Hari Rabu yang menyebalkan. Hari ini adalah hari dimana Fina akan terlihat murung dan tidak bersemangat karena ia harus berhadapan dengan pelajaran yang sama sekali tidak disukainya.
“Fin, ngapain lo? Ganti baju ayo!” ucap Tasya sambil menepuk pundak Fina. Pasalnya, sedari tadi Fina malah duduk diam sambil menopang dagu, padahal jam pelajaran olahraga akan segera dimulai.
Fina mendengus, lalu mengangguk lemah. “Ayo,” jawabnya lesu. Ia bangun, berjalan keluar kelas untuk mengganti seragamnya dengan baju olahraga dan setelahnya ia harus ketempat yang benar-benar tidak disukainya. Dimana lagi kalau bukan lapangan.
Fina berjalan gontai. Bukan, ia bukan pemalas, hanya saja Fina tidak menyukai pelajaran olahraga. Lagipula, tidak ada satupun dari pelajaran itu yang Fina kuasai. Bahkan berlari satu putaran saja sudah membuatnya hampir mati kehabisan napas.
Tasya geleng-geleng kepala melihat tingkah Fina yang ogah-ogahan seperti itu. Padahal di pelajaran yang lain, cewek itu akan sangat bersemangat untuk belajar. Dan ia sangat paham kenapa Fina bersikap seperti ini. “Ayo elah, lambat banget kayak lili si siput,” ujar Tasya lalu mendorong tubuh Fina agar mempercepat langkahnya.
Fina menghentikan langkahnya, menatap Tasya yang juga menatapnya heran. “Sya, kalau aku ijin aja gimana?” tanya Fina, meminta pendapat Tasya.
Tasya mengerutkan keningnya, lalu tersenyum mengejek. “Emang lo berani? Liat kumisnya aja udah gemetaran, apalagi minta ijin buat gak ikut pelajarannya.”
Mendengar jawaban Tasya membuat Fina menelan ludahnya. Bayangan akan bagaimana tatapan yang akan dilayangkan oleh gurunya itu saat ia meminta ijin. Ya Tuhan... Fina jadi merinding sendiri membayangkannya.
Fina memang tidak berani pada guru olahraganya. Apalagi kumisnya, yang kalau sedang marah gerak-gerak naik-turun. Guru legend selain pak Tono dan Bu Laila. Mr. Kumis beracun, itulah panggilan dari para murid untuknya. Guru yang tak segan-segan menghukum muridnya yang tidak mau menaati peraturan yang telah dibuat olehnya.
Pak Riyo namanya. Guru berumur setengah abad, tapi ketegasannya patut diacungi jempol. Berkumis tebal, tatapan mata yang tajam yang mampu bikin bulu kuduk berdiri, dan lagi, kalau punya penyakit jantung, jangan coba-coba berurusan dengannya.
“Nggak.” Fina nyengir, lalu menggaruk belakang kepalanya.
“Yaudah, kalau gitu ayo ganti baju sebelum Pak Riyo ngamuk-ngamuk. Bisa gawat nanti.”
Setelah mengganti seragamnya dengan baju olahraga, Fina dan Tasya langsung bergegas menuju lapangan. Disana, para murid laki-laki sudah berada di tengah lapangan, bermain permainan bola basket.
Seperti biasa, lapangan akan dikuasai oleh para murid laki-laki. Dan sepertinya mereka akan lebih senang ketika pelajaran olahraga berlangsung karena mereka bisa dengan bebas bermain. Berbanding terbalik dengan Fina yang hanya berdiri dengan lesu dipinggir lapangan.
Tasya menyenggol lengan Fina, membuat si empunya menoleh padanya. “Giliran pelajaran matematika aja, semangat empat lima. Giliran pelajaran olahraga? Udah kayak orang kekurangan ion,” cibirnya yang tak digubris sama sekali oleh Fina.
Karena kesal dengan ocehan Tasya, Fina memilih mengedarkan pandangnya kearah lapangan dimana para cowok sedang asik memperebutkan satu bola besar berwarna oranye itu. Dalam pikirannya, kenapa mereka tidak membawa bola sendiri dari rumah, daripada harus berebutan seperti itu. Mempersulit hidup saja, pikirnya.
Mata Fina lalu tertuju pada satu objek. Dia, seorang cowok yang selama ini ia hindari mati-matian, tapi sekarang malah menjadi teman sebangkunya. Ya, Nathan. Siapa lagi.
Fina menelan ludahnya ketika menyadari bahwa Nathan itu... euwh, sebenarnya Fina tidak mau mengakuinya, tapi jujur Nathan terlihat sangat tampan sekarang. Rambut hitamnya berubah kemerahan terkena sinar matahari. Tatapan matanya yang tajam, rahangnya yang tegas dan lehernya yang basah karena keringat, membuat Fina tak bisa mengalihkan pandangannya. Apalagi melihat cowok itu beraksi dengan bola besar ditangannya, menghalau musuhnya dan dengan mudah mencetak skor untuk timnya.
Tasya mengerutkan keningnya ketika mendapati Fina yang terus diam dan menatap lurus ke tengah lapangan. Dan senyuman pun terbit di bibirnya ketika ia menyadari siapa yang sedang diperhatikan oleh temannya itu.
Tasya menyenggol lengan Fina, membuyarkan semua pikiran Fina tentang Nathan. “Bener kan apa yang gue bilang, lo pasti suka sama Nathan,” ujarnya sambil terkekeh geli.
Fina memalingkan pandangannya, “Apaan sih, Sya. Siapa juga yang suka sama dia,” elaknya. Namun tak ayal itu malah membuat hatinya bertanya-tanya, apa benar ia menyukai Nathan? Tapi, tak mungkin. Nathan adalah cowok yang akan terus ia hindari sampai kapan pun.
Mungkin saja itu hanya perasaan takjubnya saat melihat Nathan. Karena Fina pun sudah mengakui kalau Nathan itu ganteng. Tapi sayang, cowok itu biang masalah dan Fina tidak suka bermasalah.
“Iya deh, iya. Tapi gue mulai mencium aroma-aroma kuncupnya bunga cinta,” kata Tasya sembari mengibas-ngibaskan tangannya didepan hidung dan mengendus-endus layaknya seorang peramal yang sering Fina lihat di televisi.
“Cinta Mbah mu!” geram Fina, lalu meninggalkan Tasya yang masih terkekeh geli karena berhasil membuatnya kesal.