TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #9

Sebelas Menit yang Hilang

Kursi goyang bergerak lebih pelan daripada malam pertamaku. Justru itu yang membuatnya terasa seperti ada orang di sana. Bantalan duduk turun sedikit setiap kali kursi condong ke belakang. Di lantai, dua bekas telapak kaki basah mengarah dari kursi menuju tangga.

Nala berdiri pada anak tangga kelima.

Matanya tertutup. Kedua tangannya terulur seperti sedang mengikuti seseorang di depannya.

"Nala," panggil Sinta.

Anak kami tidak menjawab. Ia turun satu langkah lagi.

Aku teringat aturan keempat. Kalau kursi bergerak, keluar rumah. Jangan menengok ke belakang.

"Kita keluar sekarang."

"Nala masih di tangga."

"Ambil dia. Kita keluar lewat depan. Jangan lihat kursinya."

Aku naik dua langkah dan mengangkat Nala. Tubuhnya lemas, tetapi bibirnya bergerak.

"Belum selesai. Belum pindahan."

"Bangun, Nala. Ini Ayah."

Ia membuka mata. Irisnya tampak sangat gelap.

"Teteh Rini cuma mau main."

Kursi menghantam lantai.

Kroook.

Sinta membuka pintu depan. Udara malam masuk bersama gerimis. Kami bergegas melewati ruang tamu. Aku memeluk Nala dan menatap lurus ke pagar.

Di belakang kami, kursi bergerak semakin kencang.

"Marni."

Suara anak kecil memanggil dari dalam rumah.

Nala meronta.

"Teteh!"

Ia menoleh melewati bahuku.

Tubuhnya mendadak berat. Aku hampir menjatuhkannya. Sinta menarik kami keluar, lalu menutup pintu tanpa menguncinya.

Kami berhenti di tengah halaman. Aku tidak melihat ke belakang. Sinta berdiri menghadapku, jadi aku tidak langsung sadar ia sedang melihat melewati bahuku.

Wajahnya berubah.

"Sinta, jangan lihat."

Ia tidak berkedip.

"Ada aku di sana," katanya.

"Tutup mata."

"Aku duduk di kursi."

Aku bergerak ke depannya, lalu berhenti sebelum menyentuh. Bahu Sinta masih merah oleh bekas jariku. Kedua tangannya langsung naik setinggi dada ketika aku mendekat.

"Aku enggak akan pegang kamu," kataku. "Lihat kaos aku. Jangan lihat yang di belakang."

Aku menempatkan tubuhku di antara Sinta dan rumah sampai pandangannya tertutup. Pupilnya tetap bergerak tanpa fokus. Ia tersenyum, tetapi sudut bibirnya naik terlalu pelan.

"A, masuk dulu. Dingin."

Suara Bu Marni keluar dari mulut istriku.

Lihat selengkapnya