Togashi Uzura: Detektif Bayangan

Ariaria
Chapter #35

Kasus Keenam, Pembunuhan Berantai Di Mansion Kurotsuki (1)

Mio Shirakawa sudah memasang posisi membungkuk kaku ketika aku melangkah masuk ke dalam kelas di pagi yang cerah. Ruangan masih lenggang dan dingin, memantulkan bunyi derap sepatuku dengan ritme konstan. Decitan pintu besi yang terdorong terdengar mengiris udara, berdengung bagai tiupan terompet yang tak ditutup rapat.

Seperti biasa, menanggapi perlakuan yang demikian, aku bersikap acuh tak acuh. Aku melewati gadis berambut kuncir kuda seolah ia hanyalah patung salah tempat. Usai meletakkan tas, aku memulai ritual pagi: membaca buku sejarah Kekaisaran Taisho era 1868–1912 Masehi seraya menyilangkan satu kaki sedikit lebih tinggi.

Gadis yang sejak kemarin tak bosan-bosannya memohon kembali angkat bicara.

"… Ma—Maafkan aku, Togashi-kun!"

Suaranya memantul hingga sampai di sudut-sudut kelas terjauh yang sepi—tapi aku tak berniat memberikan respons.

Membalik halaman berikutnya, aku mendengus pelan sembari bertopang dagu. Lirikan mataku diam-diam menyapu wajah Mio Shirakawa yang memelas, hampir pecah oleh tangis.

Ia meneruskan dengan nada bergetar,

"Mu… Mungkin tadi malam aku memang keterlaluan karena meminta bantuan ibumu untuk mendesakmu… Ta… Tapi! Apa yang kuberitahukan soal sepupuku dalam bahaya besar itu sungguhan nyata! Percayalah padaku, Togashi-kun! Tolong kami—kumohon!"

"Sudah kubilang, kan?"

Aku akhirnya merespons, datar.

Menutup buku sejarah dengan kasar hingga menimbulkan dentuman nyaring di atas meja, tatapanku menusuk Mio yang seketika membeku di tengah kelas. Karena ketenanganku serasa diusik, aku jadi naik pitam dan tak begitu memikirkan perasaannya, langsung menyemprot keras.

"KAU PIKIR SIAPA DIRIMU DISINI HINGGA BERANI MENYURUH-NYURUHKU, HAH?! SADARI POSISIMU, GADIS BODOH!!"

Seketika, ruangan kembali hening mencekam.

Mio Shirakawa tersentak.

Wajahnya pucat mendapati fakwa bahwa diriku ternyata bisa meluapkan emosi segalak itu.

Ia melangkah mundur dengan bahu gemetar.

Aku tahu gadis itu masih ingin memohon—tetapi sisa keberaniannya telah menguap habis dan kalah oleh rasa takut.

Untuk sejenak, aku menyesal dan sadar bahwa tindakanku mungkin memang kelewatan.

Namun, diriku adalah diriku. Aku tak akan sudi meminta maaf atas sesuatu yang pada dasarnya memang merupakan hak mutlak atas hidupku, meski secara kasat mata, itu bisa melukai perasaan orang lain.

Setiap individu disini berhak menolak.

Setiap individu tidak boleh dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tak ingin dilakukannya sendiri.

Dan beruntungnya, aku termasuk dalam keumuman individu yang dimaksud barusan.

"Padahal.” bisik Mio Shirakawa, memecah lenggang. “Padahal kukira Togashi-kun adalah orang yang baik,"

Dada gadis tersebut naik-turun menahan guncangan emosi. Ia tak sanggup lagi membendung air mata yang menetes ke lantai, mulai menangis.

"Umi-chan, Anna-chan, Fei-chan… mereka semua bilang Togashi-kun adalah lelaki yang bisa diandalkan. Aku mencoba memercayaimu, Togashi-kun. Dari cerita kemarin, saat kau berjuang keras menyelamatkan siswi kelas 6 SD yang merupakan satu-satunya sahabat baikmu… aku jadi sadar bahwa selama ini aku telah memandangmu sebelah mata."

Setelah itu, Mio berusaha tersenyum—tetapi gagal total. Wajahnya menyiratkan campuran antara kekecewaan, kesedihan, dan rasa takut yang disatukan secara paksa. Lalu kalimatnya kembali teruntai.

"Tapi…” Ungkap gadis berambut hitam kuncir kuda. “… sepertinya, dugaanku salah besar, ya?"

Lihat selengkapnya