Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #21

Kasus Kelima, Bangku Ketiga Belas Yang Sial (1)

“Hei, Togashi-kun… Apakah kau percaya hal-hal mistis?”

Di tengah keheningan ruang tamu—saat semua orang sedang memeras otak mengerjakan latihan soal dari satu buku modul yang dibagi untuk tujuh orang—Fei Xiang tiba-tiba mengulurkan senyum lebar. Ia melontarkan pertanyaan acak itu tanpa rasa dosa. Menciptakan sudut wajah sempurna 45 derajat yang dikatakan merupakan puncak kecantikan paras wanita.

Suara desing mesin penghangat ruangan terdengar samar, mengisi jeda di antara kami.

Aku yang sejak tadi bertahan dalam posisi bersedekap hanya mendengus pelan. Mataku memicing, mengirimkan tatapan tajam ke arah si gadis Tionghoa itu tiada ampun.

“Oh,” sahutku, datar. “Jadi begitu caramu mengalihkan agenda secara diam-diam?”

Fei Xiang langsung panik. Kedua tangannya terangkat di udara. “Bu… bukan begitu, Togashi-kun… Maksudku—”

“Kerjakan,” Aku memotong cepat.

“Ta… Tapi…—”

“Ker-ja-kan.” Aku diam sebentar. “Setelah itu, baru aku akan menjawab pertanyaanmu.”

Seketika, wajah Fei Xiang bersinar seperti mentari di siang bolong. “Be… benarkah?!”

“Ya. Aku janji.”

“Kalau begitu, aku akan berjuang!” serunya penuh semangat.

Satu jam berlalu.

“KENAPA SOALNYA SUSAH SEKALI?!”

Mio Shirakawa menjerit histeris, seolah-olah baru saja melihat malaikat maut mencabut nyawanya. Kertas jawaban di depannya masih melompong—hanya dihiasi coretan angka dan rumus yang berakhir gagal.

“INI SIH NAMANYA PENYIKSAAN!”

“Togashi-kun… buku ini…” Anna bergumam pelan. Tangannya yang agak gemetar memperlihatkan sampul buku yang kujadikan referensi. “… bukankah buku untuk latihan olimpiade tingkat dunia?”

Aku mengangguk santai. “Begitulah,” kataku dingin. “Sekali-kali kalian harus mencoba mengerjakan soal buatan para pakar luar negeri. Menyenangkan, bukan?”

“Menyenangkan dari Hongkong!” semprot Mio, menangis tersedu-sedu sambil memeluk kedua kakinya yang terlipat di atas lantai, pura-pura menyeka air mata. “Huhuhu… Kalau begini terus…” Katanya. “… aku tidak akan pernah bisa pulang ke rumah!”

Dengan sisa-sisa harapan, Mio menoleh pada Fei Xiang yang tampak sama sekali tidak terbebani sepuluh soal maut pemberianku.

“Fe… Fei-chan…” panggilnya dengan raut memohon. “… Kau akan membantuku menyelesaikan ini, kan?”

Lihat selengkapnya