Aku menghabiskan sore dengan membuka jendela, menyapu debu, dan memindahkan barang yang menghalangi jalan. Rumah full furnish terdengar menyenangkan dalam iklan. Kenyataannya, aku harus menentukan mana barang yang masih berguna dan mana yang hanya dibiarkan karena pemilik sebelumnya tidak sanggup membuangnya.
Ada piring bermotif bunga dalam lemari. Payung hitam di belakang pintu. Kotak jahit dengan benang-benang yang sudah rapuh. Di salah satu kamar atas ada lemari berisi baju anak perempuan. Ukurannya terlalu kecil untuk Bu Marni dan modelnya terlalu lama untuk ditinggalkan penyewa baru.
Di balik tumpukan baju terselip sepotong kertas dinding bermotif burung biru. Pada bagian belakangnya terdapat tulisan pensil yang hampir hilang.
LOTTE, 1933. JANGAN BIARKAN IA MENGHITUNG SUDUT.
Nama itu tidak kukenal. Aku menganggapnya catatan pemilik lama, lalu menyelipkannya kembali tanpa memotret.
Aku menutup lemari itu dan memutuskan mengurusnya lain kali.
Menjelang sore, aku menarik kulkas untuk membersihkan bagian belakang. Rodanya macet. Setelah didorong dengan bahu, kulkas bergeser dan memperlihatkan tumpukan debu, dua kecoak mati, serta selembar kertas kuning yang terjepit di antara kabel dan tembok.
Kertas itu dilipat dua. Tulisan di bagian atas dibuat dengan pulpen biru.
DAFTAR BERSIH-BERSIH RUMAH (MINGGUAN)
Aku tersenyum. Ibuku juga suka membuat daftar, meski biasanya isinya lebih masuk akal. Cuci kamar mandi. Ganti seprai. Bersihkan kipas angin. Bukan hal-hal yang kubaca setelahnya.
Aku membaca dua kali, lalu memotret kertas itu. Bukan karena percaya. Aku pikir daftar itu bisa menjadi bahan cerita pendek yang lumayan. Mantan penghuni pikun meninggalkan aturan aneh, penyewa baru melanggar satu per satu. Cerita seperti itu sudah banyak, tetapi mungkin aku bisa menemukan sudut berbeda.