Bu Diah, notaris yang namanya tercantum pada berkas Bu Marni, menelepon tidak lama setelah aku kembali. Kang Dadan sudah menghubunginya dan mengirim foto kuitansi pondasi.
"Saya belum bisa datang malam ini," katanya. "Tapi saya punya pindai beberapa dokumen lama. Jangan anggap semuanya sah secara hukum. Berkas rumah itu bolong-bolong."
Ia mengirim dua puluh tiga halaman.
Dokumen pertama adalah gambar kerja rumah tahun 1928. Nama pemesannya Cornelis van Aarden. Nama arsiteknya terpotong pada hasil pindai. Pak Ujang tercatat sebagai salah satu pekerja kebun yang kemudian ditugaskan merawat rumah. Pada setiap sudut pondasi ada ruang kecil berbentuk persegi. Keterangan berbahasa Belanda di sampingnya diterjemahkan pada lembar terpisah.
Sebagian besar terjemahannya hilang karena tepi lembar terbakar. Yang tersisa hanya dua kata: empat ruang, lalu angka sebelas yang diulang pada setiap sudut.
Hal yang paling aneh justru bukan empat ruang tersebut. Garis bangunan di sudut timur laut tidak membentuk kamar. Garis-garisnya berhenti mengelilingi sebuah kotak kosong, seolah arsitek sengaja menghindari menggambar bagian tengahnya. Ukuran pada sisi luar dan dalam juga berbeda hampir satu meter, sama dengan hasil pengukuran Sinta pada hari pertama.
Dokumen berikutnya berasal dari 1949. Pak Ujang membeli rumah dengan cicilan yang nilainya tidak masuk akal murah. Surat tambahannya mewajibkan keluarga baru merawat seluruh barang lama, termasuk benda yang ditanam dalam pondasi. Pada bagian bawah ada tanda tangan seorang perempuan bernama Johanna van Aarden dan satu kalimat dengan tinta berbeda.
Kalimatnya tidak lengkap. Air telah melunturkan bagian tengah.
Kami tidak membawa L... Jangan buka kamar lama...
Tidak ada akta kematian Lotte. Tidak ada pula nama Lotte dalam daftar keberangkatan keluarga van Aarden. Sebuah laporan tahun 1934 hanya menyebut anak keluarga itu hilang di dalam rumah. Kolom lokasi dicoret berkali-kali sampai kertasnya berlubang.
Kamar timur laut sekarang adalah kamar Nala.
Aku menelepon Sinta lagi. Ia menyuruhku mengirim seluruh dokumen, bukan ringkasannya. Kami membaca beberapa halaman sambil tetap tersambung. Ketika sampai pada nama Lotte, Nala yang sedang tidur di sebelah Sinta mulai menghitung dalam bahasa yang tidak kami pahami.
Ia berhenti pada angka yang terdengar seperti tiga-en-veertig.
Empat puluh tiga.
"Jangan biarkan dia bilang berikutnya," kataku.
Sinta membangunkan Nala sebelum angka terakhir keluar. Nala membuka mata, menangis, lalu tidak ingat apa pun.
Setelah panggilan ditutup, aku berdiri di ruang kerja dengan denah pada ponsel. Kotak sudut timur laut berada tepat di bawah lemari buku, dekat pintu gudang. Salah satu ubinnya sudah retak akibat meja yang digeser pekerja. Dari celahnya terlihat ujung kain merah yang menghitam.
Aku tidak mencabut apa pun. Aku hanya mengangkat serpihan ubin yang sudah lepas dan menyinari rongga dengan senter.
Di bawah lantai terdapat lebih banyak benda daripada yang bisa kulihat sekaligus. Sebilah kujang kecil tanpa gagang. Tiga paku besi hitam sepanjang lengan. Koin berlubang. Lonceng tembaga. Pecahan cermin yang dibungkus rambut. Batu dengan guratan menyerupai mata. Boneka tanah liat tanpa wajah. Semuanya diikat benang merah dan disusun mengarah ke pusat rumah.
Ada sebelas ikatan.
Ketika cahaya ponsel menyentuh ikatan terakhir, seluruh benda bergerak satu sentimeter ke arahku.
Aku mundur dan menutup celah dengan ubin. Dari tiga sudut lain, terdengar logam bergesekan di bawah tanah.
Benda-benda itu bukan hiasan dan bukan sekadar penolak bala. Mereka seperti paku yang menahan empat sisi sebuah perangkap. Jika semuanya dicabut, entah apa yang akan keluar. Jika dibiarkan, apa pun yang sudah berada di dalam juga tidak pernah benar-benar pergi.
Denah menunjukkan akses pemeriksaan yang tidak menyentuh ruang pondasi. Letaknya di dinding gudang, tepat di belakang rak perkakas. Aku memindahkan rak dan menemukan panel kayu yang dicat menyerupai batu. Tidak ada kode rahasia. Tidak ada petunjuk yang sengaja dibuat untukku. Panel itu terlihat karena aku akhirnya memegang denah yang seharusnya sudah kubaca sebelum menyewa.
Di baliknya ada rongga arsip sempit.
Kotak pertama berisi daftar dalam berbagai bahasa dan ejaan. Jadwal rumah. Peraturan menginap. Hal yang harus diingat. Pesan kepada pengasuh. Daftar paling tua ditulis pada kertas berkepala surat keluarga van Aarden.
Tutup kamar Lotte sebelum pukul sembilan.