Gelap menelan rumah.
Beberapa detik kemudian, ketukan terdengar dari pintu depan.
"Petugas PLN! Ada gangguan jaringan!"
Suara lain menyusul.
"Polisi! Kami dapat laporan ada anak diculik!"
Teh Astri membunyikan klakson dari luar pagar. Suaranya terdengar jauh, seperti datang dari ujung terowongan.
Aku menyalakan lampu ponsel. Baterainya 44 persen. Angka itu berkedip meski ponsel tidak sedang diisi daya.
Nala bangkit dari sofa. Matanya masih kosong. Ia berjalan menuju tangga.
Sinta mengangkatnya.
"Kita ke mana?" tanyanya.
Pertanyaan itu ditujukan kepadaku, tetapi bukan permintaan agar aku memimpin sendirian.
Aku membaca daftar dengan cahaya ponsel.
"Aturan tujuh bilang gudang. Tapi pintunya sudah terbuka. Aturan tiga bilang jangan ditutup."
"Berarti kita enggak mengunci diri."
"Iya. Kita biarkan pintunya terbuka."
Kursi goyang mulai bergerak.
Kriiit. Kroook.
"Aturan empat," kataku. "Keluar rumah. Jangan menoleh."
Kami bergerak menuju pintu belakang karena pintu depan digedor. Sinta menggendong Nala. Aku berjalan di belakang mereka sambil memegang daftar dan kunci.
Suara dari kursi memanggil.
"Raka."
Kali ini suara Sinta.
"Jangan tinggalin aku."
Sinta yang asli berada satu langkah di depanku. Aku menatap punggungnya dan terus berjalan.
Suara berganti menjadi Nala.
"Ayah, sakit."
Nala berada dalam pelukan Sinta. Tubuhnya tidak bergerak.
Kami keluar melalui pintu belakang, melintasi halaman, dan membuka pagar samping. Aku bisa melihat Teh Astri berdiri di jalan sambil memegang ponsel. Di belakangnya beberapa tetangga mulai keluar rumah karena bunyi klakson.
Satu langkah sebelum mencapai Astri, kakiku menginjak lantai teraso.
Kami kembali berada di ruang tamu.