Pagi itu di SMA Ichiban berjalan sedikit di luar kendali—tepatnya, saat aku melangkah masuk ke dalam kelas sembari membawa seorang gadis di sebelah tangan.
“To—Togashi-kun?!” Sebuah seruan langsung meledak. Yang lain menyahut. “Ga… Gadis itu?!”
Aku melengos begitu saja mencari bangku. Tak sudi membuang energi hanya untuk menanggapi kehebohan orang-orang yang mendadak syok, aku bersikap acuh, menganggap tuduhan-tuduhan tanpa bukti yang terus dilemparkan sesuka hati adalah angin lalu, menjalani hariku seperti biasa.
Setelah meletakkan tas, aku menarik keluar buku sejarah era Taisho yang kuselipkan di antara buku pelajaran. Waktunya menjalankan ritual pagi: mengasah wawasan di bawah naungan hangat mentari dari balik jendela.
[Terkadang tuhan menciptakan dua tangan supaya kita tutup telinga daripada menyumbat mulut orang lain yang tak ada habisnya.]
Hanya butuh semenit, hingga sang primadona sekolah, Fei Xiang, membuka pintu masuk. Senyumannya yang hangat dan menawan seketika membilas aura kelabu di sudut-sudut ruang kelas 9-A yang kering. Para pemujanya—baik laki-laki maupun perempuan—langsung melambaikan tangan heboh.
"Selamat pagi, semuanya~! Mari kita berjuang bersama untuk satu hari lagi di sekolah, ya~?! Kalian siap~?!"
"Fe--Fei-chaan! Selamat pagi~!"
"Kau cantik seperti biasanya, Fei!"
"Beruntungnya aku masih hidup hingga saat ini!"
"Hehehe~ Jangan pingsan dulu~ Kelas habis ini akan dimulai sih...~ agenda pingsan berjama'ahnya nanti saja sepulang sekolah!"
"Se--Seperti yang anda inginkan, Malaikat Kami!"
Seperti biasa, Fei melayani seluruh fans berat sekaligus kawan-kawan yang dimilikinya di kelas. Berada di samping gadis tersebut, Yamazaki Umi berdiri tegap sebagai perisai pribadi primadona yang memiliki figur sebagai ‘gadis rapuh’. Tatapan matanya tajam, menyapu sekeliling ruangan untuk memberi peringatan tak tertulis bagi siapa pun yang berani mendekati Fei akan mendapat balasan mengerikan.
Selesai melaksanakan rutinitas pertamanya di kelas, Umi mengawal langkah Fei yang hendak menyapaku dari kejauhan. Namun, baru tiga langkah berjalan, kedua siswi itu malah mendadak membeku di tempat. Tangan mereka terhenti tepat di awang udara. Wajah mereka pucat.
"To... Togashi-kun?"