Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #31

Kasus Kelima, Bangku Ketiga Belas Yang Sial (11)

 “Jinko-sensei! Jinko-sensei! Lihat!”

Dengan nada ceria yang menggemaskan, Kaoru Ai memanggil sang wali kelas baru yang masih tampak canggung dan kaku. Berduaan, mereka menjelajahi sudut-sudut sepi perpustakaan yang lenggang dan senyap, mencari buku-buku menarik untuk dibaca bersama. Sesekali, keduanya sempat terbatuk halus oleh debu tua yang merayap di udara, lalu terkekeh dalam kecanggungan aneh tapi menyenangkan.

Tak butuh waktu lama—hanya dalam setengah jam—insting tajam Kaoru Ai si murid teladan membawa penjelajahan itu hingga menemukan buku bersampul kulit cokelat kusam yang tertumpuk dalam kardus usang di gudang belakang.

Judulnya terukir samar: Nihon Shoki, Jilid XI.

Membaca tajuk yang sepertinya tak asing di wawasannya, Jinko-sensei—yang pada dasarnya penakut dan mudah cemas—sontak menjerit kecil. Ia terperanjat, buru-buru mencengkeram kedua pergelangan tangan Kaoru Ai dan menatap muridnya dari jarak teramat dekat.

“Ka—Kaoru-chan!” panggil sang guru, panik. “D-Dari mana kau mendapatkannya?!”

Kaoru Ai yang polos dan tak mengerti apa-apa hanya memutar bola mata bingung sembari mengangkat bahu. Berujar.

“Dari kardus usang di gudang belakang.” Ia mengaku singkat.”Ada apa? Apakah buku bernama Nihon Shoki ini sangat menarik?”

“Bu... bukan hanya menarik...” bisik Jinko-sensei, matanya melebar ketakutan. “M-Meskipun buku ini memuat sejarah panjang peradaban Jepang era Nara tahun 720 M di bawah pengawasan Pangeran Toneri... kitab kuno yang kau bawa juga mencatat ritual-ritual purba lengkap dengan khasiat mistisnya—Ki—Kita... kita harus mengembalikannya sebelum hal buruk dapat terjadi!”

Dahi Kaoru Ai terlipat dalam. “Hee... Dikembalikan?” Wajah cantiknya menekuk kecewa. “Kalau begitu akan sayang sekali, bukan?”

“T-Tapi ini demi keselamatan kita, Kaoru-chan!”

“—Mari kita buka dan intip isinya sebentar, Jinko-sensei! Try And Error, Bukankah semua orang sukses pernah melakukannya?!”

“KAORU-CHAAAN!”

PLOP!

Mengabaikan seruan sang guru, rasa penasaran Kaoru Ai membuncah hebat. Diiringi tawa renyah sang murid teladan, lembaran tengah kitab tua ratusan tahun itu terbuka, meletupkan debu tipis ke udara.

Meski beberapa bagian sudah butut dan pudar dikikis masa dan oksidasi udara, tulisan kuno di dalamnya masih sanggup dibaca oleh otak encer sang juara kelas. Dengan mudah, matanya menelusuri deretan praktik terlarang yang tertulis di zaman silam. Hingga akhirnya, pandangannya terkunci pada satu ritual yang paling memikat. Menoleh dengan pendar mata yang berbinar.

“S-Sensei! Lihat ini! Lihat!”

Dengan sedikit memaksa, gadis manis itu menodongkan halaman buku ke hadapan gurunya yang masih merinding ngeri. Ia memamerkan lembar pelaksanaan ilmu hitam misterius—sebuah cara curang yang diklaim sanggup mengawetkan sesuatu secara ajaib. Sudut bibir Kaoru terangkat lebat saat dengan antusiasnya ia berujar.

“Jika kita memakai cara ini...” Suara Kaoru menggantung dengan sorot mata menggila. “... ki.. Kita bisa awet muda selamanya! Bukankah itu sangat hebat?! Sensei pasti mau, kan? Ya, kan?! Can-tik se-la-ma-nya!”

Jinko Mimosa sebenarnya enggan meladeni kelakuan murid didiknya yang terlalu nekat dan gampang meremehkan hal berbahaya. Namun, didorong rasa penasaran yang mendadak merayapi benak, tubuhnya seolah dapat bergerak sendiri untuk mendekat. Ia menyipitkan mata, mencoba memahami bait-bait kuno yang baru dibaca murid kesayangan di depan. Menyipitkan sepasang mata.

“R-Ritual hitam... Hitobashira?” desis Jinko-sensei, menelan ludah dalam-dalam.

Ia kemudian menatap Kaoru dengan sorot mata penuh arti.

“Se… Sebenarnya, Kaoru-chan...” ulas sang guru, jarinya menelusuri aksara tua yang kusam dan pudar. “… Seingat sensei, Hitobashira bukanlah ritual untuk mengawetkan masa muda atau mengabadikan kecantikan sebuah makhluk hidup….”

Sepasang mata berkantung milik Jinko menyipit makin dalam.

“… Ritual ini hanya digunakan orang-orang untuk memperkokoh benteng, jembatan penghubung vital, atau istana kerajaan zaman dahulu agar tak hancur diserang oleh musuh. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecantikan abadi atau keawetan masa muda...—”

“Kalau begitu tinggal kita buktikan!” potong Kaoru Ai penuh semangat di tempat yang salah. “Penulisnya mencatat begitu mungkin karena memang belum pernah mencobanya untuk manusia! Kita uji saja, dan kebenaran tersembunyi akan terungkap!”

“T-Tunggu dulu, Kaoru-chan!” Jinko-sensei menemukan baris kalimat yang lebih mengerikan.

Demi hal itu Kaoru Ai terdiam sejenak. Menanti apa yang akan dikatakan oleh sang guru.

 “D-Di sini tertulis... Bahwa untuk memperoleh keabadian atau perlindungan mutlak dari kerusakan, dibutuhkan tumbal seorang gadis sebagai bayaran tiap tiga tahunnya. Ja—Jadi... kalau kau bersikeras melakukannya, maka kita... Ki… Kita—”

“—Kita hanya perlu membunuh seorang gadis untuk menguji dampaknya, kan?” Kaoru Ai memiringkan kepala, melepas senyuman polos yang justru tampak gila di mata Jinko. “Itu hal yang mudah.”

“J-Jangan katakan hal mengerikan dengan wajahmu yang seperti itu, Kaoru! Sensei jadi takut, tahu!”

Lihat selengkapnya