Sepulang sekolah di penghujung pekan, Kagawara Yumine membujukku untuk menggali informasi dari Jinko-sensei—guru senior sekaligus wali kelas kami—sebagai bahan penyelidikan kasus Bangku Ketiga Belas yang terkenal.
Ruang kelas yang telah kosong kini diselimuti bayang-bayang panjang dan sapuan mentari jingga yang merayap di atas lantai kayu. Papan tulis di depan masih menyisakan coretan kapur putih berisi pengumuman festival olahraga yang kian dekat.
Jinko-sensei menerangkan, memecah keheningan kelas.
“Pihak sekolah sebenarnya sudah mengganti bangku itu beberapa kali, Togashi-kun.” Ungkapnya. “Tapi, walau ini terdengar sangat tidak masuk akal, efek samping dari kutukan mistisnya sama sekali belum lenyap—ia tetap berlanjut.”
Guru wali kelas kami mengusap wajah, melanjutkan. “Tiga tahun yang lalu, seorang siswi angkatan atas bernama Mayumi mencoba menduduki bangku yang berada di urutan ketiga belas tersebut. Hanya bertahan sebulan, tingkah lakunya mendadak berubah drastis bagai orang asing. Sampai akhirnya… ia nekat melompat dari atap sekolah saat jam istirahat—persis seperti tragedi Kaoru Ai pada tahun 1988.”
Dalam suasana yang senyap dan hening, aku dan Kagawara berdiri berdampingan menghadap meja Jinko-sensei. Wajah gadis di sebelahku memancarkan rasa penasaran yang meluap-luap, dan beruntung wali kelas kami tidak keberatan melayani antusiasmenya yang agak berlebihan.
Setelah mengambil jeda, Kagawara-chan perlahan membuka mulutnya yang mungil dengan nada ragu.
“Ja… Jadi, Jinko-sensei…” gumamnya patah-patah, “… meskipun bangku lamanya sudah dibuang dan diganti baru, arwah atau kutukan Kaoru Ai akan tetap ngotot merasuki bangku yang baru, ya?”
“Bukan begitu, Kagawara-chan,” selaku pelan, mengembuskan napas samar. “… Itu berarti kutukan Kaoru Ai—jika kita mengasumsikan hal mistis itu benar-benar ada—sebenarnya tidak terikat pada benda berupa bangku itu. Bisa jadi perantaranya adalah alat tulis, sepatu, atau bahkan titik lokasi dari Kelas 6-A-nya sendiri. Variabelnya masih terlalu banyak.”
Gadis berkuncir dua di sampingku tertawa kecil penuh keheranan. “E-eh? Bisa begitu, ya?”
“Seperti yang pernah kubaca,” aku mengangkat kedua bahu santai, “dalam mitologi Jepang kuno, fenomena ini berkaitan dengan konsep Tsukimono—keadaan di mana roh penasaran memanfaatkan sebuah objek fisik sebagai wadah atau perantara untuk memancarkan dendam dan kesialan kepada orang yang masih hidup.”