“Togashi-kun, tolong aku!”
Rasanya aku pernah mengalami kejadian yang mirip dengan ini.
Lorong-lorong kelas yang telah lenggang. Sisa-sisa mentari menyusup dari jendela. Desiran angin yang begitu dingin menusuk tulang. Seorang gadis membungkuk dengan keputusasaan.
Aku seperti sedang mengalami suatu déjà vu secara mendadak.
Apakah aku bermimpi?
Sepertinya tidak.
“Jika bukan dirimu—“ Suara itu berlanjut. “—Aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan kemana lagi, Togashi-kun! Huhuhu… Kumohon! Kali ini saja!”
Langkah kakiku masih membeku di depan perpustakaan yang baru saja kututup setelah menyelesaikan tugas piket. Lin Xiang, yang sore ini memaksa ikut dan sedikit membantu, seperti yang dilakukannya dari pagi, ia masih menempel bertengger di bahuku sambil berusaha tidur.
Mengintip dari kejauhan, aku sadar bahwa sang kakak, Fei, yang merasa dipecundangi oleh adiknya sendiri geram, dan mengirim tatapan permusuhan. Ia bersembunyi di balik persimpangan lorong yang penuh bayangan—cocok sekali menjadi sosok penampakan misterius dari sebuah film horror atau dokumentasi situs terlarang.
Bola mataku berputar, untuk kemudian berhenti di hidung Mio Shirakawa yang tubuhnya dari tadi gemetar seperti kejang.
Aku menghela napas, mengusap wajah.
“Memangnya, Mio-san…” Kalimatku menggantung dingin. “… hubungannya dengan diriku… itu apa? Kau bukan siapa-siapaku—jadi, aku tidak harus menanggapinya, kan? Sampai jumpa.” Tanpa ampun, aku menjawab sinis, meninggalkan gadis itu pergi begitu saja—persis seperti kronologi Aoi Miharu yang pada akhirnya dibunuh ayah sendiri.
“HU—HUWEEEEEE~!!! TOGASHI-KUUN~!!!”
Tak elak, Mio Shirakawa menangis kencang. Bunyi lengkingan pilunya memantul di antara sudut-sudut SMP Ichiban yang gelap dan sedikit berdebu. Kedua kaki gadis itu kehilangan kemampuan untuk menopang tubuh. Ia ambruk diiringi suara gedebuk pelan yang cukup jelas. Lalu ia memukul dinding-dinding bercat putih sambil sedikit mencakar.
“KALAU KAU TIDAK MENGABULKAN PERMINTAANKU!!” Gadis yang mulai gila mengancam. “AKU AKAN MENGHANCURKAN SEKOLAH INI!!”
Ia mengatakannya sambil mencoba menggigit salah satu titik dinding yang keras.
Aku melambaikan tangan perpisahan.
“Lakukan saja—toh, aku masih bisa pindah ke sekolah lain.”
“TOGASHI-KUN JAHAT! TAK BERPERASAAN! KAKU! IBLIS! MAFIA! BRENGSEK—“
Suara Mio Shirakawa menghilang saat aku—bersama Lin Xiang di sebelah—menuruni anak tangga menuju lantai satu yang melingkar spiral sempurna. Kami berjalan beriringan, sebelum tiba-tiba ia menolehkan wajahnya tipis, bertanya pelan.
“Togashi-senpai…” Panggil gadis itu—yang sebenarnya masih kelas 7—sembari mengedipkan mata setelah mengamati bagaimana penolakanku yang brutal. “… Senpai ini… Antagonis, ya~?” Ia mengembangkan senyumannya yang berkilau indah, memeluk tanganku erat-erat.
Aku tak peduli.
“Terserah kau saja—tapi lepaskan tanganku.”
“Tidak mau~”
“Kupanggil polisi, lho.”
“Panggil saja—nanti bakal kubunuh.”