“Seperti yang kubilang, Togashi-kun. Kau ini… benar-benar anak SD, kan?”
Keheningan merayap di antara pekatnya sore di Kelas 6-A SD Fukikage—ruangan yang menyimpan aroma kematian selama puluhan tahun lamanya. Langit tampak mendung, memadamkan pendar surya yang menyemburat di ufuk barat. Dari balik jendela, kepakan sayap burung gagak membentur udara, meletupkan irama halus yang memantul di antara deretan bangku kosong, membuat atmosfer horor terasa kian nyata dan mencengkeram.
Jinko-sensei berdiri di depan kelas. Seringai tipis telah terukir di wajahnya beberapa detik lalu. Ia menegakkan dagu—seperti seekor predator yang siap merobek mangsa. Sorot matanya dingin, buas, dan hampa. Kasih sayang serta kepedulian seorang guru telah menguap sepenuhnya, digantikan oleh aura yang gelap, pekat dan sangat-sangat asing.
Aku bangkit dan berkacak pinggang di dekat Bangku Ketiga Belas, bergeming. Sebenarnya, ada segudang bukti fisik yang ingin kupaparkan terlebih dahulu sebelum kejahatan wanita ini kukuliti habis. Namun, melihat gestur dan seretan langkahnya yang mengintimidasi, aku langsung paham: Jinko Mimosa bukanlah tipe pembunuh yang bakal berlutut pasrah saat kedoknya dibongkar. Ia akan membungkamku di sini, detik ini juga. Dengan cara apa pun.
“Hei… Togashi-kun…” panggil Jinko-sensei halus.
SAT!—Sosoknya melesat bak bayangan hitam menghilang.
“… Sesuai janji yang kita sepakati, kau akan menggantikan posisi Kagawara Yumine yang manis dan lezat itu, kan?”
Ia muncul tepat di hadapan wajahku. Dengan sorot mata berkilat-kilat, wanita itu menghunus sepucuk gunting besi berukuran panjang yang jelas sekali tajam. Berniat menghujamkan benda berbahaya tersebut kepada diriku.
ZLEB!
Tapi sayang sekali.
Meski unggul dalam kecepatan dan serangan mendadak, Jinko-sensei—atau entitas yang merasuki tubuhnya—tidak memperhitungkan satu hal: aku masih mampu menjadikan tas ranselku sendiri sebagai tameng mutlak.
Saat bilah gunting itu terperosok menembus tumpukan buku tebal di dalam tas, kini giliran aku bergerak cepat. Kutarik dan kupelintir lengannya yang terjulur tanpa pertahanan kencang-kencang hingga tubuhnya terbanting ke lantai kayu. Lantas, tanpa membuang waktu, aku melompat, menindih tubuhnya sembari menghentakkan pijakan sepatu tepat di dada untuk menambah penderitaan.
Kupikir itu akan cukup untuk membuatnya tak mampu melawan namun—
GRAB!
—seperti yang kusangka, wanita yang kulawan masih bisa menyerang balik, menyambar pergelangan kakiku diiringi tawa melengking pemecah telinga.
“HAAAHAHAAHAHA! KAU PIKIR KAU BISA MENANG MELAWANKU, TOGASHI-KUN?!”
Keseimbanganku pun runtuh. Aku dilempar lepas dan menghantam barisan meja-meja yang sudah tertata rapi. Beruntung, dengan bobot tubuh anak kelas 6 SD yang ringan, benturan itu tidak sampai mematahkan tulang atau memberikan cedera berarti pada diriku. Dengan kepulan debu dan rasa nyeri merayap di beberapa titik, aku berusaha bangkit dalam hitungan detik. Memasang kuda-kuda bertarung yang pernah kubaca di buku seni beladiri legendaris Gorin No Sho karya Miyamoto Musashi.
Niatku semula adalah bertahan. Namun dalam sedetik berikutnya, dari jarak yang sangat dekat, gunting tajam yang tadi seharusnya masih menancap di tas ransel sekonyong-konyong telah terlepas, melayang kencang mengincar bola mataku!
CTAK!
Aku memang berhasil mengepakkan kepala ke samping di saat-saat terakhir sehingga bilah mematikan itu menancap pada dinding kayu di belakang. Menciptakan bunyi hentakan yang menandakan kerusakan pada dinding kelas. Akan tetapi, yang sempat tak kusadari, lemparan itu ternyata cuma tipuan. Jinko-sensei yang sudah mengambil posisi di titik buta sebelah kananku melesat maju, menghantamkan tendangan lurus tepat ke arah wajah.
BUAAK!
Aku terpelanting jauh, bergulingan di atas lantai berdebu. Suara jeritan dari tenggorokanku meluncur dengan nada yang terputus-putus. Lalu aku mengeram. Menahan perih yang merambat di antara syaraf-syaraf.
TAP!