Aroma minyak truffle dan anggur merah yang pekat masih tertinggal di udara, berbaur canggung dengan bau antiseptik yang menguar dari tubuh Dokter Takagi Ryusei.
Di lantai paling atas Shangri-La Hotel Tokyo, kemewahan ruangan itu mendadak mengkerut. Karpet merah tebal yang melapisi lantai menyerap seluruh bising lalu lintas ibu kota di bawah sana, menyisakan keheningan mencekam yang menusuk telinga.
“Pe… Permisi?” Dokter Takagi terkekeh pelan—sebuah tawa garing yang gagal menutupi getar di kedua sudut bibirnya. Kacamata berbingkai persegi milik lulusan Harvard itu memantulkan pendar lampu temaram. Tangannya terangkat sebatas bahu, berakting seolah ia adalah korban dari tuduhan absurd. “A… Apa maksudmu, Anak Muda?”
Beberapa personel polisi berkeringat dingin, melempar pandangan bingung antara aku, Paman Hajime, dan sang dokter yang masih menggenggam borgol terlepas.
Aku menyilangkan dada, mengunci tatapan tepat pada manik matanya. “Bukankah sudah sangat jelas?” Bisikku datar. “Bahwa kematian Kanzaki Ren malam ini… adalah ulahmu, Dokter Takagi?”
“Jangan membual, dong…” Takagi sedikit menaikkan nada bicaranya, mencoba memutar balik tekanan. “Mungkin karena kau cuma orang luar, kau tidak paham betapa dekatnya hubungan kami—tapi aku tidak punya alasan sedikit pun untuk meracuni majikanku sendiri, tahu.” Ia menggeram, menunjukku dengan tatapan merendahkan. “Lagi pula… Anak sebelia dirimu seharusnya tidak ikut campur dalam penyelidikan polisi! Terlepas dari seberapa cerdasnya otak yang kau miliki!”
“A… Anu… Takagi-san… Maaf,” potong Naomi Haguro patah-patah. Pemilik kantor detektif tempatku bekerja itu melangkah maju, mencoba meredam suasana dengan senyum canggung. “Togashi-kun ini adalah pekerja sambilan yang berada di bawah pengawasanku, jadi—”
“—Anak sebelia ini, katamu?!” Paman Hiro Hajime ikut membelaku, menyambar bagai guntur. Matanya melotot garang, memotong kalimat Naomi tak sabaran. “Apa matamu tidak tahu kalau Uzura-kun sudah membongkar belasan skandal kejahatan kelas atas sejak masih SD?! Zaman sudah berubah, bodoh!”
Paman Hajime memang selalu emosional—tetapi kali ini harus kuakui gertakannya cukup efektif dan berguna untuk memotong dominasi lawan.
Dokter Takagi kehabisan amunisi untuk meremehkan posisiku. Namun, seorang pembunuh berdarah dingin tidak mungkin menyerah begitu saja.
“Bukti,” desis Takagi pelan. Telunjuknya melurus tepat ke dadaku. “Jika kau berani menuduhku di hadapan polisi, setidaknya sodorkan bukti tak terbantahkan bahwa aku yang menyusupkan zat alergen ke dalam hidangannya! Ajukan sekarang!”
Keheningan kembali menyengkeram. Naomi dan Paman Hajime menahan napas. Mereka tahu betul betapa liciknya kasus ini—tak ada jejak ‘racun konvensional’ alias kacang yang terdeteksi sejak awal pemeriksaan.
Melihat kebuntuan itu, Takagi menyunggingkan senyum kemenangan. “Jika kalian tidak bisa memberikan bukti…” Ungkapnya. “… Maka aku berhak menuntut kalian atas pasal pencemaran nama baik, lho!”
“Buktinya ada,” potongku tenang, memangkas euforianya dalam sekejap. “Dan bukti itu berada tepat di dalam dirimu sendiri, Takagi-san.”
Atmosfer di dalam ruangan seketika mendingin. Kakak tertua korban, Kanzaki Kotoko, melangkah mendekat dengan wajah pucat. “Togashi-kun…” Ujar lelaki tersebut. “… Tolong jelaskan dengan rinci.”
“Baik,” jawabku pendek. Memiringkan kepala, menatap dokter berjas putih itu tanpa kedip. “Kalau boleh tahu, Takagi-san… Apa hidangan yang dipesan oleh Kanzaki Ren malam ini? Sebagai orang yang duduk di sebelah korban seharusnya kau mengingatnya, bukan?”
“Tentu saja aku ingat!” Sahut Takagi defensif. “Justu aku yang merekomendasikan Black Truffle Risotto dan minuman perasan lemon madu kepadanya! Aku memastikan menu itu seratus persen bebas dari olahan kacang!”
Aku mengangguk-angguk kecil, memutar pandangan ke arah para koki, pelayan, dan personel polisi yang berdiri mematung.
“Semuanya sudah dengar?” tanyaku rileks.
Mereka saling tatap dalam kebingungan, terpaku menunggu kelanjutan deduksiku.
Intonasiku turun satu oktaf. “Kau yang lulusan S3 tentu paham, Dokter terhormat…” Bertambah dingin. “… Bahwa Black Truffle Risotto selalu menggunakan minyak truffle olahan pabrik untuk mengekstrak aromanya?”