Aku baru tahu keesokan harinya bahwa Nala membawa satu cangkir mainan dan gambar rumah ke tempat Teh Astri.
Sinta tidak menyadarinya saat memasukkan pakaian. Cangkir itu diselipkan Nala ke saku samping tas. Gambarnya dilipat dan ditaruh di bawah boneka kelinci.
Malam pertama di rumah Astri berjalan normal sampai hampir tengah malam. Nala makan mi rebus, menonton film kartun, lalu tidur di kamar tamu bersama Sinta. Astri tidur di kamar sebelah.
Sekitar pukul 00.20, Astri turun untuk minum dan menemukan empat cangkir tersusun di meja makan. Tiga adalah cangkir keramik miliknya. Satu lagi cangkir kaleng putih bermotif bunga.
Cangkir keempat berisi teh hangat.
Astri mengira Sinta membuatnya. Ia memanggil dari tangga dan tidak mendapat jawaban. Ketika kembali ke meja, salah satu kursi sudah tertarik keluar.
Pada waktu yang sama, Sinta terbangun karena mendengar suaraku dari dalam lemari pakaian.
"Sin. Buka."
Ia meraih ponsel dan meneleponku.
Aku masih duduk di ruang kerja Rumah Nomor 44. Laptop terbuka, tetapi aku tidak menulis. Sejak mereka pergi, rumah terasa lebih tenang. Terlalu tenang. Tidak ada langkah, ketukan, atau suara kursi. Seolah ia menunggu sesuatu.
"Halo?" jawabku.
"Kamu di mana?"
"Di rumah. Kenapa?"
Gagang lemari di depan Sinta bergerak dari dalam.
Aku mendengar bunyinya melalui telepon.
"Ada apa, Sin?"
Suara dari lemari menjawab bersamaan denganku.
"Enggak ada apa-apa. Buka saja."
Sinta mundur sambil membawa ponsel. Nala sudah berdiri di belakangnya. Anak itu memegang krayon kuning.