TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #11

Foto Pak Ujang

Sebelum kembali ke rumah, aku menemui Kang Dadan, ketua RT yang rumahnya berada tiga bangunan dari Nomor 44.

Ia laki-laki sekitar enam puluh tahun dengan kumis tipis dan suara pelan. Ketika kusebut Bu Marni, ia langsung mempersilakan masuk, tetapi rautnya berubah saat melihat ikat kunci.

"Dikasih siapa?"

"Bu Marni. Jumat kemarin."

Kang Dadan tidak langsung menyanggah. Ia meminta melihat kuncinya, membalik cincin perak yang tergantung di antara anak-anak kunci, lalu memanggil istrinya. Teh Imas datang membawa kopi dan ikut berdiri di belakang kursi suaminya.

"Saya ikut mengantar Bu Marni ke rumah sakit hari Selasa," kata Kang Dadan. "Malamnya meninggal. Jumat pagi dimakamkan."

Hari pemakaman sama dengan hari serah terima kunci.

Aku menunjukkan foto dari kamera mobil. Wajah Bu Marni buram oleh cahaya. Pria berseragam di belakangnya lebih jelas, tetapi tidak cukup jelas untuk memastikan usia atau bentuk matanya.

Kang Dadan memperbesar foto itu berkali-kali.

"Mirip Pak Ujang," katanya akhirnya. "Tapi saya lahir setelah beliau meninggal. Saya cuma tahu dari foto. Jangan tulis seolah saya lihat sendiri."

Jawaban itu justru lebih menakutkan karena ia tidak berusaha terdengar yakin.

Ia mengambil dua album dari lemari. Foto pertama yang dibukanya jauh lebih tua daripada keluarga Bu Marni. Rumah Nomor 44 masih berwarna putih dengan taman yang rapi. Di teras berdiri pasangan Belanda dan seorang anak perempuan berambut terang. Pada bagian belakang tertulis dengan tinta cokelat: Keluarga van Aarden, 1932.

Anak perempuan itu memegang perangkat minum teh kaleng bermotif bunga.

Foto berikutnya diambil dua puluh tahun kemudian. Pak Ujang berdiri di depan rumah dengan seragam cokelat. Di sampingnya ada istrinya, Marni yang berusia sekitar sebelas tahun, dan Rini yang memegang perangkat minum teh yang sama.

"Jadi alat main itu bukan punya Rini dari awal," kataku.

"Mungkin barang rumah," jawab Kang Dadan. "Dari dulu banyak barang enggak pernah keluar."

Teh Imas menunjuk perempuan Belanda dalam foto pertama.

"Kata ibu saya, keluarga ini pergi mendadak. Ada anak hilang atau sakit, ceritanya beda-beda. Zaman dulu orang kampung enggak berani banyak tanya."

"Terus rumah pindah ke Pak Ujang?"

Kang Dadan menggeleng.

"Enggak langsung. Pak Ujang awalnya cuma ikut menjaga. Ada surat jual beli setelah merdeka, tapi saya enggak pernah lihat. Yang tahu mungkin notaris Bu Marni."

Tentang malam 1955, pengetahuan Kang Dadan sama tidak lengkapnya. Ayahnya pernah mengatakan ada tiga orang datang ketika listrik mati. Tetangga lain menyebut sengketa tanah. Versi yang beredar di warung menyebut perampokan. Tidak ada seorang pun yang bisa menjelaskan mengapa dua anak dikunci di gudang atau siapa yang menutup ventilasinya.

"Kalau soal Bu Marni enggak menikah?" tanyaku.

Lihat selengkapnya