Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah-celah dinding papan rumah Aris, membawa serta debu-debu halus yang menari dalam sorotan cahaya. Tidak ada aroma parfum mahal atau bunga lili segar yang menyeruap seperti di kediaman Keluarga Surya. Sebagai gantinya, bau tajam minyak goreng dari dapur dan aroma tanah basah sisa hujan semalam memenuhi rongga paru-paru Aris. Namun, bagi Aris, udara ini terasa jauh lebih ringan untuk dihirup daripada atmosfer menyesakkan di dalam istana emas yang pernah ia tinggali sesaat.
Aris bangkit dari dipan kayunya yang keras dan berderit. Ia duduk sejenak, memandangi jemarinya yang kini tidak lagi mengenakan cincin perak murah sebagai pelarian rasa cemas. Secara refleks, ia mengetukkan punggung tangannya ke lutut—sebuah kebiasaan lama yang kini ia lakukan bukan karena iri, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap. Ia melirik ke arah ember plastik kusam di tengah ruangan yang masih menampung tetesan air dari plafon yang lapuk. Bunyi detak air yang jatuh ke dalam wadah itu, yang dulunya terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangannya, kini terdengar seperti simfoni penyambutan yang merdu.
"Ris, sudah bangun? Ayo sarapan dulu, nanti nasinya dingin," suara Ibu memanggil dari dapur.
Aris melangkah menuju meja makan kayu yang goyang. Di sana, Ibu sudah menyiapkan sepiring singkong rebus yang masih mengepulkan uap dan segelas teh manis dalam gelas plastik yang sudah memudar warnanya. Ibu mengenakan daster pudar yang sama, namun binar di matanya jauh lebih nyata daripada senyum porselen Nyonya Surya yang selalu sembab oleh air mata tersembunyi.
"Terima kasih, Bu," ucap Aris dengan nada suara yang lembut, jauh dari diksi tajam dan penuh keluhan yang biasanya ia gunakan.
Ibu sempat tertegun melihat perubahan sikap putranya, namun ia hanya tersenyum dan mengelus bahu Aris dengan tangannya yang kasar karena terlalu banyak mencuci pakaian tetangga. Aris tidak lagi melihat tangan itu sebagai simbol kemiskinan yang memalukan, melainkan sebagai tanda pengabdian yang tak ternilai harganya. Ia menyadari bahwa kejujuran di meja makan kayu ini jauh lebih mengenyangkan daripada jamuan truffle di meja marmer yang dingin.
Tak lama kemudian, Ayah pulang dengan wajah yang masih menyisakan guratan lelah dan kaos yang basah oleh keringat. Tangannya yang kapalan karena mengaduk semen di proyek bangunan tampak gemetar saat ia duduk di kursi plastik yang sudah retak. Di masa lalu, Aris akan memandang Ayah dengan rasa jengkel, membandingkannya dengan kehalusan tangan Pak Surya. Namun kini, ia melihat seorang pahlawan yang telah memberikan seluruh hidupnya demi tempat bernaung yang jujur.