Aura ruangan kantin tiba-tiba saja berubah ketika Nathan dengan tampang songong menghampiri Dino, si ketua OSIS, yang sedang berjalan sambil membawa nampan berisi makanan. Aura permusuhan mereka masih membara, tapi tak ada satu pun siswa yang tahu penyebab utama yang membuat dua orang paling berpengaruh di SMA Dwisaka itu bermusuhan.
Nathan menatap tajam kearah Dino, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan wajah datarnya. Dino sudah terbiasa dengan sikap Nathan, yang tidak akan berhenti mengganggu sampai rivalnya mengakui kehebatannya. Dan Dino tak akan melakukan itu.
“Oh, jadi ini ketua OSIS kebanggaan sekolah kita? Apa yang mau dibanggain? Penampilannya aja cupu kayak gini,” ucap Nathan sembari menatap Dino dari atas sampai bawah, yang sebenarnya hanya untuk memancing kemarahan Dino.
Semua orang yang ada kantin memperhatikan mereka. Bagi sebagian siswa, melihat Nathan adu jotos sudah biasa, yang mereka tunggu adalah kemarahan Dino. Cowok itu tidak pernah sekalipun terlibat pertengkaran seperti Nathan, dia sangat menjaga nama baiknya di mata para guru dan sekolah. Apalagi jabatannya sebagai ketua OSIS, sudah pasti Dino akan sangat menjaga image-nya.
Dino tidak terpengaruh. Dia mengedikan bahunya lalu dengan santai melenggang melewati Nathan sambil membawa nampan berisi makanannya yang baru saja ia pesan.
Sebenarnya penampilan Dino tidak cupu, justru cowok itu mencontohkan bagaimana penampilan seorang pelajar yang sesungguhnya. Tidak seperti Nathan yang urakan.
Dasi yang harusnya diikat dileher, Nathan memakainya di kepala. Seragam yang harusnya dimasukkan kedalam celana, Nathan malah sengaja mengeluarkannya. Ditambah, dua kancing baju bagian atas sengaja dibuka yang menampilkan siluet tubuh atletisnya yang dibalut kaus berwarna hitam.
Nathan murid tidak tahu aturan, dan selalu berbuat semaunya. Sedangkan Dino, murid baik-baik, anak organisasi yang tentunya menjadi kebanggaan para guru. Itulah yang membuat mereka selalu berseteru dan tidak akan pernah akur.
Nathan belum puas, karena Dino masih bersikap santai dan belum menunjukkan kemarahannya. “Cih! Gue tahu lo jadi ketua OSIS juga Cuma buat pencitraan, kan? Lo pengen keliatan baik di mata guru. Sok-sokan baik, padahal Cuma pengen terkenal.”
Dino mengepalkan tangannya kala Nathan yang menyangkut pautkan jabatannya dalam urusan pribadi mereka. Dino berdiri dari tempatnya, lalu menatap Nathan dengan tatapan tajamnya.
Nathan tersenyum, itu yang dia tunggu-tunggu. “Kenapa? Lo tersinggung? Kalau tersinggung berarti bener,” ledek Nathan setelah Dino berada dihadapannya dan bersiap untuk menghajarnya kapan pun.
Dino mengepalkan tangannya, tapi sebisa mungkin ia mengatur emosinya. Dia mengembuskan napasnya, lalu tersenyum. “Gue gak nyangka ada cowok yang mulutnya kayak mulut cewek. Gaya doang kayak preman, tapi mulutnya... jadi lady boy aja deh lo sana,” balas Dino tak mau kalah.
Nathan mengepalkan tangannya, lalu menarik kerah baju Dino. “Jaga mulut lo, bangsat!”
Dino mendorong tubuh Nathan, sudah cukup cowok itu menghinanya dan sekarang ia tidak akan tinggal diam. “Kenapa marah? Oh, atau tersinggung? Tersinggung berarti bener,” jawab Dino menirukan gaya bicara Nathan.
Dino masih bersikap tenang seperti biasa, berbeda dengan Nathan yang sudah tersulut emosi. Dan Dino hanya tersenyum ketika Nathan terprovokasi oleh perbuatannya sendiri. Dia yang mulai, dia juga yang kesal.
“Shit!”
Bugh!
Nathan mengepalkan tangannya lalu melayangkan bogeman mentah pada rahang Dino. Membuat para cewek yang berada didalam kantin menutup mulutnya menahan teriakan mereka.
Dino berusaha berdiri sambil menghapus darah yang keluar dari ujung bibirnya menggunakan ibu jari. Ia mengepalkan tangannya, menatap Nathan sambil tersenyum miring.
“Maju lo bangsat!”
Saat Nathan mengambil ancang-ancang untuk menghajarnya kembali, Dino dengan cepat melayangkan bogeman seperti yang tadi dilakukan cowok itu padanya.
Nathan tersenyum, Dino sudah mulai melawannya, itu berarti pertarungan akan segera dimulai. Dan aksi keduanya pun terus berlanjut, tanpa peduli dengan penampilan mereka yang sudah sangat memprihatinkan.
***
Fina berlari secepat mungkin saat mendengar bahwa Dino dan Nathan bertengkar. Fina tidak ingin sahabatnya kenapa-kenapa. Dan lagi, kenapa Dino sampai bertengkar dengan Nathan? Padahal sebelumnya cowok itu tidak pernah terlibat pertengkaran.
Saat Fina sampai di kantin, suasananya sudah sangat ramai dan sesak. Fina mendengus kesal karena mereka yang ada di sana malah asik menonton tanpa ada yang berusaha melerai. Dikira pertunjukan topeng monyet apa? Dimana rasa manusiawi mereka? Fina bahkan tidak yakin bahwa orang-orang yang ada disini masih memiliki hati, melihat kelakuan mereka yang seperti ini.