TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #6

Yang Mengetuk di Luar Gorden

Aku tidak tidur lagi malam itu.

Pagi-pagi sekali, aku mengambil daftar dari belakang kulkas. Aturan baru mengenai cangkir tidak tercantum di sana. Kertas kecilnya juga hilang dari meja. Aku mulai menyalin semua aturan ke aplikasi catatan di ponsel, takut suatu hari kertas asli berubah atau menghilang.

Aku memberi judul catatan itu BELANJA MINGGUAN supaya Sinta tidak membukanya tanpa sengaja.

Keputusan itu sekarang terasa bodoh. Saat itu, merahasiakan semuanya masih terasa seperti bentuk perlindungan.

Hari berjalan normal sampai pukul sembilan malam.

Sinta baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut di kamar utama. Aku melihat jam 20.57, lalu menutup gorden. Sinta memandangku dari depan meja rias.

"Kamu sekarang disiplin banget urusan gorden."

"Dingin."

"Padahal gerah."

"Angin malam dari jendela gede begini enggak bagus buat Nala."

"Nala tidurnya di kamar sebelah."

Aku pura-pura tidak dengar dan memastikan kedua sisi gorden bertemu tanpa celah.

Pukul 21.06, terdengar ketukan pada kaca.

Tok. Tok. Tok.

Sinta menurunkan handuk dari rambutnya.

"Itu apa?"

"Ranting."

"Pohon paling dekat jauh."

Tok. Tok. Tok.

Ketukannya datang dari bagian tengah jendela, setinggi wajah orang dewasa. Kamar kami berada di lantai dua. Tidak ada balkon, kanopi, atau pijakan di luar.

Sinta berjalan ke gorden.

Aku berdiri di depannya.

"Jangan dibuka."

"Kenapa?"

"Pokoknya jangan."

"Raka, minggir."

"Enggak."

Ketukan berubah menjadi gesekan kuku. Pelan, dari atas ke bawah.

Sinta mencoba melewatiku. Aku memegang pergelangan tangannya terlalu keras. Ia meringis dan menarik tangan.

"Sakit, Raka. Kamu kenapa sih?"

"Ada aturan rumah. Gordennya enggak boleh dibuka setelah jam sembilan."

Kalimat itu akhirnya keluar.

Sinta berhenti melawan.

Lihat selengkapnya