Too Many Boys

Rey Orphan
Chapter #7

00.06

“Akhirnya!”

Fina menutup buku catatannya, membenarkan kunciran rambutnya lalu menghela napas lega. Pelajaran baru saja selesai, dan Fina mulai membereskan barang-barangnya.

Setelah Pak Tono keluar dari kelas, satu persatu siswa pun ikut keluar. Tapi Fina masih diam ditempatnya menunggu semua teman-teman kelasnya keluar terlebih dahulu.

Fina menoleh, melihat Nathan yang masih duduk anteng di tempatnya. Sejak kejadian seminggu yang lalu, ia masih menjaga jaraknya dengan Nathan. Fina tak mau lagi berurusan dengan cowok itu, cukup sebagai teman sebangku saja, tidak lebih.

Dan ketika Nathan menoleh, saat itulah mata keduanya bertabrakan. Keduanya diam. Membuat suasana mendadak canggung.

Tak lama Fina langsung menunduk, memutuskan tatapan keduanya. Entah karena apa, tatapan Nathan membuatnya tak keruan. Ada gejolak aneh, tapi Fina tak mau ambil pusing dengan perasaan itu.

“Lo masih marah sama gue?” Nathan memulai percakapan. Berada di situasi canggung seperti ini sangat membuatnya tak nyaman.

Fina mengangkat wajahnya, lalu menggeleng. “Nggak,” jawab Fina singkat. “Kamu kok belum pulang?” tanyanya basa-basi. Sebenarnya itu hanya caranya saja agar tidak terlihat canggung dihadapan Nathan.

“Males, nanti aja,” sahut Nathan, datar. Dia malah menarik earphone dikolong meja lalu memasangkan benda itu ke telinganya.

Nathan menelungkupkan kepalanya di atas meja, memejamkan matanya tanpa peduli dengan keberadaan Fina yang tidak bisa kemana-mana karenanya.

Tanpa sadar, Fina terus memperhatikan Nathan. Mata coklat yang selalu menatapnya tajam, dan wajah yang selalu dingin padanya itu kini terlihat sangat damai, dan polos. Tak bisa dipungkiri, wajah damai Nathan saat tertidur terlihat lebih tampan dari biasanya.

Sepersekian detik berikutnya, Fina menggelengkan kepalanya. Menepis semua pikirannya tentang Nathan. Astaga, bagaimana bisa dia memiliki pemikiran seperti itu?

“Fina, lagi ngapain?” tanya Tasya. Dia menghampiri meja Fina, lalu duduk di atas meja itu.

Fina terlonjak, terkejut sekaligus takut kalau Tasya tahu ia sedang memperhatikan Nathan. Tahu sendiri kan kalau cewek itu sampai memergokinya sedang memperhatikan Nathan? “A-aku gak lagi ngapa-ngapain,” jawab Fina gelagapan.

Tasya mengerutkan keningnya, “Kenapa lo?” tanyanya bingung, ketika melihat kegugupan Fina.

“Siapa? Aku?” Fina balik bertanya sembari menunjuk dirinya sendiri. “Aku gak apa-apa,” lanjutnya.

Tasya mengibas-ngibaskan tangannya, tak peduli. “Pulang ayo,” ajaknya lalu turun dari meja.

“Kamu duluan aja deh. Aku ada janji sama Dino,” jawab Fina.

Tasya mengangguk, mengerti. “Oh, oke. Gue duluan ya.” Setelahnya, Tasya segera beranjak keluar kelas. Meninggalkan Fina yang masih diam, dan tentunya berduaan dengan Nathan yang belum mengubah posisinya.

Fina kembali menatap wajah Nathan. Ia tersenyum tipis. Ada rasa bahagia dihatinya karena bisa memandangi wajah Nathan tanpa harus mendapatkan tatapan tajam dari cowok itu.

Namun itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya cowok itu membuka matanya dan langsung menatapnya tajam. “Ngapain lo?”

Fina mengerjap, bingung sekaligus takut karena telah tertangkap basah sedang memperhatikan Nathan. “Emm... Nggak. Aku... Aku gak ngapa-ngapain,” jawabnya terbata. Astaga, kenapa tiba-tiba menjadi gugup seperti ini?

Nathan menaikkan sebelah alisnya. Dia tersenyum, lalu sebuah ide untuk mengerjai Fina hinggap di otaknya. “Lo gak lagi perhatiin gue diam-diam, kan?” tuding Nathan, seraya mendekatkan wajahnya pada Fina.

Karena refleks, Fina memundurkan tubuhnya demi menjaga jaraknya dengan Nathan. Tapi sayang, punggungnya telah menempel di dinding dan itu membuat Nathan semakin mempertipis jaraknya.

“Ka-kamu mau ngapain?” tanya Fina panik. Jujur, ia sangat takut sekarang. Apalagi yang ada dihadapannya itu Nathan, yang bisa saja berbuat macam-macam seperti yang dilakukan oleh Barra Minggu lalu.

“Lo diem-diem perhatiin gue, kan?” tudingnya lagi.

Nathan tersenyum picik melihat wajah polos Fina yang sudah pucat pasi dihadapannya. “Ngaku lo,” ujar Nathan semakin memojokkan Fina.

Fina menggeleng kuat, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. “Eng-nggak. Aku gak perhatiin kamu,” jawabnya mencoba membela diri, meskipun jantungnya sudah berdegup kencang akibat cowok itu.

Nathan tiba-tiba tertawa lalu menjauhkan dirinya dari Fina. “Lo pasti mikir yang macem-macem, kan? Sampe pucat gitu muka lo,” ledek Nathan, masih dengan tertawanya. Bahkan, cowok itu sampai merasa geli di bagian perutnya.

Fina melotot. Wajahnya langsung memerah, perpaduan antara malu dan kesal dengan tingkah Nathan. Dia memegang dadanya, didalam sana, jantungnya masih berdetak kencang. Beruntung, jantungnya bukan buatan manusia. Kalau iya, mungkin sekarang Fina sudah sekarat.

Fina hanya menundukkan wajahnya, malu. Jantungnya sudah berdebar tak keruan, dan Nathan hanya mengusili dirinya.

Nathan bangkit dari duduknya, menggendong ranselnya dan bergegas keluar kelas. “Gue tunggu diparkiran,” ucapnya ketika ia berada di ambang pintu kelas lalu menghilang dibaliknya.

Fina diam, mencoba meresapi kata-kata Nathan barusan. Otaknya masih belum mengerti apa maksud dari ucapan lelaki itu. Bahkan hingga cowok itu benar-benar hilang dari pandangannya, Fina masih memikirkan kata itu.


***

Lihat selengkapnya