TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #13

Permainan Pindahan

Sinta tiba empat puluh menit kemudian bersama Teh Astri.

Nala dibaringkan di jok belakang. Tubuhnya hangat dan bernapas normal, tetapi tatapannya kosong. Tangannya menggenggam kunci cadangan Rumah Nomor 44 begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Kuncinya tadi ada di dasar tasku," kata Sinta. "Aku enggak tahu dia ambil kapan."

Teh Astri membawa tas Nala. Dari dalamnya tercium bau teh dan karbol. Ia tidak banyak bertanya. Setelah melihat lemari kamarnya terbuka ke sebuah lorong yang tidak mungkin ada, semua penjelasan akan terdengar sama masuk akalnya.

"Saya tunggu di mobil," katanya. "Kalau setengah jam enggak keluar, saya panggil orang."

"Jangan polisi," jawabku terlalu cepat.

Astri menatap rumah.

"Kalau begitu saya panggil semua tetangga. Biar ramai."

Itu ternyata keputusan yang tepat. Rumah paling kuat ketika kami yakin tidak ada orang lain yang akan percaya.

Sinta menolak membawa Nala melewati pintu depan sebelum aku menjelaskan apa yang kutemukan. Kami berdiri di teras, diguyur gerimis yang tertiup angin. Aku memperlihatkan rekaman yang rusak, denah pondasi, foto dua keluarga, dokumen van Aarden, kliping koran, dan buku besar.

Ketika melihat nama kami, Sinta memejamkan mata.

"Kenapa harus dibawa balik?"

"Tubuhnya ada sama kita, tapi bagian yang sadar sedang main di dalam rumah. Polanya sama di semua daftar. Tahap terakhir selalu selesai di sini. Waktu kita menjauh, rumah bikin jalan lewat gambar dan cangkir yang dia bawa."

"Jadi kita kasih yang rumah mau?"

"Kita jemput dia sebelum permainan selesai."

"Kita? Atau kamu sudah punya rencana sendiri lagi?"

"Aku sempat berpikir aku masuk sendiri. Kalian tunggu di luar. Kalau rumah memang cuma butuh penjaga, aku bisa tinggal dan kalian pergi."

Sinta tertawa sekali. Air matanya tetap mengalir.

"Itu bukan rencana menyelamatkan kami. Itu persis rencana rumahnya. Dia pisahkan kamu, kasih pekerjaan, lalu bikin kamu menyebut penjara sebagai pengorbanan."

"Kalau itu membuat Nala bangun..."

"Berhenti memutuskan harga yang harus kami bayar untuk pengorbananmu. Kalau kamu tinggal, Nala tumbuh dengan ayah yang memilih rumah. Aku hidup bertahun-tahun menjelaskan kenapa keputusan itu katanya demi kami. Kamu tetap mengambil hidup kami, cuma dari jauh."

Aku tidak punya jawaban. Rumah sudah memberiku jawaban yang terdengar mulia, dan Sinta baru saja memperlihatkan bagian yang sengaja disembunyikannya.

Sinta menggeser Nala dalam pelukannya.

"Dengar aku baik-baik, Raka. Kalau kita masuk, enggak ada satu langkah pun yang kamu putuskan sendiri. Kamu tahu aturan, kamu bilang. Kamu takut, kamu bilang. Kamu enggak tahu, kamu juga bilang. Jangan lindungi aku dengan bohong lagi."

Ia menarik napas sebelum melanjutkan.

"Dan jangan pegang aku tanpa bilang dulu. Kecuali Nala dalam bahaya."

"Iya."

"Bukan iya supaya aku diam."

"Aku mengerti. Aku akan jaga jarak selama kamu minta."

"Aku belum yakin. Tapi kita enggak punya waktu."

Kami masuk bersama.

Lihat selengkapnya