Aris berdiri mematung di balik tirai jendela yang sudah kusam dan berlubang, memandangi pantulan cahaya lampu taman dari rumah megah di seberang jalan. Tangannya tanpa sadar mulai memilin ujung kaosnya yang sudah menipis, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali dadanya terasa sesak oleh himpitan kenyataan. Di sana, di balik pagar besi tempa yang kokoh, Keluarga Surya sedang tertawa riang sambil menurunkan kantong-kantong belanjaan bermerek dari bagasi mobil mewah mereka.
"Halah, paling juga cuma pamer biar dikata hebat," gumam Aris dengan nada bicara yang cepat dan sedikit terseret, ciri khasnya saat sedang memendam dongkol yang luar biasa. Ia selalu punya cara untuk meremehkan apa yang tidak bisa ia miliki, meski matanya tak mampu berbohong bahwa ia menginginkan setiap inci dari kemewahan itu. Baginya, dunia seolah sengaja membagi kartu yang buruk hanya untuk keluarganya, sementara tetangganya mendapatkan semua kemudahan tanpa perlu berkeringat.
Suara piring pecah yang disusul teriakan melengking ibunya dari arah dapur seketika memecah keheningan malam yang dingin. Aris hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, merasakan getaran amarah yang mulai merayap naik ke tenggorokannya akibat pertengkaran rutin orang tuanya mengenai tagihan listrik yang menunggak. Setiap kata cacian yang terlontar di rumah sempit itu terasa seperti sabetan cemeti yang mempertegas garis kemiskinan yang membelenggu hidupnya selama bertahun-tahun.
Ia memutuskan untuk keluar rumah tanpa pamit, membiarkan pintu kayu yang sudah lapuk itu berderit keras sebagai bentuk protes bisunya terhadap keadaan. Langkah kakinya yang berat membawanya menyusuri gang-gang gelap yang lembap, menjauh dari kebisingan rumah yang membuatnya merasa tercekik. Dalam benaknya, Aris sudah mengambil keputusan sepihak bahwa ia akan melakukan apa saja, termasuk menukar jiwanya, asalkan tidak perlu lagi mencium aroma minyak goreng bekas di baju ayahnya.
Sinar temaram dari sebuah toko antik yang terselip di antara bangunan-bangunan tua yang terbengkalai menarik perhatiannya secara mendadak. Toko itu tidak memiliki papan nama yang jelas, hanya sebuah lonceng kuno yang tergantung di pintu depan, mengeluarkan denting aneh yang seolah memanggil namanya secara pribadi. Aris berhenti tepat di depan pintu, merasakan dorongan aneh untuk masuk ke dalam dan mencari sesuatu yang bisa mengubah nasib buruknya yang terasa sangat tidak adil.
Udara di dalam toko itu berbau kayu cendana dan debu yang sudah mengendap selama puluhan tahun, menciptakan atmosfer yang mencekam sekaligus memikat. Di balik meja kayu yang tinggi, seorang lelaki tua dengan mata yang tampak sangat cerdas memperhatikan setiap gerakan Aris dengan seksama. Aris tidak ragu sedikit pun saat ia melangkah maju dengan ambisi yang meluap-luap, siap mempertaruhkan apa pun demi mendapatkan kehidupan seperti Keluarga Surya yang selalu ia puja-puja.
Lelaki tua itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung peringatan tersembunyi yang gagal ditangkap oleh Aris yang sedang terbakar rasa iri. Dengan suara yang berat, sang pemilik toko menawarkan sebuah kontrak yang terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan di telinga pemuda yang sedang putus asa itu. Aris segera meraih pena bulu di atas meja, tanpa menyadari bahwa bayangan di belakangnya mulai memanjang dan berubah bentuk menjadi sesuatu yang sangat asing.
Pagi dimulai dengan teriakan Ibu karena tagihan listrik yang menunggak, sebuah simfoni sumbang yang sudah Aris hafal di luar kepala. Ia meringkuk di atas kasur tipisnya, menekan bantal lusuh ke telinga demi meredam makian Ayah yang membalas dengan nada tak kalah tinggi. Ruang tamu sempit itu terasa makin menyesakkan, seolah dinding-dinding triplek yang lembap sengaja menghimpit napasnya setiap kali angka di meteran listrik berubah merah.
Aris bangkit dengan kasar, menyambar jaketnya yang berbau matahari tanpa berniat pamit pada kedua orang tuanya yang masih sibuk saling menyalahkan. Ia melangkah keluar, sengaja membanting pintu kayu yang sudah reyot itu hingga debu-debu beterbangan dari langit-langit. Di matanya, kemiskinan bukan sekadar kekurangan uang, melainkan racun yang perlahan-lahan membunuh rasa hormat dan kasih sayang di dalam rumah petak yang lebih mirip penjara ini.
Pandangannya tertuju pada rumah megah di ujung jalan, kediaman Keluarga Surya yang berdiri kokoh dengan pagar besi tempa yang menjulang tinggi. Dari kejauhan, ia bisa melihat Pak Surya keluar dari mobil mewah sambil tertawa lebar, merangkul istrinya yang tampak anggun dalam balutan sutra. Pemandangan itu bagaikan garam yang ditaburkan di atas luka batin Aris, memicu rasa iri yang membakar hingga ke ulu hati.
Ia sering kali berhenti sejenak di depan pagar itu, memperhatikan bagaimana mereka berinteraksi tanpa ada suara piring pecah atau makian kasar yang keluar. Bagi Aris, kehidupan di balik tembok besar itu adalah surga dunia yang mustahil ia jangkau, tempat di mana masalah bisa diselesaikan hanya dengan gesekan kartu kredit. Ia mengepalkan tangan di saku jaket, membayangkan betapa indahnya jika ia bisa bangun di tempat tidur empuk tanpa harus mendengar tangisan Ibu.
Langkah kakinya kemudian membawanya menyusuri gang-gang sempit hingga ia berdiri di depan sebuah bangunan tua yang tampak asing di tengah hiruk pikuk kota. Sebuah papan kayu usang tergantung di depan pintu, bertuliskan "Toko Tua Penukar Nasib" dengan tinta emas yang sudah banyak mengelupas. Bau kayu cendana dan debu kuno menyeruak keluar saat ia mendorong pintu itu, membawa Aris masuk ke dalam kegelapan yang penuh dengan rahasia tak terduga.
Di balik meja kayu yang tinggi, seorang pria tua dengan mata yang tampak sangat jernih menatap Aris seolah sudah menunggu kedatangannya sejak lama. Aris tidak ragu sedikit pun saat ia mengutarakan keinginannya untuk menukar hidupnya yang malang dengan kemewahan yang dimiliki oleh Keluarga Surya. Ia siap menyerahkan apa saja, tanpa menyadari bahwa setiap pertukaran nasib selalu menyertakan harga yang jauh lebih mahal daripada sekadar tumpukan uang di bank.
Aris menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma sisa tumisan kangkung yang gosong memenuhi rongga dadanya. Jemarinya yang kasar terus memainkan pinggiran gorden kusam yang sudah berubah warna menjadi kecokelatan akibat debu bertahun-tahun. Matanya terpaku pada gerbang besi tinggi di seberang jalan, tempat sebuah kehidupan yang jauh lebih berkilau sedang bersiap untuk memamerkan dirinya kepada dunia yang haus akan kemewahan.
Sedan hitam yang permukaannya begitu mengkilap hingga mampu memantulkan cahaya matahari dengan tajam perlahan merayap keluar dari garasi luas Keluarga Surya. Pak Surya berada di balik kemudi, mengenakan kemeja sutra yang tampak licin tanpa cela, sementara jam tangan emasnya berkilat setiap kali ia memutar setir. Aris memperhatikan bagaimana pria itu melemparkan senyum lebar yang terlihat begitu berwibawa, seolah-olah beban hidup tidak pernah berani mampir ke pundaknya yang tegak.
Di bangku penumpang, Ibu Surya melambaikan tangan dengan anggun, menampilkan deretan gigi yang putih sempurna dan perhiasan yang berkilauan di lehernya. Mereka tampak seperti potongan gambar dari majalah gaya hidup kelas atas yang sering Aris temukan di tumpukan koran bekas. Tawa mereka yang samar terdengar sampai ke seberang jalan, terdengar begitu renyah dan tanpa beban, membuat kerongkongan Aris terasa kering karena rasa iri yang mendadak mencekik.
Aris menunduk, melihat kaus oblongnya yang sudah bolong di bagian ketiak dan lantai semen rumahnya yang retak di sana-sini. Suara teriakan ibunya dari dapur yang meributkan kenaikan harga beras menjadi latar belakang yang menyakitkan bagi pemandangan indah di depannya. Ia sering membayangkan bagaimana rasanya duduk di atas jok kulit yang harum itu, menggenggam setir mobil mahal, dan tidak perlu lagi memikirkan tagihan listrik yang menunggak selama dua bulan berturut-turut.
Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya memutih, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali rasa tidak puas mulai membakar jiwanya. Ia merasa dunia sangat tidak adil karena membiarkan satu keluarga memiliki segalanya sementara keluarganya sendiri harus berjuang hanya untuk sekadar makan malam yang layak. Baginya, kebahagiaan sejati hanya bisa dibeli dengan lembaran uang kertas yang tebal dan status sosial yang dihormati oleh semua orang di lingkungan mereka.
Pandangannya kembali beralih pada toko antik kecil di sudut jalan yang tampak terabaikan oleh waktu, dengan papan nama kayu yang mulai lapuk tertiup angin. Toko itu selalu terlihat gelap, namun entah mengapa hari ini jendela kacanya yang berdebu seolah memanggilnya untuk mendekat. Aris merasa ada sesuatu yang menariknya, sebuah bisikan samar yang menjanjikan jalan pintas untuk keluar dari kemiskinan yang mencekik ini tanpa harus menunggu keajaiban yang tak kunjung datang.
Ia melangkah keluar dari rumahnya yang sempit, mengabaikan panggilan ibunya yang memintanya untuk membantu mengangkat jemuran yang mulai kehujanan. Pikirannya sudah penuh dengan bayangan rumah besar, pelayan yang sigap, dan rasa hormat yang akan didapatkannya jika ia menjadi bagian dari Keluarga Surya. Aris tidak peduli lagi dengan apa yang harus ia korbankan, karena baginya, hidup yang sekarang ia jalani tidak lebih dari sekadar hukuman yang ingin segera ia akhiri.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu toko antik itu, di mana seorang pria tua dengan janggut putih panjang sedang duduk tenang sambil memoles sebuah cermin kuno. Pria itu mendongak, matanya yang tajam seolah bisa membaca seluruh rasa iri dan ambisi yang berkecamuk di dalam hati Aris yang paling dalam. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang pria tua memberikan isyarat agar Aris masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi dengan aroma kemenyan dan barang-barang dari masa lalu.