Keheningan mencekam menyergap ruang tamu yang remang. Hening itu hanya dipecah oleh dengkuran tipis beberapa tamu yang sudah terlelap. Cahaya lampu menumpah searah di atas wajah-wajah yang didera rasa penasaran, memancarkan bayang-bayang tajam memanjang pada dinding. Sementara di sudut ruangan, mesin pendingin udara putih berdengung halus, membuang embun tipis beraroma lemon yang khas.
Aku berhenti sejenak, mengambil napas panjang.
Tatapanku tertuju pada Fei, Anna, dan Mio Shirakawa. Ketiganya menegakkan posisi duduk, mengernyitkan dahi—setengah tak percaya pada kengerian yang kualami semasa SD. Di samping mereka, Ibu—yang sudah paham betul kelanjutan tragedi ini—menopang dagu dengan kedua punggung tangan. Sikapnya santai bagai menonton drama di layar TV, namun matanya memancarkan ketertarikan antusias pada penyelidikan mandiri yang kulakukan atas misteri Bangku Ketiga Belas beberapa tahun yang lalu.
Tak sabar menanti kelanjutan kisah, Fei Xiang meluncurkan badan ke depan. Wajahnya mendekat penuh gairah kepadaku.
"Ja… Jadi?!" serunya, serak. Hampir menjerit. "Ka… Kawanmu yang cantik itu… benar-benar mati mengenaskan karena kutukan?!"
Mio Shirakawa menimpali sembari memijat kening yang pening. "Sungguh tak masuk akal..."
"Kagawara Yumine dimakamkan pada sore harinya.” Aku melanjutkan pelan. Alisku sedikit menekuk. "Di bawah siraman hujan musim semi—padahal hari seharusnya cerah dengan aroma bunga yang mekar—waktu itu... aku hancur. Aku tersungkur menangis histeris di tanah kuburan. Aku merasa benar-benar kehilangan sesuatu yang berharga."
Berdehem pendek, aku menundukkan kepala menatap permukaan meja kayu. Membayangkan kembali salah satu momen paling menyedihkan yang pernah kualami seumur hidup.
"Ide penyelidikan Bangku Ketiga Belas itu berawal dari keteledoranku sendiri. Oleh karenanya, aku memberanikan diri bertandang ke rumah keluarga Kagawara yang amat jauh dari sekolah. Di hadapan sepasang suami-istri yang tengah berduka, aku membungkuk serendah-rendahnya, memohon ampun atas dosaku yang mungkin tak akan pernah termaafkan sepanjang masa."
Aku lalu bungkam sebentar. Menangkupkan kedua tangan di atas meja, aku perlahan menegakkan kepala. Menatap sosok-sosok yang menyimak kisah piluku dengan pendar mata yang jauh lebih tajam dan dingin—berbeda daripada sebelumnya.
Anna yang peka menangkap perubahan raut wajahku langsung menyela ringan, memancing.
"Jadi," cetus si gadis berambut pirang. "Setelah penderitaan itu, kau berhasil menemukan sang dalang dan menuntaskan kasusnya, Togashi-kun?"
Mio Shirakawa tertawa canggung. "E-Eh?! Mana mungkin! Anna-chan... Bukankah pelakunya sudah pasti hantu, roh jahat, atau sejenisnya? Kasus seperti itu seharusnya tidak—"
"Tepat seperti dugaanmu, Anna-san," potongku dingin.
Mio membisu spontan.
"Pada akhirnya," sambungku tanpa keraguan, "aku berhasil melacak pelaku utama di balik rantai kematian siswi Kelas 6 Fukikage—sosok yang menebar teror mengerikan selama puluhan tahun. Dan aku memberinya pembalasan yang setimpal."
Fei dan Mio melongo lebar. "Ya… Yang benar saja!" seru mereka bersamaan.
"Yang kukatakan telah benar apa adanya, Fei-chan, Mio-chan," Aku membalas datar. "Sebab, tepat setelah jasad Kagawara ditimbun tanah pemakaman... aku, dengan sisa kenekatan gila yang kupunya… memutuskan bertukar peran dengan sahabatku, Kagawara Yumine, yang telah tewas."
Suasana mendadak membeku. Tiga gadis SMP Ichiban di hadapan merinding hebat. Bahu dan lutut mereka bergetar kecil, seolah-olah gema tragedi masa lalu turut hadir merayap di ruangan tersebut. Mereka meneguk ludah dengan bersusah payah.
"Benar," bisikku pelan. "Sebab, keesokan harinya, aku juga melangkah masuk ke dalam kelas yang masih sunyi..."
"... lalu menduduki Bangku Ketiga Belas Yang Sial."
“Mencoba menjadi korban yang kesebelas.”
***
Satu jam berlalu sejak bel pulang berdentang.
Tak seperti murid lain yang berhamburan pulang, aku masih bergeming di tengah kelas seperti orang sedang tertidur tapi matanya terbuka. Seharian penuh menempati Bangku Terkutuk membuat pikiranku tiba-tiba saja sarat oleh analisis dan retakan puzzle yang berkecamuk beberapa hari terakhir. Mataku menatap kosong ke arah papan tulis yang bersih tanpa coretan. Emosiku menguap habis seolah habis dirampas oleh seseorang.
Lalu, di tengah terpaan mentari sore yang memerah saga...