Sinta ingin pindah ke hotel pagi itu juga. Aku meminta dua hari.
Alasanku terdengar praktis. Aku akan menghubungi Bu Marni, mencari tahu kondisi listrik, meminta pemilik mengembalikan uang, dan melihat apakah rumah bisa dikosongkan tanpa melanggar kontrak. Alasan sebenarnya lebih memalukan.
Uang muka proyek memoar sudah masuk, tetapi sisanya baru dibayar setelah tiga bab pertama selesai. Kalau kami pindah ke hotel, tabungan akan berkurang lagi. Kalau kontrak rumah tidak bisa dikembalikan, kami harus membayar dua tempat tinggal sekaligus. Aku juga masih berpikir gangguan bisa dikendalikan selama aturan dipatuhi.
Sinta memberi waktu dua hari karena Nala bangun dalam keadaan normal dan tidak mengingat apa pun tentang gaun putih. Ia hanya bilang bermimpi bermain di rumah yang sama, tetapi semua dindingnya berwarna hitam.
Aku mulai menulis di ruang kerja dari pagi sampai malam.
Klien memoarku bernama Haris Gunawan, pemilik jaringan restoran yang ingin kisah hidupnya terbit sebelum ulang tahun keenam puluh. Ia mengirim rekaman wawancara selama sebelas jam dan meminta tiga bab contoh dalam empat hari. Tenggat itu gila. Namun, bayarannya cukup untuk membuatku berusaha.
Hari pertama aku menghasilkan dua ribu kata. Hari kedua hanya delapan ratus. Setiap kali mulai fokus, terdengar langkah Nala di lorong atau Sinta memanggil agar aku membantu membongkar kardus. Setiap gangguan kecil membuatku marah, lalu merasa bersalah karena marah.
Malam kedua, aku tertidur di depan laptop sekitar pukul satu. Dokumen terbuka pada kalimat yang belum selesai.
Ketika bangun, matahari sudah masuk melalui jendela.
Dokumen itu berisi enam ribu tiga ratus kata.
Tiga bab selesai.
Aku membaca dari awal. Struktur kalimatnya mirip tulisanku, tetapi lebih bersih. Detail dari rekaman wawancara ditempatkan tepat. Ada dialog yang bahkan belum sempat kutranskripsikan. Tidak mungkin aku menulis semuanya sambil tidur.
Di akhir bab ketiga terdapat satu kalimat yang tidak berhubungan dengan memoar Haris.
Anak yang baik tidak meninggalkan rumah saat ibunya memanggil.
Aku menghapusnya, memeriksa riwayat dokumen, lalu melihat seluruh tambahan dibuat dari pukul 02.13 sampai 04.44 menggunakan akun milikku. Kamera laptop tertutup selotip. Tidak ada aplikasi akses jarak jauh.
Sebelum rasa takut menang, Haris mengirim balasan.
"Ini yang saya cari, Mas Raka. Hidup, hangat, dan seperti suara saya sendiri. Lanjutkan dengan gaya yang sama."
Ia mentransfer pembayaran tahap kedua pagi itu.
Aku menatap notifikasi bank dengan rasa lega yang hampir sama kuat dengan ketakutan. Untuk pertama kalinya sejak mengajukan resign, aku memiliki bukti bahwa aku bisa menghasilkan uang dari rumah. Aku tahu seharusnya menunjukkan kalimat aneh itu kepada Sinta. Sebaliknya, aku menghapus riwayat revisi dan mengatakan tiga bab berhasil kuselesaikan sendiri.
Rumah membantu. Aku mulai menganggapnya begitu.
Bantuan itu tidak berhenti pada tiga bab.
Setiap kali aku duduk di ruang kerja, jaringan internet menjadi cepat, suara dari lantai atas menghilang, dan udara menghangat tepat di sekitar meja. Kalimat yang biasanya kukejar berjam-jam muncul dengan mudah. E-mail dari calon klien yang sebelumnya tidak menjawab datang hampir bersamaan. Satu meminta naskah profil perusahaan. Satu lagi menawarkan pekerjaan sebagai penulis bayangan untuk seorang pejabat pensiun. Jumlah uang mukanya cukup untuk menutup biaya pindahan.
Pada saat yang sama, rumah mulai menolak pekerjaan Sinta.
Rapat daringnya terputus tiga kali dalam satu pagi. File anggaran yang ia susun sejak Jakarta berubah menjadi halaman kosong. Ketika ia memindahkan laptop ke ruang kerja, koneksi kembali normal, tetapi dokumenku menutup sendiri dan lampu berkedip sampai ia pergi.
"Aku butuh ruangan ini dua jam," katanya. "Besok aku presentasi ke direksi."
"Aku juga ada tenggat."
"Kamu bisa menulis di meja makan. Aku perlu dua monitor dan pintu yang bisa ditutup supaya Nala enggak masuk."
"Kalau aku pindah dari sini, alurnya hilang."
Sinta menatapku seolah menunggu aku mendengar kalimatku sendiri.
"Alur kamu hilang kalau pindah enam meter, tapi pekerjaanku boleh hilang sama sekali?"
"Bukan begitu. Aku cuma sedang produktif di sini."