Kami terbangun di halaman depan.
Aku telentang di rumput basah. Sinta memeluk Nala beberapa langkah dariku. Teh Astri dan Kang Dadan berdiri di luar pagar bersama enam atau tujuh tetangga. Dari cara mereka memandang, kami pasti muncul tanpa melewati pintu.
Balutan darurat pada lengan kiriku sudah hampir penuh darah. Dua lubang bekas paku berada pada sisi berlawanan di bagian luar lengan bawah. Pecahan cermin masih menempel di bahu dan sisi bajuku robek akibat goresan kujang. Sinta tetap menekan balutan sampai Teh Astri berlari masuk dan mengambil alih dengan syalnya. Kang Dadan menelepon ambulans.
"Nala?" tanyaku ketika petugas datang.
"Sadar. Napasnya normal," jawab Sinta. "Sekarang biarkan mereka menolong kamu."
Aku mengangguk dan tidak mengatur urutan apa pun. Petugas mempertahankan tekanan, memasang penyangga, lalu membawaku ke ambulans sebelum darah yang hilang membuat kesadaranku turun lebih jauh.
Langit mulai terang.
Suara burung memenuhi pohon cemara.
Rumah Nomor 44 masih berdiri. Tidak ada kaca pecah, retakan, atau bekas kerusakan. Lampu teras menyala. Pintu depan terbuka.
Di ambangnya berdiri Bu Marni dan Rini.
Bu Marni mengenakan kebaya yang sama seperti saat menyerahkan kunci. Rini memegang perangkat minum teh. Keduanya terlihat padat selama satu detik, lalu cahaya pagi melewati tubuh mereka.
Bu Marni mengangguk kepadaku.
"Terima kasih, A."
Rini melambaikan tangan kepada Nala.
Kemudian mereka tidak ada.
Kursi goyang di dalam rumah mengeluarkan satu bunyi terakhir.
Kriiit.
Tidak bergerak lagi.
Kami tidak masuk untuk mengambil barang pagi itu. Aku dibawa ke rumah sakit. Paku menembus jaringan otot di sisi luar lengan bawah dan menggores permukaan tulang hasta, tetapi luput dari arteri ulnaris serta pembuluh besar lain. Dokter membersihkan kedua jalur luka, menjahit otot yang robek, lalu menutup kulit dengan dua puluh satu jahitan. Tulang hastaku mengalami retak tipis. Saraf di dekatnya tertekan, bukan putus, sehingga jari manis dan kelingking mati rasa selama beberapa minggu.
Dokter mengatakan kalau arah paku bergeser sedikit ke bagian dalam, aku mungkin tidak akan tetap sadar cukup lama untuk keluar dari rumah. Penjelasan itu menghilangkan semua godaan untuk menyebut luka tersebut sebagai lambang keberanian. Aku selamat karena pembuluh utama tidak terkena, karena Sinta langsung memberi tekanan, dan karena ambulans datang cepat.
Nala tidak memiliki luka fisik. Telapak kaki Sinta lecet dan kedua bahunya memar. Ketika perawat menanyakan asal memar itu, Sinta tidak mengatakan semuanya berasal dari rumah. Ia meminta bicara tanpa aku di dalam ruangan.
Aku menunggu di lorong dan tidak mencoba mendengar. Saat perawat memanggilku kembali, Sinta mengatakan ia dan Nala akan tinggal bersama Teh Astri. Ia belum merasa aman pulang bersamaku. Aku mengangguk. Tidak ada kalimat tentang rumah, kerasukan, atau permintaan maaf yang dapat mengubah haknya untuk menentukan jarak.
Sore itu Teh Astri membawa mereka ke rumahnya. Aku tetap satu malam di rumah sakit, lalu tinggal sementara di penginapan dekat sana. Kang Dadan berjanji menjaga agar tidak ada orang memasuki Nomor 44 sebelum notaris datang.
Dua hari kemudian, kami kembali saat matahari sudah tinggi. Kami tidak datang sendiri. Sinta memanggil jasa pindahan yang sama dan meminta enam pekerja, termasuk mandor yang mengantar barang kami dari Jakarta. Kang Dadan berdiri di teras bersama dua tetangga. Teh Astri menjaga Nala di dalam mobil. Tidak ada seorang pun yang masuk ke kamar atau gudang sendirian.
Lengan kiriku berada dalam penyangga. Aku hanya bertugas menunjukkan barang dan tidak diizinkan mengangkat apa pun. Bu Diah datang bersama ahli bangunan tua yang diminta memeriksa pondasi. Empat kepala besi hitam masih berada di sudut luar. Retakan di lantai sudah menutup seperti tidak pernah terjadi, tetapi alat pemindai menunjukkan rongga berisi logam pada setiap sudut.
"Jumlahnya banyak," kata ahli itu. "Kalau mengikuti denah, harusnya empat puluh empat. Ada satu ruang kosong di timur laut."