Aris menyesuaikan posisi duduknya di atas sofa kulit yang terasa terlalu empuk, jemarinya terus memilin ujung kemeja sutra mahalnya--sebuah kebiasaan gugup yang tak hilang meski label harganya telah berubah. Ruang tamu kediaman Surya begitu luas hingga suara detak jam dinding terdengar seperti hantaman palu di telinganya. "Cuma butuh waktu buat terbiasa, Ris," bisiknya lirih, mencoba meyakinkan diri bahwa kemewahan ini adalah upah atas kemiskinan yang selama ini mencekiknya.
Aroma lilin aromaterapi mahal menyeruak, namun entah mengapa Aris merindukan bau asap tumisan bawang dari dapur sempit ibunya yang selalu membuatnya bersin. Di sini, dapur itu sunyi, hanya ada deretan peralatan perak yang berkilau dingin tanpa tanda-tanda kehidupan atau kehangatan sebuah masakan rumah. Matanya terus melirik ke arah tangga besar, menanti interaksi manusia yang biasanya penuh dengan teriakan akrab, namun yang ia dapati hanyalah kesunyian yang mencekam.
Langkah kaki berat terdengar dari lantai atas, dan Pak Surya muncul dengan wajah yang jauh dari senyum lebar yang biasa ia pamerkan di layar ponsel. Pria itu tidak menyapa, hanya melempar tas kerja kulitnya ke sembarang arah sambil mengumpat pelan tentang urusan kantor yang tidak beres. Aris terpaku melihat bagaimana pahlawan media sosialnya itu berubah menjadi sosok yang penuh amarah dan kebencian begitu pintu depan tertutup rapat dari pandangan publik.
"Kenapa masih duduk di situ seperti orang bodoh?" bentak Pak Surya tanpa menoleh, suaranya parau dan tajam seperti pecahan kaca. Aris hanya bisa menunduk, menyadari bahwa dalam rumah ini, kata-kata bukanlah jembatan komunikasi, melainkan senjata untuk saling melukai satu sama lain. Ia ingin membela diri, namun lidahnya terasa kelu, terjebak dalam peran baru yang ternyata jauh lebih menyesakkan daripada kemiskinan yang ia tinggalkan di toko tua itu.
Kejanggalan semakin memuncak saat makan malam tiba, di mana Ibu Surya duduk di ujung meja dengan tatapan kosong yang tersembunyi di balik riasan tebal. Wanita itu berulang kali memutar cincin berliannya dengan ritme yang mekanis, seolah sedang menghitung detik-detik penderitaan yang harus ia lalui setiap harinya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyentuh makanan, piring-piring porselen itu hanya menjadi saksi bisu atas kebisuan yang telah menjadi bahasa utama di rumah mewah ini.
Tiba-tiba, Ibu Surya merogoh laci kecil di bawah meja dan mengeluarkan sebuah botol obat tanpa label, lalu menelan dua butir pil sekaligus dengan tangan yang gemetar hebat. Ia menatap Aris sejenak, sebuah tatapan yang penuh dengan permohonan tolong yang tak terucapkan, sebelum akhirnya kembali memasang senyum palsu saat ponselnya berdenting. Dengan cekatan, ia mengambil swafoto di depan hidangan yang dingin, menciptakan ilusi kebahagiaan untuk ribuan pengikutnya di luar sana.
Aris merasakan mual yang hebat merayapi perutnya saat menyadari bahwa setiap tawa yang ia iri selama ini hanyalah koreografi yang disusun rapi di atas panggung sandiwara. Ia teringat meja kayu reyot di rumah lamanya, di mana meski hanya ada tempe dan sambal, mereka selalu berebut bicara dan tertawa hingga tersedak. Kini, di tengah gelimang harta, Aris merasa seperti tawanan yang sedang menunggu eksekusi dalam sebuah istana yang terbuat dari kebohongan yang sangat rapuh. Ia harus segera menemukan kunci itu sebelum jiwanya ikut membusuk bersama rahasia gelap keluarga ini.
Aris duduk mematung di kursi kayu berukir yang terasa terlalu kaku bagi punggungnya. Di hadapannya, meja panjang berbahan marmer itu seolah tenggelam di bawah beban berbagai hidangan mewah, mulai dari daging panggang yang masih mengepul hingga buah-buahan impor yang mengilap. Namun, aroma sedap itu justru terasa mencekik, bercampur dengan bau pembersih ruangan yang terlalu tajam dan steril.
Tangannya yang terbiasa memegang piring plastik kini gemetar saat menyentuh sendok perak yang berat. Ia terus-menerus mengetukkan ujung sepatunya ke lantai marmer yang dingin, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia merasa terdesak. "Sial, kenapa rasanya lebih dingin dari kulkas tua di rumah?" bisiknya dalam hati sambil menelan ludah yang terasa pahit.
Pak Surya, yang kini menjadi ayahnya, sama sekali tidak menoleh dari deretan layar gawai di depannya. Jemarinya menari lincah di atas kaca, sementara keningnya berkerut dalam seolah setiap detiknya bernilai jutaan rupiah yang tak boleh lepas. "Jangan berisik, Aris. Fokus saja pada makananmu atau pergi ke kamar," ucapnya dengan nada datar tanpa sedikit pun kehangatan atau emosi.
Di sisi lain meja, Ibu Surya hanya duduk diam dengan tatapan yang seolah menembus dinding kaca besar di belakang mereka. Ia berulang kali mengaduk cangkir kopinya yang sudah dingin, menciptakan denting logam yang monoton dan memuakkan. Tak ada sapaan pagi yang ceria, tak ada rebutan potongan tempe seperti yang biasa dialami Aris bersama adik-adiknya di rumah lamanya yang sempit.
Aris mencoba meraih sepotong roti, namun gerakannya terhenti saat melihat botol-botol obat kecil yang berjejer rapi di dekat piring Ibu Surya. Ia menyadari bahwa kemewahan ini hanyalah sebuah panggung sandiwara yang sunyi, di mana setiap orang memiliki naskah duka masing-masing. Di rumah ini, mereka tidak berbagi cerita, melainkan hanya berbagi ruang dalam kesunyian yang amat sangat menyesakkan dada.
Pikirannya melayang pada meja kayu reyot di rumah ibunya, di mana tawa pecah hanya karena rebutan sambal yang pedasnya membakar lidah. Di sini, segalanya terasa hambar dan mati, seolah-olah semua warna dunia telah diserap oleh kemilau emas yang melapisi setiap sudut ruangan. Aris mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyadari bahwa ia baru saja menukar kehangatan yang tulus dengan penjara berlapis permata yang dingin ini.
Aris berdiri mematung di sudut ruang makan yang luasnya hampir menyamai seluruh rumah lamanya. Aroma lilin aromatik mahal tercium tajam, namun entah mengapa baunya terasa mencekik paru-parunya. Ia terus memilin ujung kemeja sutranya yang licin, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali rasa cemas mulai merayap naik ke tenggorokan.
Suasana di meja makan itu sunyi senyap, hanya terdengar denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen halus. Ayah barunya, Pak Surya, duduk tegak di ujung meja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Matanya terus tertuju pada layar ponsel, sementara Ibu barunya hanya mengaduk-aduk salad di piring tanpa benar-benar memakannya sedikit pun.
Tiba-tiba, pintu besar di samping ruang makan terbuka perlahan saat seorang asisten rumah tangga masuk membawa nampan berisi buah-buahan segar. Perubahan atmosfer yang terjadi dalam sekejap mata sungguh membuat Aris merasa mual. Pak Surya yang tadi tampak begitu dingin, mendadak meletakkan ponselnya dan memasang senyum paling lebar yang pernah Aris lihat.
"Mari, Sayang, kita ambil foto sebentar untuk pengikut kita di media sosial," ucap Pak Surya dengan nada suara yang dibuat-buat seramah mungkin. Ia merangkul bahu istrinya dengan sangat erat, seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia di seluruh dunia. Aris hanya bisa terdiam melihat sandiwara yang dimainkan dengan begitu sempurna dan profesional di depannya.
Ibu barunya pun langsung menegakkan punggung, menghapus jejak kesedihan di matanya, dan ikut tersenyum ke arah kamera ponsel yang dipegang asisten itu. Kilatan lampu kilat menerangi ruangan itu selama beberapa detik, mengabadikan sebuah kebohongan yang sangat indah. Aris merasa perutnya seperti diaduk-aduk melihat betapa mudahnya mereka memalsukan kebahagiaan demi sebuah citra.
Begitu asisten rumah tangga itu melangkah keluar dari ruangan, suasana hangat tersebut langsung menguap seperti embun di bawah terik matahari. Pak Surya segera melepaskan rangkulannya dengan kasar, seolah-olah menyentuh istrinya adalah sebuah beban yang sangat berat. Wajahnya kembali mengeras, berubah menjadi sosok pria dingin yang tidak memiliki emosi sama sekali.
"Jangan lupa unggah foto itu sekarang juga, pastikan narasinya terlihat sangat romantis," perintah Pak Surya dengan suara rendah yang terdengar seperti ancaman. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah istrinya saat bicara. Ibu barunya hanya mengangguk lemah, lalu kembali menunduk menatap piringnya yang masih penuh dengan sayuran yang mulai layu.
Aris merasa ingin berteriak dan lari dari rumah itu, merindukan suara teriakan ibunya yang asli saat memarahinya karena lupa mencuci piring. Di sini, di tengah segala kemewahan ini, ia justru merasa lebih miskin daripada saat ia tidak punya apa-apa. Ia mulai menyadari bahwa setiap sudut rumah mewah ini sebenarnya menyimpan luka-luka yang sengaja disembunyikan di balik dinding yang megah.
Tiba-tiba, Pak Surya menoleh ke arah Aris dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus jantungnya secara langsung. "Kenapa kau diam saja, Nak? Cepat habiskan makananmu karena kita punya jadwal syuting video keluarga di taman belakang sepuluh menit lagi." Aris hanya bisa menggigit bibir bawahnya, menyadari bahwa ia kini terjebak dalam sebuah penjara emas yang tidak memiliki pintu keluar sama sekali.