TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #1

Dua Puluh Dua Juta Setahun

Pertengkaran terakhir kami di Jakarta terjadi di antara kardus-kardus yang belum ditutup lakban.

Sinta berdiri di dekat meja makan sambil memegang ponselnya. Di layar ada catatan pengeluaran keluarga yang selalu ia perbarui setiap akhir pekan. Angka-angkanya kecil dari tempatku berdiri, tetapi aku tahu persis apa yang sedang ia lihat. Uang sekolah Nala. Cicilan mobil. Asuransi. Tagihan kartu kredit. Uang pindahan. Dan sekarang, satu angka baru yang belum sempat kuberitahukan kepadanya.

"Berapa?"

Aku pura-pura sibuk memasukkan buku ke kardus.

"Apa?"

"Rumah Bandung itu. Kamu sudah bayar berapa?"

Tanganku berhenti di atas satu buku kumpulan cerpen. Aku bisa saja berbohong. Bilang baru bayar tanda jadi. Bilang masih bisa dibatalkan. Namun, bukti transfer ada di surel dan suatu saat Sinta pasti akan melihatnya.

"Dua puluh dua."

"Dua puluh dua juta?"

"Setahun. Sudah termasuk semua perabot. Murah, Sin. Di Ciumbuleuit lagi. Kalau kita cari rumah kosong biasa, belum tentu dapat segitu."

Sinta menurunkan ponselnya. Wajahnya tidak langsung marah. Justru itu yang membuat tengkukku panas. Ia selalu diam lebih dulu ketika rasa marahnya sudah melewati batas.

"Sudah kamu bayar?"

"Sudah."

"Pakai uang yang mana?"

Aku menarik napas.

"Pesangon. Sama sedikit dari tabungan."

Sinta mengangguk pelan, seolah baru saja mendapat jawaban atas pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin ia tanyakan.

"Jadi kamu resign tanpa ngomong dulu sama aku. Terus kamu pakai uang pesangon buat bayar rumah setahun tanpa ngomong juga sama aku. Ada keputusan apalagi yang baru akan aku tahu setelah semuanya enggak bisa dibatalkan?"

"Aku ngomong soal resign."

"Kamu ngomong setelah suratnya masuk ke HR. Itu bukan ngajak ngomong. Itu ngasih pengumuman."

Aku menutup kardus terlalu keras sampai salah satu sisinya melipat ke dalam.

"Aku sudah enggak kuat di sana, Sin. Setiap hari aku nulis presentasi orang, pidato bos, iklan yang aku sendiri enggak percaya. Aku pulang malam, ketemu Nala sudah tidur. Sabtu masih direvisi. Minggu disuruh mikirin pitch. Buat apa gaji jelas kalau hidupku enggak jelas?"

"Buat makan. Buat sekolah anak. Buat bayar rumah. Hal-hal membosankan yang selama ini tetap harus ada walaupun kamu lagi mengejar mimpi."

“Aku tahu gajiku buat apa,” kataku. “Tapi kamu juga tahu bagaimana mereka memperlakukan aku di kantor itu.”

Sinta tidak menjawab.

“Aku sudah bertahun-tahun kerja di sana, Sin. Aku yang begadang menyelesaikan materi pitch. Aku yang membereskan presentasi sebelum dibawa ketemu klien. Kalau naskah orang lain bermasalah dan tenggatnya tinggal beberapa jam, aku yang diminta menyelamatkan. Tapi begitu pekerjaannya berhasil, nama atasan yang disebut. Begitu ada kesalahan, aku yang pertama dicari.”

“Semua kantor juga begitu.”

“Nah, itu. Itu yang selalu kamu bilang setiap kali aku cerita.”

“Aku memang pernah bilang begitu.”

“Bukan pernah. Berkali-kali.” Aku menahan suaraku agar tidak semakin keras. “Setiap aku bilang capek, kamu bilang namanya juga kerja. Setiap aku bilang enggak dihargai, kamu bilang yang penting gajinya masih masuk. Seolah selama mereka membayar aku setiap bulan, aku harus menerima apa saja.”

“Aku bilang begitu karena kita punya kebutuhan, Raka.”

“Dan aku enggak punya harga diri?”

“Aku enggak bilang begitu.”

“Sudah berapa kali aku cerita soal promosi yang dijanjikan ke aku? Setiap evaluasi mereka bilang pekerjaanku bagus, kontribusiku besar, lalu aku diminta sabar satu tahun lagi. Tapi orang-orang yang lebih dekat dengan manajer, yang sering makan siang sama atasan, yang pintar mengambil hati bos, kariernya jalan terus. Mereka dapat jabatan, kenaikan gaji, pelatihan, fasilitas kerja. Aku tetap di meja yang sama, dengan pekerjaan yang makin banyak.”

Sinta menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Aku mendengarkan semua ceritamu.”

“Kamu mendengarkan, tapi kamu enggak pernah benar-benar menganggap itu alasan yang cukup buat aku pergi.”

“Karena pergi dari pekerjaan bukan cuma urusan harga diri kamu. Ada aku dan Nala yang ikut menanggung akibatnya.”

“Aku menahan diri selama ini juga karena kalian.” Dadaku terasa sesak. “Kalau cuma memikirkan diriku sendiri, aku sudah keluar dari dulu. Aku bertahan bertahun-tahun karena aku tahu ada keluarga yang harus aku jaga. Tapi sampai kapan aku harus diam di tempat yang enggak pernah melihat aku?”

“Jadi sekarang gantian kamu yang enggak melihat kami?”

Lihat selengkapnya