Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #25

Kasus Kelima, Bangku Ketiga Belas Yang Sial (5)

“Ka... karakter fiktif? Apa yang sebenarnya kau bicarakan, Togashi-kun?”

Suara bingung Kagawara Yumine menyusup halus di antara jajaran rak buku perpustakaan yang lengang. Cahaya matahari siang menembus celah jendela, menerpa wajahnya hingga tampak begitu cerah berbinar. Rambut kuncir duanya berayun pelan mengikuti gerakan kepala yang miring.

Aku hanya menggidikkan bahu. “Kesimpulan yang cukup logis, bukan?”

Gadis di depanku mengernyitkan dahi. “Lo… Logis dari mananya?”

Maka aku menjelaskan. “Kita dari dahulu cuma mendengar desas-desus kalau ada murid nakal bernama Ishigami Rita yang mengacaukan hidup Kaoru Ai sampai dia nekat bunuh diri.”

Diam sebentar.

“Padahal,” Lanjutku. “dari semua bukti yang kita temukan, nama Ishigami Rita sama sekali tidak tercantum di album kelulusan tahun 1988 yang paling tua sekalipun. Buruknya lagi, sepanjang sejarah SD Fukikage, tidak ada murid yang terdaftar dengan nama itu. Jadi, kemungkinan yang paling masuk akal adalah... dia cuma karakter fiktif.”

“Tunggu, tunggu dulu!” Kagawara menaikkan nada suara sebelum refleks kembali berbisik. “Bagaimana kau bisa seyakin itu, Togashi-kun?!”

Aku menjawab santai. “Karena aku sudah mengintip database guru di kantor, Kagawara-chan.”

Gadis di depan seketika melongo, matanya membatu tak berkedip.

“Setelah mengubrak-abrik dokumen dari satu buku ke buku lain, aku sama sekali tidak menemukan nama Ishigami Rita. Aku bahkan sempat mengira dia nama seorang anak perempuan, bukannya berandal laki-laki—tapi nama itu sungguh-sungguh tidak ada berapa kali pun aku mencoba mencarinya.”

“Berhenti, Togashi-kun!” Kagawara memekik pelan, menelan ludah dengan susah payah. “Kenapa kau bisa mengungkit hal mengerikan dengan wajah setenang itu, sih?! Mengintip database guru di kantor itu artinya kau sudah melakukan pelanggaran berat, tahu!”

“Itu semua demi dirimu, Kagawara-chan,” sahutku pelan seraya menyipitkan mata. “Aku sudah berjanji kepadamu untuk mengusut kasus ini sampai tuntas. Jadi, sudah sepantasnya aku menempuh cara apa pun untuk menguak misteri di balik Bangku Ketiga Belas ini, kan? Apa aku salah?”

“Ta… Tapi…”

Wajah Kagawara Yumine mendadak memerah. Kalimat ‘itu semua demi dirimu’ yang meluncur dari mulutku rupanya sukses membuat gadis itu kikuk. Ia buru-buru menutupi pipinya yang mulai hangat. Berlagak marah. “Kau tidak perlu sampai sejauh itu juga, kan?!”

“Tidak bisa,” potongku, tegas.

“Seorang lelaki sejati… tidak boleh menyia-nyiakan janjinya.”

Sepasang mata hitam pekat milik Kagawara terbelalak.

“Whoa! Kau kutip dari mana kalimat sekeren itu?!”

“Dari buku.”

“Kau jadi terdengar seperti pria dewasa!”

“benarkah?”

TING!

TING!

TING!

Lihat selengkapnya