Sepulang sekolah, Nathan memilih duduk bersantai di sofa ruang tengah rumahnya. Masih dengan seragam sekolahnya, cowok itu mengeluarkan satu batang rokok dari kotaknya lalu menyalakan pemantik api, dan menyulutkan api itu pada rokoknya. Dia menghisapnya, membuat kepulan asap rokoknya membumbung tinggi di udara.
Dengan merokok, ia merasa semua beban yang ada di otaknya terangkat bersamaan dengan kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya.
“Nathan!”
Suara berat berwibawa itu menginterupsi kegiatan Nathan. Tapi tak lama, cowok itu kembali melanjutkan aktifitasnya tanpa menghiraukan orang yang memanggilnya. Nathan mengacuhkannya. Karena dia sudah sangat kenal dengan pemilik suara itu.
“Apa kamu tidak tahu sopan santun?” tanya Reynald, Papa Nathan. Dia sangat kesal melihat kelakuan anaknya yang sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang anak pelajar.
Nathan mendengus tak suka. Lagi-lagi, ia menghiraukan Papanya. Ia tidak menyukai papanya karena beliau sering memaksanya untuk menuruti kemauannya tanpa memberikan Nathan pilihan. Ya, orangtuanya itu egois dan semaunya sendiri.
“Saya tidak diajarkan tentang itu,” jawab Nathan dengan tenang. Setelah mengatakan itu, Nathan langsung beranjak dari tempatnya menuju kamar. Ia sangat malas jika harus berurusan dengan orang yang selalu ikut campur dalam urusannya.
“Nathan, dengerin Papa!” bentak Reynald, yang membuat suaranya menggema di seluruh ruangan rumah. Wajah pria itu memerah menahan emosi, tapi Nathan sama sekali tidak menghiraukannya dan tidak takut padanya.
“Berhenti berbuat onar di sekolah! Sebentar lagi kamu lulus Nathan!” Reynald semakin geram karena anaknya tidak mau mendengarkannya.
Nathan tidak peduli. Memangnya siapa yang membuat onar di sekolah? Ia tidak pernah merasa melakukan hal itu. Dan kalaupun iya, itu hanya supaya dia mendapatkan perhatian. Itu saja.
“Anda gak punya hak buat ngatur kehidupan Nathan,” jawab Nathan tanpa menoleh pada papanya.
“Kamu itu anak Papa. Papa berhak untuk ikut campur dalam kehidupan kamu!” murka Reynald.
Langkah Nathan terhenti. Cowok itu berbalik dengan senyuman miring sambil menatap dingin ayahnya yang masih berdiri di tempatnya. “Saya kira, Anda telah lupa bahwa Anda masih memiliki anak,” jawab Nathan, menekan seluruh perkataannya seraya menatap Reynald tajam.
Jujur saja, hatinya sakit mengingat bahwa kedua orangtuanya sudah tak lagi memedulikannya. Bahkan bisa saja, dia sudah tidak diinginkan oleh orangtuanya.
“Jaga bicaramu, Nathan!”
Nathan sama sekali tidak menanggapi papanya lagi. Ia memilih mempercepat langkahnya menuju kamar. Dan setelah sampai di kamar, Nathan membanting pintu kamar dengan kasar hingga membuat suara bedebum yang keras memenuhi ruangan rumah. Selalu begitu. Padahal, yang Nathan inginkan bukan seperti ini. Ia ingin percakapan yang ada di rumahnya selayaknya percakapan antara anak dan orangtua lainnya. Yang penuh canda tawa, hangat dan menyenangkan. Tapi ternyata hal itu sangat sulit untuk dilakukan mengingat bagaimana hubungannya dengan papanya.
Reynald menggelengkan kepalanya. Tak tahu lagi harus berbuat apa agar anaknya bisa mengerti padanya. Semua omongannya sama sekali tidak dipedulikan oleh putranya itu.
Sebenarnya Reynald sedih dan kecewa karena dia tidak berhasil mendidik anaknya dengan baik. Ini semua salahnya. Ya, salahnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan tanpa memberikan sedikit waktunya untuk Nathan. Dan sekarang, Reynald sungguh menyesali perbuatannya. Dia tidak akan menyalahkan Nathan karena telah bersikap seperti itu padanya, karena memang semuanya salah dirinya. Andai saja dulu...
Reynald menghela napas, memejamkan mata, lalu berbalik masuk kedalam ruang kerjanya. Andai saja dulu ia bisa mempertahankan keharmonisan keluarganya. Andai saja dulu ia bisa menjadi kepala keluarga yang baik untuk keluarganya dengan tidak selalu mengutamakan perkejaan. Semuanya pasti akan baik-baik saja sekarang. Dan ya, seperti kata pepatah, menyesal itu kemudian.
Sedangkan dibalik bilik kamarnya, Nathan langsung membanting tubuhnya ke tempat tidur. Ia memandangi langit-langit kamarnya yang berwarna putih dengan tatapan kosong. Kehidupan keluarganya telah hancur saat dia masih duduk di bangku SMP.
Kedua orangtuanya berpisah, dengan alasan yang klise ditelinga Nathan. Hanya gara-gara pekerjaan, mereka memilih jalan perpisahan tanpa mengerti dengan perasaan anak-anaknya.
Yang membuat Nathan semakin membenci orangtuanya adalah mereka sering membeda-bedakannya dengan adiknya. Dan sekarang, yang tersisa hanyalah kebencian terhadap kedua orangtuanya yang ada di hati Nathan.