TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #5

Empat Cangkir

Senin pagi aku terbangun karena bau amis.

Bau itu memenuhi kamar seperti datang dari bawah kasur. Sinta masih tidur membelakangiku. Jam menunjukkan 04.12. Aku turun tanpa menyalakan lampu lorong karena tidak ingin membangunkannya.

Semakin dekat ke dapur, baunya semakin tajam. Bukan lagi ikan mentah. Ada aroma besi, garam, dan sesuatu yang manis seperti daging mulai membusuk.

Nat di antara ubin dapur mengeluarkan cairan merah tipis.

Awalnya hanya satu garis. Ketika aku menyalakan lampu, garis itu bercabang mengikuti seluruh lantai, membentuk kotak-kotak merah di antara ubin. Di bawah meja ada genangan sebesar telapak tangan.

Aku berjongkok dan menyentuhnya dengan ujung tisu. Warnanya merah tua. Hangat.

Dari luar pagar terdengar suara mesin mobil berhenti. Lalu pintu dibuka dan ditutup. Tiga kali.

Aku teringat aturan pertama.

Senin. Karbol dengan bau paling tajam. Bau amis membuat mereka datang.

Di bawah wastafel hanya ada cairan pel lemon. Aku membuka gudang. Pintu tidak melawan. Di rak paling atas terdapat jeriken putih tanpa merek. Ketika tutupnya kubuka, bau karbol menusuk sampai mataku berair.

Aku menuangkannya ke ember dan mulai mengepel. Cairan merah hilang setiap kali kain pel melewatinya, tetapi muncul lagi satu ubin di belakangku. Aku terus bekerja dari bagian belakang dapur menuju pintu, seperti sedang mendorong sesuatu keluar.

Di depan rumah terdengar ketukan pada pagar.

"Permisi. Petugas."

Aku tidak menjawab.

Kain pel semakin merah. Aku membilasnya, menuang lebih banyak karbol, dan mengepel sampai telapak tanganku perih. Ketika akhirnya mencapai ambang dapur, terdengar tiga langkah mundur di luar pagar. Mesin mobil menyala, lalu menjauh.

Cairan merah berhenti keluar.

Sinta turun pukul lima lewat. Ia menutup hidung begitu memasuki ruang makan.

"Ya ampun, bau apa ini?"

"Karbol. Saluran dapur bau lagi."

"Jam segini kamu ngepel pakai sebanyak itu?"

"Kalau enggak, baunya sampai atas."

Ia memandang ember. Airnya sudah keruh kecokelatan. Sebelum ia melihat lebih dekat, aku mengangkatnya dan membuang ke halaman belakang.

Nala bangun setengah jam kemudian dalam suasana hati yang sangat baik. Ia berlari ke dapur dan mengatakan Nini Marni suka rumah yang bersih. Aku memintanya tidak menyebut nama itu lagi.

Saat sarapan, ia menggambar sesuatu yang awalnya kukira empat bunga. Setelah dilihat lebih dekat, bentuk itu menyerupai empat orang yang berbaring di bawah sebuah kotak besar. Di sekitar masing-masing orang ada sebelas benda kecil berbentuk pisau, koin, cermin, dan lonceng.

"Ini yang Nala lihat di kereta?"

Lihat selengkapnya