Jam di ponsel menunjukkan 23.44.
Aku duduk di tepi kasur sambil mendengarkan. Kursi di bawah bergerak dalam irama yang lambat, seolah ada orang tua yang sedang menenangkan tubuhnya sendiri. Kriiit saat condong ke depan. Kroook saat kembali ke belakang.
Daftar tadi langsung terlintas di kepalaku, terutama aturan nomor empat. Kalau kursinya bergerak sendiri, langsung keluar rumah. Jangan menengok ke belakang.
Aku menertawakan diriku sendiri. Tentu kursi itu bergerak karena lantainya miring. Mungkin tadi kakiku menyenggolnya dan gerakannya baru terdengar sekarang karena rumah sepi. Penjelasannya buruk, tetapi masih lebih masuk akal daripada percaya selembar kertas di belakang kulkas.
Aku turun dengan lampu ponsel menyala.
Di tengah tangga, aku bisa melihat ruang tamu. Cahaya bulan masuk melalui jendela dan memotong lantai menjadi bidang-bidang pucat. Kursi goyang berada di tempatnya, dekat jendela.
Kursi itu bergerak.
Tidak sedikit. Tidak seperti tertiup angin. Sandarannya hampir menyentuh dinding setiap kali bergerak ke belakang. Bagian depannya terangkat, lalu menghantam lantai dengan bunyi pendek. Tidak ada siapa-siapa di atasnya, tetapi bantalan duduknya melesak di bagian tengah.
Kakiku berhenti pada anak tangga terakhir.
Gerak kursi semakin cepat.
Kriiit. Kroook. Kriiit. Kroook.
Seperti ada yang berusaha berdiri, tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk mengangkat diri.
Aturan nomor empat tidak lagi terdengar lucu.
Aku mundur satu langkah. Lalu dari dapur terdengar suara perempuan tua.
"A, belum tidur?"
Suara Bu Marni.
Lembut. Dekat. Ada suara sendok menyentuh pinggir cangkir.
"Ibu bikinin teh hangat dulu, ya."
Seluruh bulu di lenganku berdiri. Aku melihat ke arah dapur. Pintu dapur terbuka, tetapi bagian dalamnya gelap. Hanya ada sedikit cahaya hijau dari layar kulkas.
Aku ingin memanggil nama Bu Marni. Mungkin ia lupa sesuatu lalu kembali. Mungkin pintu belakang tidak terkunci. Mungkin semua ini bisa dijelaskan kalau aku berjalan tiga meter dan menyalakan lampu.
Sebelum aku bergerak, seluruh lampu rumah berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu mati.
Layar kulkas ikut padam. Rumah menjadi gelap total. Bukan gelap malam biasa. Rasanya seperti ada sesuatu yang menempel langsung di depan mataku.
Aturan nomor tujuh muncul utuh dalam ingatan.
Aku berlari ke ruang kerja. Pinggulku menghantam ujung meja. Bahuku menabrak kusen. Tanganku meraba lemari buku dan mendorongnya sampai rel besinya memekik.
Pintu gudang sudah terbuka.
Udara lembap mengalir dari dalam. Seharusnya aku teringat aturan nomor tiga. Kalau pintu terbuka pagi-pagi, jangan ditutup. Biarkan. Ucapkan maaf.
Namun, saat itu bukan pagi. Dan aku terlalu takut untuk mempertimbangkan aturan mana yang lebih penting.
Aku masuk, menarik pintu, lalu memutar kunci dari dalam.
Gudang itu sempit. Dindingnya batu kasar. Ada rak perkakas, kursi patah, kaleng cat, dan beberapa kardus yang lembap di bagian bawah. Sinyal ponsel tinggal satu garis. Baterainya empat persen.
Aku jongkok di sudut dan membuka percakapan dengan Sinta. Jempolku gemetar ketika mengetik.
"Sin, kalau aku telepon jangan panik. Ada orang di rumah."
Pesan tidak terkirim.
Gedoran pertama membuat pintu bergetar.
"Buka pintunya! Polisi!"
Suara laki-laki. Berat dan jelas. Dari celah bawah pintu terlihat cahaya senter menyapu lantai.
"Kami dapat laporan ada orang masuk rumah. Buka sekarang!"
Aku hampir menjawab. Kalau tetangga melihat lampu mati dan mendengar keributan, mungkin mereka benar-benar memanggil polisi. Aku penyewa baru. Wajar kalau orang mengira aku pencuri.
Namun, aku tidak mendengar motor. Tidak ada radio HT. Tidak ada suara langkah lebih dari satu orang, walaupun suara di luar berganti-ganti.