Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat saat kami duduk bersila di atas bantalan empuk berhias ukiran sakura. Dalam keheningan yang mengendap, aku dan kawan penyelidikanku, Kagawara Yumine, sesekali mencuri pandang ke arah wanita cantik di hadapan kami—seorang tuan rumah yang tak henti-hentinya melempar senyum ramah.
Dengung rendah pendingin udara menjadi satu-satunya instrumen yang mengiringi dentang sendok besi ketika mengaduk cokelat di dalam cangkir porselen. Di balik jendela kaca yang tertutup rapat, angin malam berembus tertahan. Sementara ruangan yang sederhana dibalut wallpaper cokelat marun elegan, menciptakan suasana hangat sekaligus kedap suara yang khas.
Lantaran kedua tamunya mendadak bungkam, sang pemilik rumah di kompleks Akasaka akhirnya terkekeh canggung. Ia memberanikan diri untuk memecah keheningan, lalu membuka mulutnya.
“A… Anu…” tutur wanita tersebut, berusaha mencairkan ketegangan yang membeku. “…Kaoru Ai itu … E—Etto… S—Sebenarnya… adalah diriku sendiri.”
Ia menghela napas sebelum melanjut. “Apakah kalian punya urusan yang mendesak dengannya?”
Tanpa aba-aba, Kagawara Yumine menggebrak meja tamu berwarna hijau tempat cokelat panasnya terhidang. Sepasang mata bundarnya melotot tajam ke wanita berambut hitam sebahu di depan, suaranya siap meledak seperi bom C4.
“KA—KAORU-SAN!” pekik sahabatku, histeris. “SIAPA YANG SUDAH MEMBANGKITKAN ANDA DARI KEMATIAN?!”
BLETAK!
Tanpa ragu, aku mendaratkan jitakan keras di kepala gadis di sebelah, lalu memaksa tubuhnya menunduk hormat. Memasang pose setengah dogeza.
“Mohon maafkan sikap teman kami yang tidak sopan ini, Kaoru-san,” ucapku dengan nada rendah dan penuh penyesalan. “Kami berterima kasih karena mau Anda menerima kami untuk wawancara singkat tugas dari sekolah… Um… Anda tidak keberatan?”
Untungnya, Kaoru Ai tidak merasa terganggu dengan kedatangan kami yang mendadak dan sikap Kagawara yang histeris. Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum lembut.
“Hmm, sama sekali tidak, kok!” Ungkapnya, riang. “Mumpung suamiku belum pulang, sepertinya akan menyenangkan bisa mengobrol sebentar dengan dua pelajar manis seperti kalian. Kalian dari SD Fukikage, kan?”
Sorot mata hitam pekat Kaoru tertuju pada seragam yang kami kenakan.
Tampaknya ia langsung mengenali seragam almamaternya sendiri.
Begitu mendengar kata 'suami', gadis berkuncir dua di sampingku mendadak menggigit bibir rapat-rapat. Wajahnya menyiratkan rasa syok yang tak tertahankan. Lalu kalimat-kalimatnya bocor seperti letusan balon air.
“S—Su… Suami?!” serunya dengan nada tak percaya.
Kaoru Ai memiringkan kepala, tampak bingung.
“Be… Benar.” Aku-nya. “Ada yang salah, Gadis Manis?”
“Kaoru-san adalah siswi generasi awal di SD Fukikage, Kagawara-chan,” Aku menjelaskan tenang seusai menyesap cokelat panas. Menyipitkan mata. “Jika saat ini ia telah berkeluarga dan memiliki pasangan, itu sangatlah wajar dan normal secara logika sosial.”
“Ta… Tapi!” Sahabatku masih enggan menerima kenyataan. “Coba lihat wajahnya! Masih sangat muda dan cantik! Jangan-jangan dia Kaoru Ai yang palsu atau sedang menyamar?!”
Alisku berkedut menahan kesal mendengar ocehan absurd demikian. Sementara di seberang meja, Kaoru Ai malah tertawa kecil menutup mulut dengan kedua telapak tangan, menyeka air bening di sudut matanya.
“Ada banyak cara bagi seorang wanita untuk tetap awet muda di zaman sekarang, Kagawara-chan,” Kaoru-san berujar santai santai, secara refleks mengelus kepala Kagawara. “Untuk menjaga keharmonisan rumah tangga—memberikan kedekatan emosional dan kepuasan biologis—terkadang kita para wanita memang harus berjuang ekstra di rumah. Jika tidak, suami bisa selingkuh secara diam-diam, dan menghancurkan keluarga yang kita bangun—kau harus paham itu sejak dini.”