TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #4

Ibu Sudah Bikin Teh

Mobil taksi online berhenti menjelang tengah hari. Nala berteriak memanggilku bahkan sebelum pengemudinya selesai menepi di depan pagar.

Aku keluar dan memeluknya. Tubuh kecilnya hangat, rambutnya bau matahari dan sampo stroberi. Ia langsung bercerita tentang layar penunjuk kecepatan di dalam Whoosh, pemandangan yang berlari mundur di balik jendela, serta telinganya yang sempat terasa penuh ketika kereta masuk terowongan. Selama beberapa detik, semua yang terjadi malam sebelumnya terasa seperti demam yang sudah lewat.

Sinta turun dari mobil sambil memijat pinggang. Wajahnya lelah setelah bangun sebelum subuh, mengawasi pengepakan, memeriksa satu per satu barang, bergerak ke Halim bersama Nala, lalu berganti kendaraan lagi di Padalarang. Di tangan kirinya ada map plastik berisi inventaris dan lembar serah terima jasa pindahan. Ia tidak tersenyum kepadaku, tetapi juga tidak menjauh ketika kubantu mengambil tas.

"Gimana perjalanan? Capek? Yuk masuk. Ibu sudah bikin teh."

Kalimat itu keluar lancar.

Sinta berhenti.

"Ibu? Ibu siapa? Ibu kamu ada di Cimahi."

Aku tertawa terlalu cepat.

"Maksudnya aku. Aku sudah bikin teh. Kebanyakan sendirian jadi ngomongnya aneh."

Nala tidak ikut tertawa. Ia memandang melewati bahuku, ke dalam ruang tamu. Lalu ia melambaikan tangan.

"Hai, Nini."

Aku menoleh cepat. Kursi goyang diam. Ruang tamu kosong.

"Nini siapa?" tanya Sinta.

Nala menunjuk kursi.

"Nini yang tadi sama Ayah."

"Ayah sendirian, Sayang."

Nala mengerutkan kening, seperti justru aku yang tidak mengerti.

"Enggak. Nini bilang Ayah sudah minum teh."

Tenggorokanku terasa pahit meski teh itu sudah kuminum berjam-jam lalu.

Sebelum aku sempat mencari jawaban, klakson panjang terdengar dari ujung jalan. Truk tertutup berwarna putih muncul perlahan di tanjakan. Logo jasa pindahan tercetak pada sisinya. Nala bertepuk tangan seolah barang-barang kami datang dalam sebuah parade.

Sinta langsung berjalan ke belakang truk. Ia tidak membiarkan pekerja membuka pintu sebelum mencocokkan nomor segel merah dengan foto di ponselnya dan lembar inventaris yang dibawa dari Jakarta. Nomornya sama. Setelah ia menandatangani kolom penerimaan awal, mandor memotong segel dan membuka pintu bak.

Seluruh kehidupan kami tersusun dalam peti, plastik, tali, dan kardus bernomor. Sofa berdiri pada sisinya. Kasur Nala dibungkus terpal biru. Meja makan pemberian ibu Sinta diikat pada dinding bak. Di belakangnya ada mesin cuci, rak buku, lemari pakaian, peralatan dapur, mainan, pakaian, dan benda-benda kecil yang tidak pernah kupikirkan sampai semuanya harus diberi label tujuan.

Mandor memandang ruang tamu yang sudah penuh sofa hijau, lemari kaca, meja kayu, dan kursi goyang.

"Barang lamanya mau dipindah ke mana, Pak?"

Aku belum punya jawaban yang baik. Dari foto iklan, ukuran ruangan terlihat lebih luas. Aku juga tidak pernah mengukur pintu, tangga, atau ruang kosong yang tersedia. Akhirnya sofa kami ditaruh sementara di kamar bawah, meja makan diberdirikan di ruang belakang, dan beberapa perabot lama digeser merapat ke dinding. Setiap keputusan menambah waktu kerja. Setiap menit tambahan tercatat sebagai biaya tunggu pada lembar milik Sinta.

Ia menatapku sekali saat dua pekerja gagal melewatkan lemari Nala di tikungan tangga. Tidak perlu ada pertengkaran. Tatapan itu sudah cukup mengatakan bahwa rumah full furnish yang murah tetap menuntut biaya dari arah lain.

"Aku sudah bilang ukur dulu," katanya.

"Nanti aku atur. Yang penting semua masuk."

"Semua masuk bukan berarti semua beres."

Aku pura-pura tidak mendengar dan membuka pagar lebih lebar untuk pekerja berikutnya.

Aku mengalihkan perhatian dengan mengajak Nala memilih kamar. Ia berlari ke lantai atas dan langsung menyukai kamar di ujung lorong karena jendelanya menghadap pohon. Saat membuka lemari, ia menemukan baju-baju anak yang kemarin kulihat.

"Ini buat Nala?"

"Bukan. Punya yang tinggal dulu. Nanti Ayah masukin kardus."

Nala mengambil satu gaun putih dengan kerah renda. Kainnya kusam dan ada noda cokelat di bagian bawah.

"Tetehnya bilang boleh dipakai."

"Teteh siapa?"

Nala menunjuk bagian dalam lemari.

Tidak ada siapa-siapa. Namun, dari kegelapan di belakang pakaian terdengar bunyi cekikikan yang sangat pendek.

Aku menutup pintu lemari sampai hampir mengenai jari Nala.

"Jangan main di sini dulu. Banyak debu."

Nala cemberut, tetapi berlari kembali ke bawah ketika Sinta memanggil.

Seorang pekerja muncul di ujung lorong sambil membawa kardus mainan Nala. Ia berhenti di depan kamar dan menatapku, kemudian melihat ke dalam lemari yang baru kututup.

Lihat selengkapnya