TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #8

Suara dari Dapur

Teror pertama yang benar-benar ditujukan kepada Sinta datang saat aku sedang melakukan rapat video.

Aku berada di lantai atas dengan headset. Sinta membuat makan siang di dapur. Nala menggambar di ruang tamu. Belakangan, Sinta menceritakan urutannya kepadaku berkali-kali karena ia takut ada bagian yang salah ia ingat.

Ia sedang memotong wortel ketika mendengar suaraku dari belakang.

"Sin, coba tehnya."

Sinta mengira aku turun tanpa ia dengar. Ia tetap memotong dan menjawab, "Taruh aja. Aku lagi masak."

Suara itu mendekat.

"Dicoba sekarang. Nanti dingin."

"Iya, Raka. Sebentar."

Baru setelah menjawab kedua kali, Sinta mendengar suaraku dari di lantai atas. Aku sedang menjelaskan konsep bab kepada klien. Suaraku terdengar samar melalui plafon.

Pisau terlepas dari tangannya.

Di meja dapur ada secangkir teh yang sebelumnya tidak ada. Permukaannya tenang. Di belakang cangkir, kulkas memantulkan bentuk seseorang yang berdiri sangat dekat di belakang Sinta.

Sinta tidak menoleh. Ia mengingat aturan nomor enam. Jangan menjawab sampai ketel bersiul dua kali.

Ia sudah menjawab.

Ketel di atas kompor mulai berbunyi meski kompornya mati.

Satu siulan panjang.

Sinta menunggu siulan kedua. Yang terdengar justru suaranya sendiri dari dalam ketel.

"Nala, sini sama Ibu."

Nala bangkit dari ruang tamu.

Sinta mencoba berteriak agar Nala jangan datang. Mulutnya tidak mengeluarkan kata yang ia inginkan.

"Anak baik jangan bikin Ibu menunggu."

Nala berjalan ke dapur sambil membawa gambarnya.

Sinta menutup mulut dengan kedua tangan. Kalimat lain mendorong dari tenggorokannya. Ia menggigit bibir sampai berdarah, lalu menampar mulutnya sendiri dua kali.

Aku mendengar benda jatuh dan berlari ke bawah.

Sinta berdiri dekat wastafel. Bibirnya pecah. Nala menangis. Cangkir teh di meja sudah kosong, tetapi bagian depan baju Sinta basah dan berbau manis.

"Aku enggak minum," katanya sebelum aku bertanya. "Dia yang masuk."

Aku memegang bahunya. Tubuhnya gemetar.

"Siapa?"

"Suara kamu."

Kami membawa Nala ke ruang depan dan menyalakan televisi. Setelah anak itu cukup jauh, Sinta mengunci pintu dapur.

"Sekarang telepon Bu Marni," katanya.

"Aku sudah pernah telepon."

"Kapan?"

Aku tidak menjawab cepat. Itu cukup.

"Kapan, Raka?"

"Pagi sebelum kalian datang."

"Terus?"

"Panti bilang Bu Marni meninggal."

Sinta memegang tepi meja agar tetap berdiri.

"Meninggal kapan?"

"Tiga hari sebelum kasih kunci."

Tidak ada suara di dapur. Bahkan dengung kulkas seperti ikut berhenti.

"Kamu tahu perempuan yang kasih kunci itu sudah mati, terus kamu tetap membiarkan aku bawa anak kita masuk?"

"Aku enggak yakin. Aku salaman sama dia. Ada orang yang nganter. Mungkin pihak panti salah data."

"Kamu lihat kursi gerak. Kamu dengar polisi palsu. Tangan kamu..."

Sinta berhenti dan menarik daftar dari saku celanaku. Aku lupa menyimpannya kembali setelah memeriksa aturan enam. Ia menunjuk poin kedelapan.

Lihat selengkapnya