Fina sudah siap untuk pergi ke acara ulang tahun Dino. Dengan dress selutut berwarna putih, make up tipis natural yang membuatnya terlihat lebih cantik dari biasanya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai ditambah hills sepuluh senti yang membuat tubuh mungilnya terlihat lebih tinggi.
Fina berjalan santai sambil membawa kotak kado untuk diberikan pada Dino. Sesekali ia bersenandung agar tidak merasa kesepian.
Berhubung rumah Dino masih satu komplek dengan rumahnya, Fina memilih untuk berjalan kaki menyusuri jalan yang hanya diterangi lampu jalan. Sebenarnya Fina tidak biasa keluar malam-malam seperti ini, tapi karena Dino, sahabat baiknya sedang berulang tahun hari ini, mau tak mau ia harus keluar dari kamarnya yang nyaman dan hangat.
Sekitar sepuluh menit berjalan, akhirnya Fina sampai disebuah rumah mewah berlantai tiga. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat kondisi rumah Dino terlihat sepi, seperti tidak ada orang di sana. Apa acaranya sudah selesai? Atau dia yang terlalu awal datangnya? Dan berbagai macam pertanyaan pun muncul di kepalanya.
Fina menggelengkan kepalanya, mengusir semua pertanyaan di otaknya dan melangkahkan kakinya ke halaman rumah Dino.
Fina kembali mematung, didepannya pintu bercat putih itu tertutup rapat. Bahkan Fina sama sekali tidak mendengar ada suara orang didalam rumah itu.
“Pintunya kok ditutup? Acaranya beneran hari ini, kan? Dino gak bohongin aku, kan?” Fina terus bermonolog. Ia tidak ingin curiga, tapi melihat kondisi rumah yang sepi, membuatnya curiga kalau Dino hanya mempermainkan dirinya.
“Tapi ini beneran hari ulangtahunnya Dino, kok. Mana mungkin dia bohongin aku.”
Fina mengeluarkan ponselnya dari Sling bag yang ia pakai. Menyalakan benda pipih itu, untuk melihat jam. “Baru jam tujuh. Harusnya acaranya baru mulai, tapi kok sepi banget?” katanya bingung.
Fina mengedikan bahunya, tak ingin berpikir macam-macam. Dengan ragu-ragu, dia mengetuk pintu beberapa kali, sampai pemilik rumah membuka pintunya.
Perlahan pintu terbuka, menampilkan seorang wanita cantik yang Fina tahu usianya seumuran dengan Mamanya, Riana. Fina tersenyum, lalu mencium tangan wanita itu. “Hai Tante, gimana kabarnya?”
“Wah Fina!” seru wanita itu histeris. Raut bahagia terpampang jelas di wajahnya, membuat Fina tersenyum melihatnya. “Akhirnya kamu datang juga. Tante kira kamu gak bakalan datang,” ucap Revalina, Mama Dino, dengan senyuman yang merekah sambil menatap Fina.
“Kamu cantik banget, sayang,” ucapnya lagi, lalu mengelus rambut Fina lembut.
Fina tersenyum canggung, walaupun ia sudah sangat kenal dengan Revalina, tapi tetap saja merasa canggung saat berhadapan langsung dengan wanita itu. Apalagi Revalina selalu menyambutnya dengan penuh kasih sayang seperti ini, membuatnya merasa senang karena diterima dengan baik oleh keluarga Dino. “Tante bisa aja,” jawab Fina sembari tersenyum malu-malu.
“Aku pasti datang kok, Tan. Lagian mana mungkin aku gak datang di hari ulangtahunnya Dino. Dino kan sahabat aku dari kecil, jadi gak mungkin aku gak datang,” lanjut Fina yang entah kenapa membuat senyuman di wajah Revalina menghilang. Atau itu hanya perasaannya saja?
“Eh, ayo masuk. Acaranya mau mulai,” ucap Revalina, mempersilahkan Fina masuk. Dan entah kenapa, Fina rasa itu hanya sebagai pengalihan pembicaraan.
Fina mengangguk, lalu mengikuti Revalina dari belakang. Kebingungan Fina semakin menjadi ketika melihat ruang tengah yang biasa digunakan untuk acara seperti ini, kosong—ralat, sepi maksudnya. Bahkan tidak ada dekorasi ataupun kue ulangtahun di sana.
“Tante, kok sepi? Katanya baru mau mulai, tapi gak ada siapa-siapa disini,” ucap Fina sembari celingukan seperti mencari sesuatu.
Sungguh mengherankan bagi Fina mengingat setiap acara ulangtahun Dino pasti dirayakan dengan mewah, dengan tamu yang luar biasa banyaknya mengingat keluarga mereka bukan keluarga sembarangan. Berbeda dengannya yang hanya merayakan hari ulangtahunnya dengan mamanya.
Ayah Dino, Bagas, adalah pengusaha tambang yang disegani oleh para relasi bisnisnya. Banyak perusahaan-perusahaan kecil yang berdiri di bawah naungannya. Dan karena itulah, Bagas ditakuti oleh para saingan bisnisnya. Sedangkan mamanya, Revalina, adalah pemilik salah satu butik ternama di Jakarta yang bahkan artis-artis papan atas Ibukota memakai rancangannya.
Tapi kali ini benar-benar berbeda. Tidak ada siapa-siapa disini. Tidak ada tamu, tidak ada kue ulangtahun, dan kemana Dino? Kenapa ia tidak melihat cowok itu? Biasanya Dino akan langsung menyambutnya dengan gembira dan mengajaknya meniup lilin bersama.