TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #15

Anak yang Menunggu Suara Burung

Aku mendarat dengan lutut menghantam lantai batu. Ketika mengangkat kepala, gudang sudah berubah.

Sayatan di bagian luar lengan kiriku masih merembes di bawah handuk yang diikat Sinta, tetapi kainnya belum penuh darah. Jari-jariku bisa digerakkan dan kepalaku tetap jernih. Luka itu menyakitkan, bukan mematikan. Aku tahu perbedaannya dan tidak lagi perlu membesar-besarkan rasa sakit untuk terlihat sebagai orang yang paling berkorban.

Tidak ada rak cat atau kardus modern. Dinding dipenuhi debu batu bara. Lampu minyak kecil menyala di sudut, menghasilkan asap tipis. Dari balik pintu terdengar benda-benda pecah dan orang berteriak.

Di empat penjuru ruangan, benda-benda pusaka menembus lapisan waktu. Besi hitam, kujang kecil, koin, lonceng, batu bermata, dan pecahan cermin tersusun di dalam ceruk pondasi. Sebelas benda pada setiap sudut mengarah kepada kami. Sudut timur laut terbuka. Salah satu ikatannya putus dan menyisakan ruang kosong.

Di balik ruang kosong itu terlihat kamar lain yang tidak berasal dari tahun 1955. Dindingnya memakai kertas bermotif burung biru. Seorang anak berambut terang berdiri membelakangi kami sambil menghitung sudut dalam bahasa Belanda.

Tiga-en-veertig.

Empat puluh tiga.

Sebelum ia mengucapkan angka berikutnya, lapisan dinding batu menutup kembali.

Garis tempat kamar itu menghilang tidak ikut lenyap. Ada sambungan vertikal pada batu, terlalu lurus untuk retakan dan terlalu rapi untuk bagian gudang. Sinta menyinari sambungan itu dengan ponselnya.

"Ini sisi yang kurang sembilan puluh sentimeter," katanya.

"Kamu yakin?"

"Aku ukur dindingnya dua kali waktu barang datang. Ruang kosongnya bukan di belakang lemari. Ruang kosongnya mengelilingi sesuatu."

Dari balik pintu gudang terdengar langkah Nala berlari. Aku hendak mengejar, tetapi Sinta menahan bagian belakang bajuku setelah mengatakan, "Aku pegang."

Kami keluar dari gudang dan tiba di lorong Rumah Nomor 44 pada tahun 1955. Dindingnya belum dicat krem. Lampu minyak dipasang pada kait besi. Asap dari dapur bergerak mendatar meski tidak ada angin. Di lantai terdapat jejak kaki anak yang dibuat dari debu batu bara.

Jejak itu menuju sudut timur laut.

Semakin kami mendekat, bentuk rumah semakin tidak masuk akal. Lorong memutari satu bidang persegi yang tidak memiliki pintu. Papan lantai di sekelilingnya lebih muda daripada lantai lain. Balok di atasnya juga dipotong lalu disambung, seolah bagian rumah yang lebih baru dipaksa mengelilingi bangunan yang sudah berdiri.

Sinta mengikis plester yang sudah retak dengan ujung kunci. Di baliknya muncul kertas dinding bermotif burung biru.

"Kamar ini lebih tua daripada lorongnya," katanya.

Di ujung lorong tergantung cermin kecil dengan bingkai kayu hangus. Cermin yang sama dengan yang muncul di kamar mandi pada malam terakhir kami. Permukaannya tidak memantulkan kami. Di dalam kaca terlihat halaman pada siang yang terang.

Rumah belum selesai dibangun.

Para pekerja mendirikan dinding luar, memasang atap, dan menggali pondasi. Namun, di tengah tanah yang terbuka sudah berdiri satu kamar utuh. Bentuknya persegi, dengan dinding kusam dan satu jendela tertutup kaca. Kertas burung biru dapat terlihat dari luar. Tidak ada bangunan lain yang terhubung kepadanya.

Aku mengenali pasangan dalam foto Kang Dadan. Cornelis van Aarden berdiri dekat meja gambar. Johanna berada beberapa langkah darinya sambil memegang bahu Lotte. Pak Ujang yang masih muda berdiri bersama para pekerja lokal.

Mereka semua membangun menjauhi kamar itu.

Tidak seorang pun menancapkan paku ke dindingnya. Balok-balok baru dihentikan beberapa sentimeter sebelum menyentuh atap kamar lama, lalu disambungkan dengan pelat besi. Ketika seorang pekerja tidak sengaja menjatuhkan palu ke ambangnya, seluruh orang dalam pantulan berhenti bergerak sampai suara anak berhitung dari dalam kamar mereda.

Adegan di cermin meloncat.

Rumah sudah selesai. Lotte berdiri di depan kamar lama dengan perangkat minum teh di tangannya. Johanna menariknya menjauh. Cornelis menutup pintu dan memasang cermin berbingkai kayu pada sisi luarnya.

Dari balik pintu terdengar seorang anak lain memanggil nama Lotte.

Lotte menjawab.

Pantulan berkedip. Ketika muncul kembali, Lotte sudah berada di balik kaca jendela kamar lama. Ia menempelkan telapak tangan dan terus menghitung. Cornelis serta Johanna memukul pintu dari luar, tetapi gagangnya tidak lagi ada.

"Itu bukan kamar Lotte," bisikku.

"Bukan," kata Sinta. "Kamarnya sudah ada sebelum Lotte tinggal di sini."

Adegan berganti lagi. Pakaian orang-orang berubah dan taman sudah tumbuh. Mungkin beberapa hari berlalu, mungkin satu tahun. Empat lelaki tua duduk pada setiap sudut pondasi. Di depan mereka tersusun benda-benda yang sudah kami lihat di bawah lantai: paku besi, kujang kecil, koin berlubang, lonceng, batu bertanda mata, rambut, boneka tanah liat, dan pecahan cermin.

Sebelas benda untuk setiap sudut.

Pak Ujang membawa daftar dari satu kelompok ke kelompok berikutnya. Cornelis berdiri jauh di belakang. Johanna tidak terlihat.

Di sudut timur laut, benda terakhir belum diletakkan. Seorang lelaki tua menunjuk cermin berbingkai hangus yang masih menutup bekas pintu kamar lama. Pak Ujang menggeleng dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Sunda yang tertelan desis kaca. Hanya beberapa kata yang dapat kutangkap.

"Kaca itu lawangna. Kalau dipindah..."

Lelaki tua menjawab lebih pelan.

"Kalau tidak dipindah, anaknya tetap memanggil. Kalau dipindah, kamarnya bisa mencari pintu lain."

Cornelis memberi perintah. Cermin dilepas.

Saat bingkainya terangkat, telapak tangan Lotte muncul dari sisi dalam dan mencengkeram pergelangan salah satu pekerja. Semua lampu dalam rumah padam. Cermin jatuh. Salah satu sudut bingkainya terbakar tanpa api.

Adegan dalam kaca pecah menjadi potongan pendek.

Johanna berlutut di depan kamar sambil menulis banyak aturan pada kertas yang berbeda.

Pak Ujang menanam ikatan terakhir di pondasi.

Cornelis memaku pintu baru pada dinding yang sudah tidak lagi memiliki lubang.

Lotte berdiri di kamar biru dan mengucapkan angka empat puluh tiga berulang-ulang.

Kemudian Johanna mengambil kembali cermin dari ceruk timur laut. Ia memeluknya sambil menangis dan berjalan keluar rumah. Sebelum mencapai teras, lorong memanjang. Johanna kembali muncul di tempat semula.

Ia mencoba tiga kali. Rumah selalu mengembalikannya ke kamar lama.

Pantulan padam.

Kami kembali melihat wajah kami sendiri pada cermin berbingkai hangus.

Sinta meraba dinding di sampingnya. Susunan batanya membentuk dua lapisan. Lapisan luar mengikuti denah rumah. Lapisan dalam membentuk kotak yang lebih kecil dan jauh lebih tua.

"Keluarga van Aarden enggak membangun kamar di dalam rumah," katanya. "Mereka membangun seluruh rumah mengelilingi kamar yang sudah ada."

"Terus empat puluh empat pusaka itu?"

"Dipasang setelah Lotte hilang. Bukan buat mengusir sesuatu dari rumah. Buat menjaga supaya kamar itu enggak menemukan jalan keluar."

Aku memandang cermin.

"Dan benda keempat puluh empat adalah ini."

Sinta mengangguk.

"Tapi di denah pondasi, tempatnya kosong. Berarti sejak cermin ini dicabut, penahannya enggak pernah lengkap."

Dari balik kaca terdengar Nala menangis.

Permukaannya berubah menjadi jendela kamar biru. Nala berdiri bersama Lotte. Di belakang mereka, sebuah pintu yang tidak terdapat pada denah mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Sinta memukul cermin dengan gagang kunci. Kacanya retak. Pantulan 1933 runtuh dan lorong 1955 terbuka kembali di belakang kami.

Jejak kaki batu bara kini bergerak ke arah gudang.

Kami mengikuti. Kami belum tahu siapa yang pertama membangun kamar lama itu, apa yang hidup di dalamnya sebelum Lotte datang, atau mengapa angka empat puluh empat dapat menutup jalannya. Namun, kami akhirnya memahami kesalahan keluarga van Aarden. Mereka mengira dapat mengurung kamar dengan membuat rumah menjadi penjara. Setiap keluarga sesudahnya justru tinggal di dalam penjara yang sama.

Ketika kami kembali memasuki gudang, malam 1955 sudah menunggu pada detik yang sama seperti saat kami meninggalkannya.

Marni kecil duduk di depan pintu dengan kunci di genggamannya. Usianya sekitar sebelas tahun. Wajahnya basah oleh air mata. Di sebelahnya, Rini menarik napas seperti orang yang tenggelam.

Nala tidak lagi berada dalam pelukan Sinta.

Tubuh anak kami terbaring di lantai, tetapi ada Nala lain yang duduk di samping Rini. Nala yang itu tampak sadar. Ia memegang perangkat minum teh dan kunci rumah.

"Ayah," panggilnya.

Aku bergerak mendekat. Marni kecil menjerit.

"Jangan buka pintu! Kata Ibu jangan buka!"

Di belakang Marni muncul Bu Marni tua. Tubuhnya lebih tinggi daripada yang kuingat. Kepalanya hampir menyentuh langit-langit. Wajahnya berubah-ubah antara Bu Marni, Sinta, dan perempuan dalam foto lama.

Lihat selengkapnya