Tomo dan Gendis

Rini Lestari
Chapter #2

Chapter 2

Di hadapan Gendis saat ini berdiri seorang gadis yang sangat ia kenali. Teman sekelas Tomo yang menjadi salah satu primadona sekolah. Yah, alasannya tentu saja karena gadis itu memiliki standar kecantikan yang dielu-elukan masyarakat Indonesia. Tinggi, kulit putih, wajah cantik, rambut panjang. Untung saja ada keharusan berwajah cantik, kalau tidak, kuntilanak juga berambut panjang dan berkulit putih.

“Eh, Sinta. Ada apa?”

“Emm, anu, Ndis.”

“Anu… anu apa?”

“Emmm, aku boleh minta nomornya Tomo nggak?”

“Hah, nomor Tomo. Kan kamu satu kelas sama dia. Kenapa malah minta nomornya sama aku, minta aja langsung sama orangnya.”

“Yah, kamu tahu sendiri, kan. Tomo itu susah banget dideketin. Anak sekelas aja jarang banget ada yang bisa ngobrol sama dia.”

Gendis tersenyum kecut, matanya kesana kemari mencari keberadaan Tomo yang tidak juga terlihat. Harusnya ia sudah keluar kelas sekarang. “Aduuh, Tomo mana, sih. Cepet keluar dong, aku ngga tahu harus ngomong apa ke Sinta.” Batin Gendis.

“Emmm, gimana ya, Sint. Aku tanya dulu deh sama Tomo, ya. Aku juga nggak enak kalau asal main kasih aja nomornya dia. Tapi pasti dikasih kok, tapi aku tanya dulu sama anaknya, hehe.”

Gendis menangkap raut kecewa di wajah Sinta. Ia yakin saat itu Sinta berharap bisa langsung mendapatkan nomor Tomo tanpa harus melewati izinnya. Padahal, Gendis paham betul jika sahabatnya itu sudah pasti tidak akan membolehkan nomornya diberikan kepada Sinta. Dan karena itulah ia mencoba mencari alasan untuk mengulur waktu.

“Emmm, yaudah deh, Ndis. Kalau gitu nanti kabarin aku ya.”

“Okeeyy, siapp. Pasti langsung aku kabarin kalau Tomo udah ngizinin aku kasih nomornya ke kamu.”

“Tapi Tomo pasti bakalan kasih kan, Ndis?”

“Hah, eh.. oh, iya, pasti, hehe, nanti aku kabarin ya”

“Okey, makasih ya, Ndis. Aku pergi dulu.”

“Iyaah, dadah Sinta. Hati-hati di jalan yaa.”

Hufffttt, Gendis menarik napas panjang setelah Sinta pergi. Sebenarnya ini bukan kali pertama Gendis harus berhadapan dengan siswi sekolah yang jadi penggemar Tomo. Ia sudah beberapa kali ditemui dengan alasan yang sama. Semuanya gadis-gadis cantik sekolah yang punya prestasi. Tapi setiap kali ia menyampaikan keinginan mereka ke Tomo, sahabatnya itu selalu menolak dan tidak mengizinkan nomor Hpnya diberikan.

Gendis bahkan pernah dicuekin teman sekelasnya selama satu bulan karena hal ini. Rasanya jika bisa ia ingin berteriak dan mengatakan “Woi, kalau mau nomornya Tomo, minta sama orangnya, jangan sama aku. Dan kalau kalian mau aku nyampein ke Tomo, dan Tomonya nggak ngasih, jangan salahin aku!!!” Tapi sayang, keturunan Jawa penganut kolektivisme ini tidak pernah bisa menolak jika ada permintaan-permintaan lain seperti itu.

Gendis melanjutkan langkahnya menuju kelas Tomo karena sahabatnya itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan muncul. Ia sudah menyiapkan segala macam sumpah serapah yang akan ia muntahkan saat bertemu Tomo. Tapi setelah masuk kedalam kelas, ternyata ia tidak mendapati siapapun, ruangan itu kosong, tidak ada Tomo disana. Ia pun mengernyitkan dahi bingung. Bertanya-tanya kemana perginya manusia yang selalu datang dan pulang sekolah bersamanya selama 11 tahun itu.

Lihat selengkapnya