Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #29

Kasus Kelima, Bangku Ketiga Belas Yang Sial (9)

Seminggu telah berlalu semenjak tenggat waktu dari Kagawara Yumine dimulai.

Seperti dugaanku, gejala kutukan Bangku Ketiga Belas yang menimpa sahabatku kian menjadi-jadi. Kini, ia makin sering tertawa sendiri atau mengobrol dengan bangku kayu mati yang tak bernyawa. Teman-teman sekelas di 6-A yang dicekam ketakutan akan rumor kutukan enggan terlibat lebih jauh—menjadikan Kagawara murid yang terasing dan dikucilkan secara instan.

Kejadian ini sudah kulaporkan kepada pihak sekolah dan kedua orang tua Kagawara. Namun, kabar buruk datang ketika orang tuanya merencanakan opsi pindah sekolah demi memulihkan kondisi mental sang putri. Gadis itu justru mengamuk bak hewan kelaparan, dan, menurut rumor yang beredar, ia bahkan tak ragu menodongkan pisau ke arah orang tuanya sebagai ancaman.

Alhasil, aku mendadak dijadikan tumpuan oleh banyak pihak sekaligus. Mereka tahu aku satu-satunya orang yang paling dekat dan kerap berkomunikasi dengan Kagawara—padahal, sejak hari itu, kami nyaris tak pernah makan siang bersama seperti biasanya. Kami pulang sendiri-sendiri jauh lebih cepat. Kalaupun sempat berbincang, durasinya sangat singkat dan terasa kaku karena watak Kagawara telah berubah total.

Sekarang, satu-satunya harapan hanya terletak pada penyelidikan independen yang kulakukan sendiri.

Meski belum menemukan kesimpulan akhir dalam sepekan ini, aku berhasil mengupas beberapa fakta unik terkait kasus Bangku Ketiga Belas yang usianya sudah cukup gaek.

Pertama, korban awal dari kutukan ternyata bukanlah Kaoru Ai, sebagaimana rumor yang beredar, melainkan seorang siswi pendiam bertubuh pendek bernama Ishigami Rita—yang seharusnya berperan sebagai figur antagonis di hidup Kaoru. Ia wafat pada tahun 1991, tepat tiga tahun setelah Kaoru Ai lulus. Fakta ini memperjelas adanya pihak tertentu yang sengaja memanipulasi narasi asli kutukan Bangku Ketiga Belas, walau aku belum tahu siapa dalangnya.

Kedua, kutukan Bangku Ketiga Belas memiliki pola berulang saat melancarkan aksinya: seluruh korbannya adalah perempuan, dengan jeda interval konstan selama tiga tahun. Data resmi memang mencatat bahwa jeda tiga tahun ini dipicu oleh munculnya murid penasaran baru yang nekat menduduki bangku tersebut, atau siswi pendiam yang menjadi korban perundungan dan dipaksa pindah ke sana oleh geng perempuan berkuasa.

Akan tetapi, kenyataan-kenyataan yang terlalu kebetulan ini… masih terasa amat janggal.

Asumsi demi asumsi bertebaran di benakku, merangkai berbagai variabel konklusi. Mengandalkan seluruh literatur yang kulahap seumur hidup, aku berusaha menyusun puzzle-puzzle tentang apa yang sebenarnya terjadi di SD Fukikage sejak akhir abad kedua puluh. Lalu otakku kubiarkan berpikir lepas.

Bangku yang terkutuk.

Pola kematian berulang tiap tiga tahun.

Korban yang selalu siswi perempuan.

“Ughh…”

Sambil membolak-balik foto-foto lama SD Fukikage, kepalaku pening luar biasa ketika mendapati kasus ini menemui jalan buntu. Mataku meneliti satu per satu wajah murid yang pernah menghuni kelas 6-A dalam berbagai dokumentasi acara sekolah—termasuk foto angkatan Kaoru-san pada tahun 1988 bersama Jinko-sensei di festival olahraga. Saking lelahnya, aku terkapar di atas meja, setengah pingsan karena melewatkan bekal makan siang.

Para penghuni kelas 6-A terdahulu tampak begitu damai tanpa menyimpan dendam. Rekam jejak kredibilitas mereka di buku rapor tergolong baik saat aku kembali menyusup ke ruang guru untuk membobol basis data Fukukawa secara ilegal. Laporan resmi kepolisian pun menarik muara kesimpulan yang sama: kasus bunuh diri murni. Temuan ini kian menambah beban psikologis di dadaku, memupuskan harapan yang sebelumnya sudah remang.

Jangan tanya dari mana aku mendapatkan dokumen-dokumen resmi yang cukup rahasia tersebut.

Dulu aku ingin percaya, bahwa ini hanyalah kutukan biasa yang lahir dari tragedi masa lalu yang kelam, atau gejala psikologis turunan yang terlahir akibat halusinasi belaka. Namun, fakta unik ketiga mematahkan dugaan itu: Ishigami Rita—korban pertama—sama sekali tidak mengalami perundungan dari teman sekelas, tidak mendapat pelecehan dari murid berkuasa, ataupun memiliki riwayat gangguan mental yang memicu perilaku aneh.

Ishigami Rita adalah anak baik-baik yang introvert. Ia memiliki lingkaran sahabat tulus yang peduli dan kerap merangkulnya saat berfoto bersama. Sepanjang bersekolah di SD Fukikage, gadis itu tak pernah terlibat konflik dengan murid bermasalah mana pun. Artinya, pemicunya bukanlah sosok arwah Onryo—roh pendendam dalam mitologi Jepang yang kerap merenggut nyawa manusia—melainkan sesuatu yang telah berakar pada tahun-tahun sebelum 1991.

Sesuatu yang telah terjadi jauh sebelum itu.

“… Sialan…”

Penyelidikanku hari ini pun gagal total—tak menemukan titik terang.

Hari-hari berikutnya berlalu jauh lebih cepat dari yang bisa kubayangkan.

Lingkar hitam telah mengitari mataku dan wajahku tampak begitu kusut hingga aku sempat dimarahi ibu di rumah. Bukan hanya mengkhawatirkan Kagawara-chan, Jinko-sensei di kelas pun mulai mencemaskan kondisi fisik dan mentalku yang kian merosot. Sementara Kagawara Yumine? Ia tetap tertawa-tawa sendiri seperti biasa, sesekali menatapku dengan mata melotot, menyeringai lebar.

“Tinggal satu hari!” serunya, menahan gelak. “Hanya satu hari lagi dan kesempatanmu bakal habis, Togashi Uzura!”

Hari penentuan yang dijanjikan itu akhirnya tiba.

Sengaja datang lebih awal ke sekolah, aku langsung mengambil sederet langkah antisipasi untuk segala sesuatu yang akan terjadi. Saat satpam sekolah masuk, aku meminta kunci akses menuju atap gedung dengan dalih ingin membantu membukanya—padahal kunci itu kukantongi dan gemboknya kubiarkan menggantung agar tidak ada orang yang bisa naik dan menjatuhkan diri secara konyol—jaminan utama agar Kagawara tak menggunakannya nanti waktu istirahat.

Kolong meja ketiga belas—tempat duduk Kagawara Yumine—juga tak luput dari pemeriksaanku.

Sebagai langkah pencegahan kedua, aku sengaja menyita beberapa benda tajam yang berpotensi memicu kerusuhan jika dipegang oleh sahabatku. Di hari yang mendebarkan, aku tidak boleh melakukan keteledoran sekecil apa pun—atau tragedi kutukan di kelas 6-A akan berulang.

“Baiklah…” bisikku pelan sembari menyapu peluh. “… Segini harusnya sudah cukup.”

Barang-barang milik Kagawara kusembunyikan di loker pribadiku di belakang kelas.

Lihat selengkapnya