“Heee… Jadi ini yang mereka sebut bangku terkutuk itu?”
Kagawara Yumine menyampirkan tas merahnya ke punggung ketika semua orang sudah keluar meninggalkan kelas, berbondong-bondong turun melalui tangga persegi di ujung koridor.
Langkah kakinya mendekat pelan, lalu jemarinya menyentuh permukaan meja tua yang berdebu di tengah kelas secara kontras—meja yang selama bertahun-tahun sengaja dibiarkan kosong.
Bahannya sama persis seperti meja-meja kayu lain di kelas ini. Hanya saja, ada aura dingin tak kasatmata dan debu tipis yang menempel karena tak pernah lagi disinggahi siapa pun.
Gadis yang merupakan sahabat dekatku itu langsung mendudukinya tanpa ragu, diiringi sunggingan senyum jahil. “Tada~!”
“Ka—Kagawara-chan!” Aku terlonjak kaget. Bangkit dari tempat dudukku.
Prinsip rasionalitas di kepalaku memang berkata tidak akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini. Akan tetapi, di lubuk hati terdalam, aku tetap saja terbersit sedikit kekhawatiran. Bagaimana jika nanti teman sejak kelas satu SD-ku ini tiba-tiba tertimpa musibah gaib atau semacamnya? Semuanya bisa gawat, bukan?
Dan kekhawatiranku itu mendadak terbukti.
Sedetik setelah Kagawara Yumine mendaratkan pinggulnya di atas bangku yang sudah diwanti-wanti oleh guru untuk tak disentuh, raut wajahnya mendadak berubah drastis.
“To… Togashi-kun…” Ia memanggil, membeku di tempat.
Bukan sekadar ekspresi kesakitan—tubuh gadis berambut hitam kuncir dua itu bergetar hebat bagai tersengat listrik. Dalam hitungan detik berikutnya, ia ambruk ke lantai kayu diiringi dentuman keras, melayangkan tatapan kosong bagai orang yang berada di ambang maut.
“Kagawara-chan!”
Kepanikan langsung menguasai kepalaku.
Irasionalitas mengambil alih.
“To—Tolong!” jeritku seraya menoleh ke arah pintu kelas yang terbuka. “Siapa pun, tolong panggilkan guru ke sini!”
“Sa… Sakit…” Kagawara Yumine meringis pilu. Matanya berkaca-kaca, menahan bulir air mata yang hampir tumpah. “… Aku… aku akan mati...”
Jantungku berdegup kencang bagai dianiaya. “P—Pertahankan kesadaranmu, Kagawara-chan! Guru akan segera kemari—”