Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #22

Kasus Kelima, Bangku Ketiga Belas Yang Sial (2)

Dentang lonceng kepulangan seharusnya menjadi melodi paling indah di telinga setiap murid. Sebuah sinyal ghaib yang memicu hormon dopamin mengalir deras, menjanjikan kebebasan, wangi jajanan toko kelontong, dan tawa berisik kelompok berjalan menuju rumah. Namun sore itu, di bawah langit SD Fukikage yang mendadak terasa dingin, dentang bel tersebut justru terdengar seperti kidung kematian.

Saat murid-murid lain sibuk merapikan tas dan membolos di pelajaran terakhir adalah hal yang wajar bagi anak nakal, aku berlari seperti orang gila.

Napas ku terengah-engah, memburu waktu di tengah lapangan sekolah yang lengang. Setiap jengkal koridor dan ruang kelas sudah kususuri dengan otot kaki yang mulai gemetar lelah. Peluh dingin mengalir membasahi pelipis, namun rasa cemas di dadaku jauh lebih membakar daripada rasa lelah itu sendiri.

Gadis itu hilang sejak jam istirahat pertama.

“Kagawara-chan!” teriakku ke udara kosong, suaraku pecah oleh kepanikan. “Kamu di mana?!”

“Di sini.”

Sahutan itu terdengar sangat pelan, namun sanggup menghentikan detak jantungku seketika.

Aku mendongak. Di atas sana—di teras atap gedung sekolah yang terpanggang terik matahari—sosok yang kucari sedang berdiri tenang.

Ia tidak berada di balik pagar pengaman. Tubuh kecilnya berdiri di sisi luar, mencengkeram besi pembatas dengan posisi membelakangi jurang. Separuh telapak kakinya sudah melayang di udara. Hanya butuh satu hembusan angin kencang atau sedikit kelalaian untuk melempar tubuhnya jatuh ke bawah.

Pemandangan itu membuat darahku mendadak dingin.

“Ka—Kagawara-chan!” seruku histeris, melangkah maju tanpa sadar. “Apa yang kau lakukan di tempat yang sangat berbahaya seperti itu?!”

Beberapa murid yang baru saja keluar dari pintu tangga lantai dasar menghentikan langkah mereka, menatapku heran karena berteriak-teriak ke arah langit.

Lihat selengkapnya