Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #28

Kasus Kelima, Bangku Ketiga Belas Yang Sial (8)

Awalnya, kukira ucapan Kaoru Ai yang berbunyi, “Sehari berikutnya Kagawara-chan akan mati,” hanyalah gurauan canggung semata yang tak perlu diambil banyak pusing.

Namun, ketika kami duduk menyantap makan siang seperti di kelas pada keesokan harinya, gadis berkuncir dua yang setia menemaniku sejak kelas satu itu mendadak mengatupkan bibir. Tatapannya tertuju kosong ke luar jendela, seolah merindukan sesuatu yang tak kasatmata. Kemudian, tanpa menyentuh bekal makan siangnya yang perlahan kering, dengan mata redup yang diselimuti kabut muram, Kagawara Yumine, membisikkan sesuatu yang membuat darahku berdesir dingin.

“Hei, Togashi-kun.” Suaranya terdengar begitu berat. “Kematian itu…”

“… Sepertinya menyenangkan, ya?”

PLUK

Sumpit di genggamanku terlepas seketika saat kalimat itu terlontar. Napasku tertahan di rongga dada. Peluh dingin menetes lambat di pelipis.

Tepat satu minggu setelah nekat memindahkan tempat duduk ke bangku nomor Tiga Belas…

… Kagawara Yumine mulai berubah.

***

“Mulai sekarang, jangan pernah dekati bangku itu lagi, Kagawara-chan! Kumohon!”

Ketika bel pulang berdentang dan ruang kelas telah kosong, aku tak mampu lagi membendung ketakutanku. Melihat sahabat masih terpaku di kursi terkutuk bagai orang kesurupan, aku memunculkan amarah sebagai benteng pertahanan. Tanganku menuding penuh ancaman, sementara kedua kakiku bergetar hebat di atas lantai kayu yang mudah menciptakan bunyi decit sepatu.

Bukannya sadar atau menuruti permintaan, Kagawara Yumine justru melayangkan seringai lebar yang teramat asing—sebuah senyuman yang jelas bukan milik sahabat yang kukenal. Dengan kedua lengan terentang mendekap erat bangku kayu, ia bersenandung dengan intonasi yang aneh.

Sangat-sangat aneh.

“Tooogaaashiii-kuuun…” panggilnya mendayu-dayu, memanjangkan tiap huruf vokal. “… Aaa-paaa yang kauu ka-taa-kaan? Aaakuu me-nyu-kaa-ii baan-gkuu i-niii lhoo~?”

Aksen bicara yang ganjil seketika memicu sirine melengking di dalam kepalaku. Tanpa membuang waktu, aku menarik lengannya paksa dari benda keramat yang selalu dijauhi seluruh siswa. Aku mengunci kedua ketiaknya dari belakang seolah tengah menyandera seseorang dari suatu bahaya.

“Tooo-gaaa-shiii-kuun~?”

Lihat selengkapnya