Raihan, Al dan Nathan sedang berkumpul di meja Nathan. Al duduk disebelah Nathan, tempat duduknya Fina, sedangkan Raihan duduk di atas meja.
“Gue perhatiin, sejak lo duduk sama Fina, lo banyak berubah bro,” ujar Raihan yang duduk di atas meja Nathan, sambil mengemut permen gagang kesukaannya.
Nathan mendengus, “Emangnya gue power rangers, bisa berubah,” celetuk Nathan tanpa memandang kedua temannya. Ia masih fokus menatap layar ponselnya, walaupun tidak ada yang menarik dari ponselnya itu.
“Tapi Raihan bener. Lo banyak berubah jadi lebih alim sekarang, jangan-jangan...” Al menaik-turunkan alisnya lalu menyikut lengan Nathan.
“Jangan-jangan apa?” Nathan menatap Al tajam.
“Jangan-jangan... Lo demen-demen kuda sama Fina,” lanjut Al, tak peduli dengan tatapan tajam Nathan.
Nathan memutar matanya, lalu mendengus. “Gak banget,” cibirnya.
Raihan mendekatkan wajahnya pada Nathan, membuat cowok itu memundurkan kepalanya. “Hati-hati mamen, sekarang lagi jamannya kemakan omongan sendiri,” ucapnya lalu menjauhkan kembali wajahnya dari Nathan.
“Gak akan!”
“Iya deh, iya. Tapi inget, jangan lupa kasih tahu kita kalo lo beneran kemakan omongan sendiri,” ujar Al dengan wajah menyebalkan di mata Nathan.
Nathan tak menggubris ocehan kedua temannya, ia memilih mencolok kedua telinganya dengan earphone lalu menyalakan musik keras-keras agar ocehan kedua temannya itu tak lagi ia dengar.
Tapi satu hal yang mengganggu pikiran Nathan. Setelah kejadian itu, sepertinya Fina jadi menjaga jarak dengannya. Dan itu membuat Nathan gelisah entah karena apa.
“Gue gak sabar pengen liat waktu itu tiba. Saat-saat dimana lo kemakan omongan lo sendiri, Than,” ucap Al sambil menepuk-nepuk pundak Nathan.
Nathan samar-samar mendengar ucapan Al, tapi ia tak peduli. Toh, ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Fina. Tapi lagi-lagi, hatinya ragu. Apa benar ia tidak memiliki perasaan apapun, sementara ia sangat tidak suka ketika ada orang yang mencoba menyakiti Fina? Atau mungkin, itu hanya perasaan kasihan saja?
Sementara di meja paling belakang, Fina diam-diam memperhatikan Nathan dan teman-temannya yang sedang asik mengobrol. Sebenarnya ia penasaran dengan obrolan para cowok itu, tapi mana mungkin ia bergabung dengan mereka. Dan juga setelah kejadian itu, Fina memilih untuk menjaga jaraknya dengan Nathan. Ia tidak mau ikut campur lagi dalam urusan cowok itu.
“Fin, lo lagi ada masalah ya? Gue perhatiin, kok lo ngelamun terus sih,” ujar Tasya, memastikan. Tidak seperti biasanya Fina melamun saat bersamanya. Dan itu membuatnya yakin bahwa ada yang sedang Fina sembunyikan darinya.
Fina menoleh, menatap Tasya sebentar sebelum mengalihkan pandangannya. “Nggak,” sahutnya berbohong. Ia terpaksa berbohong, karena tidak mungkin menceritakan kejadian memalukan itu pada Tasya.
“Udah deh, gak usah bohong sama gue. Lo lagi ada masalah kan?” Tasya tahu Fina sedang mencoba membohonginya. Ah, Fina bukan pembohong andal dalam hal bohong-membohongi.
“Semua orang juga pasti punya masalah, Sya,” elak Fina.
Tasya mendengus, ia tahu semua orang pasti punya masalah, tapi yang ia inginkan adalah Fina cerita padanya tentang masalahnya. Siapa tahu dengan Fina cerita padanya, ia bisa sedikit membantu cewek itu. Ya, walaupun tidak banyak.
“Eh Sya, aku boleh minta tolong, gak?” tanya Fina, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tasya memicingkan matanya. Sikap Fina yang seperti ini yang selalu membuatnya kesal. Selalu saja mengalihkan pembicaraan. Tapi kemudian dia sadar, bahwa dia pun tak ada bedanya dengan Fina. “Boleh. Tolong apa?”
Fina mengetuk-ngetuk dahinya, ragu. “Aku mau ke perpustakaan, tapi gak berani sendiri. Kamu mau gak tem—” ucapan Fina terpotong ketika Tasya tiba-tiba saja tertawa. Fina merungut kesal. Ini yang membuatnya ragu, Tasya selalu saja menertawakannya tentang hal ini.
Sudah bukan rahasia lagi kalau memang Fina tak berani masuk kedalam perpustakaan sekolahnya sendirian. Padahal di sana sudah pasti ada penjaga perpustakaan. Dan juga, sekolahnya bukan sekolah yang ada di film-film horor, yang berhantu di setiap sudut sekolah. Tapi sebenarnya bukan itu yang membuatnya takut, hanya saja jika ia sendirian di perpustakaan, Fina selalu merasa ada yang memperhatikannya. Itu sebabnya ia selalu meminta Tasya untuk menemaninya.
“Astaga, Fin... dua tahun lebih lo sekolah disini, masih takut aja lo ke perpustakaan sendiri,” ucap Tasya disela-sela tertawanya.
Fina mendengus, “Aku bukan takut. Aku Cuma gak berani sendirian!” sanggahnya tak terima.
Tasya terkekeh geli. Apa bedanya takut dengan tidak berani? Tapi, sebagai teman yang baik, ia akan menemani Fina. Karena jujur, ia sudah sangat bosan berada didalam kelas. Toh, hari ini Pak Tono tidak masuk.
“Ayo dong, Sya. Bentar doang deh, janji,” ucap Fina memohon. Ia harus ke perpustakaan untuk meminjam buku.