konyol bagiku.
“Astaga…” Ujarnya.
“Kalau kau terus-terusan kehabisan akal begini, Togashi-kun… Bisa jadi Inspektur Hajime akan main asal tangkap lagi demi mengejar tenggat waktu berita seperti sebelumnya!”
“Aku tahu siapa pelakunya sejak beberapa waktu lalu, Naomi-san,” Jawabku datar. Memutar bola mata.
Naomi Haguro menghentikan keluhannya.
“Yang belum kupahami adalah metodenya. Aku butuh bukti fisik yang valid secara hukum untuk bisa membongkar aksinya di pengadilan. Asumsi awalku salah—kukira pelaku memanfaatkan momen kekacauan kecil saat Ren dikerumuni tamu untuk melakukan sesuatu. Tapi ternyata piring itu bersih dari sentuhan. Masih terjaga dalam posisinya.”
Naomi menyimpan ponsel kembali, mendesah dramatis.