Fina duduk diam dengan wajah tegang. Pasalnya, sekarang ia harus duduk satu meja dengan cowok yang selama ini ia hindari. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin berurusan dengan Nathan.
Fina yang pendiam, tidak mudah bergaul, kaku dan tidak tahu caranya memulai pembicaraan tiba-tiba harus berhadapan dengan Nathan. Murid berandal yang suka berulah, perusuh kelas, dan selalu mencari masalah. Sikapnya sangat bertolakbelakang dengan Nathan.
Nathan memang sudah terkenal dari awal masuk sekolah. Terkenal akan kenakalannya, bahkan saat mereka masih menjalani MOS, Nathanlah satu-satunya orang yang selalu melawan kakak-kakak kelas dengan tidak menaati segala peraturan yang telah ditetapkan.
“Ngapain lo liatin gue gitu?” tanya Nathan sinis.
Fina mengerjap, “Si-siapa yang liatin kamu,” jawab Fina gugup. Entahlah, ia sangat takut dengan Nathan. Tapi sekarang ia harus membiasakan diri berdekatan dengan cowok itu setiap hari. Apa ia sanggup menjalaninya?
Nathan mengedikan bahunya. Cowok itu kembali memperhatikan Bu Laila sebelum guru itu mengamuk dan menghukumnya lagi.
Begitupun Fina, ia memilih untuk melakukan hal yang sama seperti Nathan. Daripada memikirkan bagaimana nasibnya satu jam ke depan karena duduk semeja dengan Nathan.
Dan benar saja, belum satu jam bahkan pelajaran Bu Laila pun belum selesai, Fina dibuat jengah dengan kelakuan Nathan. Bagaimana tidak, cowok itu terus mengganggu konsentrasinya, seperti menyenggol lengannya dengan sengaja saat Fina sedang menulis, dan bertanya hal yang membuat Fina tambah pusing.
“Ish! Kenapa cara jawabnya jadi susah banget? Logikanya, kalau X ditambah Y sama dengan tiga puluh lima, berarti X itu tiga puluh, dan Y itu lima. Simpel, kan?” cerocos Nathan kesal karena materi yang disampaikan Bu Laila benar-benar membuat otaknya pusing. Hanya gara-gara X dan Y, satu halaman bukunya habis dengan coret-coretan tak jelas apa artinya.
Fina mendengus. Nathan benar-benar mengganggunya, dan itu membuatnya tak bisa mengerjakan soal yang Bu Laila tulis di depan. “Kamu bisa diem gak? Ikutin aja yang Bu Laila ajarin,” protesnya kesal.
“Nathan! Saya liat kamu gangguin Fina terus. Sekarang kerjain soal ini!” tegur Bu Laila sembari menunjuk satu soal dipapan tulis dengan spidol dan menatap Nathan tajam.
Nathan ketar-ketir, pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling ia benci. Inilah alasan kenapa ia masuk ke kelas IPS, selain otaknya tak sampai untuk menjadi anak IPA, ia juga membenci segala rumus yang ada dalam pelajaran matematika.
“Hah? Eh, gimana ya, Bu? Saya gak paham, Bu?” ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal.
“Makanya, kalau saya lagi jelasin, perhatikan dan pelajari!” peringat Bu Laila tegas.
Nathan mengangguk, “Iya, Bu,” jawabnya ogah-ogahan.
Baru saja Fina bernapas lega karena Nathan tidak lagi mengganggunya, namun tiba-tiba saja cowok itu menyenggol lengannya yang membuat tulisan Fina jadi tidak keruan.
Astaga, sabar Fina...
Fina mengusap dadanya berusaha sabar. Ini belum sehari, dan Nathan sudah membuatnya dongkol setengah mati. Bagaimana bisa ia bertahan dalam situasi seperti ini selama setahun ke depan?
Nathan menyenggol lengan Fina, lagi. “Gue pinjem pulpen dong. Pulpen gue habis,” ucapnya enteng tanpa rasa bersalah.
Habis sudah. Habis semua kesabaran Fina dalam menghadapi Nathan. Berulang kali Fina menulis, hapus, menulis lagi dan begitu seterusnya sampai ia tertinggal materi pelajaran. Dan yang lebih parah lagi, Fina jadi tidak mengerti semua materi yang disampaikan Bu Laila. Dan itu semua gara-gara Nathan.
“Kamu bisa diem nggak sih?” ucap Fina jengah. Ada sedikit keinginan dalam hatinya untuk menjambak rambut cowok dihadapannya itu, tapi pikirannya tidak segila itu. Ia masih cukup waras untuk melakukan kekerasan pada laki-laki. Eh?
“Ck. Gue pinjem pulpen. Pulpen gue habis,” ulang Nathan tak peduli dengan Fina yang emosi karenanya.
Fina memutar matanya, malas dengan semua kelakuan Nathan. “Ambil aja,” sahut Fina seadanya. Ia sudah sangat malas untuk meladeni cowok itu.