TOLONG RUMAHNYA DIRAWAT

Indra S Miraj
Chapter #17

Epilog: Nomor Tidak Dikenal

Aku menulis kisah ini enam bulan setelah kami meninggalkan Rumah Nomor 44.

Awalnya untuk diriku sendiri. Setelah membaca ulang, Sinta menyuruhku mengunggahnya. Menurutnya, selama daftar itu hanya diketahui orang yang menemukannya sendirian, rumah akan selalu punya penjaga baru.

Aku mengubah nama jalan, tetapi tidak mengubah aturan. Aku memasukkan semua kesalahan yang ingin kusembunyikan, termasuk alasan kami bertengkar dan fakta bahwa aku hampir menerima tawaran rumah.

Tulisan itu dibaca lebih banyak orang daripada karya apa pun yang pernah kubuat.

Sebagian menganggapnya cerita. Sebagian menanyakan alamat. Beberapa orang mengirim foto kursi goyang mereka untuk bercanda. Aku berhenti membuka pesan setelah seminggu.

Lalu, pada suatu malam pukul 23.31, nomor tidak dikenal menghubungiku melalui WhatsApp.

"Pak Raka? Saya dapat nomor Bapak dari kuitansi lama di rumah yang baru saya kontrak."

Di bawahnya ada foto dapur Rumah Nomor 44.

Kulkas tua itu masih sama. Lantai teraso sudah dibersihkan. Di sebelah foto, pengirim menyertakan gambar selembar kertas kuning dengan tulisan pulpen biru.

DAFTAR BERSIH-BERSIH RUMAH (MINGGUAN)

Tujuh aturan pertama kembali. Aturan tambahan mengenai cangkir, gambar, permainan pindahan, dan poin kedua belas yang kami tulis bersama tidak ada.

Di bagian bawah terdapat poin baru.

8. Kalau ada orang yang pernah tinggal di sini mencoba memperingatkan, jangan percaya. Penjaga lama selalu ingin mengambil rumah ini kembali.

Pengirim mengetik lagi.

"Ini punya Bapak? Istri saya bilang buang saja. Tapi anak saya bilang ada nini baik yang minta disimpan."

Jari-jariku dingin.

Dulu aku akan menjawab sendiri. Aku akan berusaha terdengar tenang, menyusun perintah, dan menganggap semuanya menjadi tanggung jawabku.

Kali ini aku memanggil Sinta.

Ia membaca pesan, lalu membangunkan Nala. Kami bertiga duduk di meja makan. Aku menelepon nomor itu dengan pengeras suara menyala.

Lihat selengkapnya