Perpustakaan di lantai dua menjadi pijakan awal bagiku dan Kagawara untuk mengurai benang kusut misteri bangku terkutuk—objek sialan yang dituding telah menelan begitu banyak korban jiwa. Sasaran utama kami tertuju pada satu benda: album lama SD Fukikage yang tersimpan di gudang belakang perpustakaan.
Tak sampai lima menit sejak istirahat dimulai, album berisikan lima puluh halaman kusam itu sudah kami paparkan di atas meja baca.
"Kata Hyori-senpai sebelum lulus dulu, legenda bangku ketiga belas yang membawa sial itu sudah ada bahkan sebelum abad ke-21 dimulai," terang Kagawara Yumine sembari jemarinya telaten membalik lembar demi lembar foto. "Spesifiknya, tahun 1988. Generasi kelima kelas 6 SD Fukikage."
Aku menyimak dalam diam, mengamati deretan potret bernuansa hitam-putih.
Hingga jemari Kagawara terhenti pada satu titik.
"Ah, dapat!" serunya seraya menoleh padaku.
Pandanganku tertuju pada foto berukuran 3R yang memuat potret seorang anak perempuan tengah memeluk piala tinggi.
"Namanya Kaoru Ai," gumam Kagawara. "Dia ini sebenarnya adalah siswa kebanggaan sekolah. Sejak kelas satu sudah langganan mewakili di kompetisi sains dan bahasa tingkat nasional.”
Kagawara berhenti sejenak.
“Piala di foto ini didapatnya sewaktu menyabet juara satu di Hokkaido saat usianya baru sepuluh tahun. Mengesankan, bukan?"
"Dia ini sebenarnya adalah siswa kebanggaan sekolah..." Aku mengulang frasa itu, menemukan celah menarik. "... Dengan kata lain, kau ingin mengatakan bahwa sesuatu pada akhirnya akan mengubah gadis tersebut?"
"Tepat," Kagawara mengutikkan bahu. "Saat Ai naik ke kelas 6, ia dan kawan-kawannya kedatangan murid pindahan bermasalah bernama Ishigami Rita. Dari situlah nerakanya dimulai."
Pendar surya yang silau menerobos celah jendela perpustakaan yang berdebu, menimpa permukaan meja kayu kami yang lebar.
"Ishigami merupakan anak berandal yang pernah dikeluarkan dari tujuh sekolah berbeda hanya dalam setahun. Hari pertama masuk saja, dia langsung menghajar beberapa anak yang menolak jadi 'babu'-nya. Membuat keributan yang segera merepotkan guru setempat."
"Ai bukan tipe gadis penakut yang cuma bisa bungkam melihat kesewenang-wenangan menimpa seseorang di depan matanya. Jadi, walau postur tubuh Ishigami tergolong bongsor untuk ukuran anak SD dan orang tuanya punya pengaruh besar, Ai nekat melawan—yang sayangnya justru menggali akan menarik kesialan pada dirinya sendiri."
"Apa yang terjadi padanya?" tanyaku, pelan.
Kagawara menghela napas berat, matanya menatapku tajam.
"Astaga, Togashi-kun... kau benar-benar tidak tahu?”
Gadis di depanku sedikit kecewa.