Bola sinar raksasa dari ufuk timur keluar dari persembunyiannya dengan malu-malu. Memancarkan cahaya hangatnya untuk memulai kembali kesibukan dunia.
Tapi tidak dengan Nathan. Cowok itu masih bergelung dengan selimut tebalnya yang hangat, tak terpengaruh dengan cahaya mentari yang menerobos masuk melalui jendela kamarnya. Mengenyahkan alarm yang setiap lima menit sekali berdering.
Namun semua itu tak berlangsung lama, setelah alarm sejati benar-benar membangunkan tidurnya dan menghancurkan mimpi indahnya.
“Aden! Bangun, udah jam tujuh!” teriak Bibi, sembari menggoyangkan tubuh majikannya agar bangun.
Nathan terperanjat, “Hah?!” cowok itu langsung mendudukkan tubuhnya, dan dalam keadaan setengah sadar ia mencoba mencari keberadaan ponselnya.
“Argh! Bibi!” geram Nathan, karena lagi-lagi Bibi membohonginya. “Ini baru jam enam, Bi. Ganggu aja,” lanjutnya dengan wajah bete.
Bibi hanya tersenyum geli melihat Nathan yang sedang kesal. “Habisnya Aden susah banget di banguninnya,” jawab Bibi. “Ya udah, sekarang Aden mandi, terus sarapan. Bibi udah siapin sarapan buat Aden.”
“Iya Bi, makasih.”
Bibi hanya mengangguk, dan setelahnya ia langsung pamit keluar dari kamar Nathan.
Setelah Bibi keluar, barulah Nathan menyadari bahwa rumahnya sangatlah sepi. Walau sudah terbiasa dengan situasi seperti ini, tapi entah kenapa ia sering merasa kesepian. Ya, Nathan ingin seperti teman-temannya yang lain, yang memiliki keluarga harmonis. Itu tidak salah bukan?
Nathan mengembuskan napasnya, percuma saja terus-menerus berharap. Karena pada kenyataannya, keluarganya telah hancur bertahun-tahun silam.
Tak mau ambil pusing, Nathan segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Hari ini ia harus sekolah, karena setidaknya disekolah ia bisa melupakan semua rasa sepi yang terus membelenggu hatinya.
Setelah siap, Nathan langsung turun ke bawah untuk sarapan. Di meja makan, Nathan kembali melamun. Rasa sepi itu kembali menyerangnya. Ingin rasanya merasakan sarapan bersama kedua orangtua, berbagi cerita lalu tertawa bersama. Merasakan betapa hangatnya suasana rumah dengan candaan pagi di meja makan ini.
Tapi lagi-lagi, kenyataan selalu tak sesuai dengan harapan. Nathan menunduk lalu memejamkan matanya, mencoba mengusir rasa sepi yang terus menggerogoti hatinya.
“Aden.”
Panggilan itu serta-merta membuat Nathan menoleh dan menemukan Bibi yang sudah duduk disebelahnya. “Iya, Bi.”
“Bibi tahu, Aden pasti pengen seperti temen-temen Aden, kan? Bibi juga tahu, Aden sedih dengan situasi ini. Tapi Bibi yakin, Aden kuat. Bibi yakin Aden bisa lalui semua ini. Aden sabar ya, terus berdoa kepada Tuhan semoga semuanya kembali seperti semula. Dan satu lagi, Bibi minta Aden jangan putus asa. Terus libatkan Tuhan dalam setiap langkah Aden. Karena Bibi yakin, Aden anak yang kuat,” ucap Bibi dengan senyum tulusnya.
Nathan tersenyum, sedikit terenyuh dengan ucapan Bibi. Hanya Bibi yang selalu mengerti keadaannya. Ya, hanya Bibi. Padahal, Nathan selalu berharap yang sekarang ada dihadapannya itu adalah kedua orangtuanya. Tapi harapan itu selalu saja menjadi kenyataan yang pahit bahwa kedua orangtuanya sudah berpisah dan tidak memedulikannya lagi.
“Makasih, Bi. Ya udah, Nathan berangkat ya.”
Dahi wanita yang sudah mulai berumur itu mengerut, “Aden belum sarapan lho, nanti Aden sakit,” ucapnya khawatir. Sedari tadi, Nathan hanya menatap kosong makanan didepannya tanpa berminat untuk memakannya.